Cherreads

Chapter 1 - Tanpa nama

"Bekas Pelukmu di Ujung Hujan":

---

Bab 1: Kedai Kopi di Pinggir Senja

Hujan turun tanpa permisi. Awan kelabu menggantung rendah, seolah enggan beranjak dari langit kota yang panas sejak pagi. Di sudut kedai kopi bernama Kala, seorang perempuan bernama Hana menyesap pelan latte di tangannya. Sendirian. Seperti biasa.

Tiga tahun sudah ia menjalani rutinitas ini: pulang kerja, mampir ke kedai kopi, memesan minuman yang sama, duduk di kursi yang sama, lalu pulang saat gerimis mulai reda. Hana bukan tipe yang mudah jatuh cinta pada hal-hal baru. Termasuk orang baru.

Namun malam itu, takdir punya rencana lain.

Pintu kedai terbuka disertai dering lonceng kecil. Masuklah seorang pria dengan jaket kulit hitam basah kuyup. Rambutnya ikal tak karuan. Matanya teduh—tapi teduh yang lelah. Ia melirik sekilas ke arah Hana, lalu tersenyum tipis.

Hana hampir tersedak.

Bukan karena ia tampan (meskipun ia sangat tampan), melainkan karena ia terlalu familiar. Seperti mimpi yang pernah ia lupakan lalu tiba-tiba muncul lagi.

"Maaf," pria itu mendekat. "Ini kursi kosong, kan?"

Hana hanya mengangguk. Ia tak bisa berkata-kata. Ada sesuatu yang menggelitik memorinya saat pria itu duduk di hadapannya.

"Namaku Arga," katanya sambil mengusap rambutnya yang basah. "Aku yakin kita pernah bertemu. Tapi aku lupa di mana."

Hana menahan napas. Tentu saja kita pernah bertemu, Arga. Kamu mantan kekasihku yang kukubur dalam-dalam tiga tahun lalu.

Tapi ia tak mengatakannya. Ia hanya tersenyum pahit.

"Mungkin di mimpi burukmu," jawab Hana lirih.

---

Bab 2: Rindu yang Menyamar

Arga tak menyadari siapa Hana. Kecelakaan dua tahun lalu merenggut sebagian memorinya—termasuk kenangan tentang perempuan yang dulu hampir ia lamar. Tapi anehnya, saat melihat Hana, dadanya terasa sesak. Seperti ada bagian dari dirinya yang merindukan sesuatu yang tak bisa ia ingat.

Mereka mulai bertemu setiap sore di kedai yang sama. Hana tak membuka masa lalu. Ia memilih menjadi orang asing bagi Arga—sebagai bentuk perlindungan. Karena ia tahu, jika Arga mengingat semuanya, luka lama akan terbuka lagi. Dan Hana tak sanggup mengulang rasa sakit ditinggal tanpa kabar selama tiga tahun.

Tapi cinta tak pernah pandai bersembunyi.

Suatu malam, saat hujan kembali turun deras, Arga menggenggam tangan Hana. Hangat. Lembut. Penuh tanya.

"Aku tak tahu kenapa," bisiknya, "tapi setiap kali melihatmu, ada yang bilang 'pulang' di dalam dadaku."

Hana menahan air mata. Ia tahu saat itu: sekeras apa pun ia berlari dari masa lalu, cinta akan selalu menemukan jalannya kembali.

"Kamu sudah pulang, Arga," jawabnya akhirnya. "Kamu hanya lupa bahwa aku yang menunggu di sini."

"Bekas Pelukmu di Ujung Hujan".

---

Bab 3: Memori yang Tak Mau Mati

Arga tidak melepaskan genggamannya. Di kedai kopi yang sunyi karena hujan, ia menatap Hana seperti sedang memecahkan teka-teki yang sudah lama ia hindari.

"Kau tahu sesuatu tentang aku, bukan?" suara Arga parau. "Setiap kali kau memanggil namaku, ada nada yang berbeda. Seperti... kau sudah ribuan kali mengucapkannya."

Hana menarik tangannya perlahan. Bukan karena jijik, tapi karena takut. Takut jika ia membiarkan hangat itu terlalu lama, ia akan lupa bahwa Arga pernah melukainya.

"Kita hanya dua orang asing yang suka kopi dan hujan," jawab Hana diplomatis. "Tidak lebih."

Arga tertawa kecil. "Orang asing tidak akan menangis saat melihatku basah kuyup di pintu masuk."

Hana terhenyak. Ia tak menyadari bahwa matanya berkaca-kaca saat itu. Dasar hati perempuan—selalu membocorkan rahasia yang paling ingin disembunyikan.

"Baiklah," Arga menghela napas. "Aku tidak akan memaksa. Tapi izinkan aku terus datang ke sini. Entah mengapa, di dekatmu, aku merasa... utuh."

Hana hanya mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ia berteriak: Kamu dulu yang memilih pergi, Arga. Sekarang kamu merasa utuh? Lalu aku? Aku yang tiga tahun bertahan dengan serpihanmu?

Ia tidak mengucapkannya. Karena cinta, kadang, juga berarti memilih diam demi menjaga seseorang yang belum siap mendengar kebenaran.

---

Bab 4: Sepucuk Surat yang Tak Pernah Dikirim

Malam itu, sepulang dari kedai kopi, Hana membuka laci meja tidurnya yang paling bawah. Di sana tersimpan sebuah kotak sepatu usang. Isinya: satu lembar undangan pernikahan yang batal, satu gelang perak dengan inisial A&H, dan setumpuk surat yang tak pernah sampai.

Hana mengambil salah satu surat, yang ditulisnya enam bulan setelah Arga menghilang.

"Arga,

Aku tidak tahu kamu di mana. HP-mu mati. Rumah kontrakanmu kosong. Teman kerjamu bilang kamu mengundurkan diri tanpa pemberitahuan. Seperti kamu memang sengaja menghilang. Seperti aku tidak cukup penting untuk diberi satu kalimat perpisahan.

Tapi anehnya, aku masih mencintaimu. Dan itu menyebalkan."

Hana meremas surat itu, lalu membatalkannya lagi. Ia tak pernah punya keberanian untuk mengirim surat-surat itu. Karena mengirimnya berarti mengakui bahwa ia masih berharap. Dan harapan adalah hal paling kejam bagi orang yang ditinggalkan.

Esoknya, saat hujan kembali turun, Hana memutuskan untuk tidak datang ke kedai kopi. Ia butuh jeda. Ia butuh mengingatkan dirinya sendiri bahwa Arga sekarang adalah orang asing yang manis, bukan lelaki yang dulu pernah berjanji setia di depan biro pernikahan.

Tapi pukul delapan malam, ponselnya berdering. Nomor tak dikenal. Ia mengangkat.

"Halo?"

"Ini Arga." Suaranya sedikit gugup. "Kau tidak datang. Aku khawatir. Aku minta nomormu dari pemilik kedai. Maaf jika lancang."

Hana terdiam. Jantungnya berdegup kencang.

"Aku hanya sedang tidak enak badan," jawabnya pelan.

"Kalau begitu, aku boleh datang? Aku pandai masak sup jahe."

Hana hampir tertawa. Lalu hampir menangis. Lalu ia sadar: sekeras apa pun ia berlari, Arga akan terus mengejar. Bukan karena ia tahu masa lalu mereka, tapi karena di alam bawah sadarnya, ia masih ingat bagaimana rasanya pulang ke Hana.

"Jangan," kata Hana akhirnya. "Aku tidak mau kau datang."

"Kenapa?"

"Karena jika kau datang, aku tak akan sanggup berpura-pura lagi."

Sambungan telepon hening cukup lama. Kemudian Arga berkata dengan lembut, "Maka jangan berpura-pura. Biarkan aku tahu siapa dirimu sebenarnya, Hana. Biarkan aku ingat."

---

Bab 5: Pelangi Setelah Badai

Arga tetap datang malam itu juga. Tanpa sup jahe—karena ia berbohong soal pandai masak—tapi dengan sekotak pisang goreng dan mata yang berkaca-kaca.

Hana membukakan pintu. Rambutnya terurai, tanpa riasan, memakai kaus longgar. Ia terlihat seperti dirinya yang paling asli. Dan Arga, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, merasa seperti baru bangun dari tidur panjang.

"Aku melihat fotomu," bisik Arga. "Sebelum kecelakaan, aku menyimpan fotomu di dompet. Ibu memberikannya setelah aku keluar dari rumah sakit. Tapi aku tak tahu siapa kamu. Aku hanya... menatap foto itu setiap malam dan bertanya-tanya mengapa hatiku sakit."

Hana menutup mulutnya dengan tangan. Air mata jatuh.

"Dan tadi malam, saat kau bilang 'jangan datang', tiba-tiba ada suara di kepalaku. Suaramu. Dari dulu. Katanya, 'Arga, jangan pergi. Jangan pergi, aku takut sendiri.' Lalu aku ingat. Sedikit demi sedikit. Aku ingat janjiku. Aku ingat bahwa aku yang memutuskan pergi karena takut menyeretmu dalam masalah keluargaku. Aku ingat bahwa aku menyesal setiap hari sampai kecelakaan itu menghapus semuanya."

Arga melangkah mendekat. Kini air matanya juga jatuh.

"Hana, maafkan aku. Maafkan aku karena terlalu pengecut untuk bilang bahwa aku pergi karena ayahku sakit parah dan aku harus menyembunyikan utang keluarga. Bukan karena aku tak mencintaimu. Itu karena aku terlalu mencintaimu untuk membiarkanmu tenggelam bersamaku."

Hana terisak. Ia memukul dada Arga pelan, berulang kali.

"Bodoh! Kamu bodoh sekali, Arga! Aku tidak peduli utang! Aku tidak peduli ayahmu sakit! Aku cuma perlu kamu bilang, 'Han, aku butuh waktu'. Bukan menghilang seperti hantu!"

Arga merangkulnya erat. Hangat. Seperti dulu. Seperti tidak pernah ada tiga tahun yang hilang.

"Aku di sini sekarang," bisiknya di rambut Hana. "Aku tidak akan pergi lagi. Bahkan jika hujan sekalipun mencoba menghapusku."

Hujan di luar mulai reda. Samar-samar, di sela awan malam, terlihat secercah cahaya bulan. Bukan pelangi—tapi cukup terang untuk menunjukkan jalan pulang.

---

Bab 6: Bekas Pelukmu (Epilog)

Tiga bulan kemudian, Arga dan Hana kembali ke kedai kopi Kala. Kali ini bukan sebagai orang asing yang saling menguji, tapi sebagai dua insan yang memilih untuk memulai ulang.

Arga menggenggam tangan Hana di atas meja kayu. Di jari manis Hana kini ada cincin sederhana—bukan yang dulu, karena yang dulu sudah dijual Arga untuk biaya pengobatan ayahnya. Tapi cincin baru. Dengan ukiran tanggal yang sama: hari pertama mereka bertemu di kedai ini.

"Kau yakin?" tanya Hana, setengah bercanda. "Aku bisa kabur lagi kalau kamu sok pahlawan."

Arga tertawa. "Kalau kau kabur, akan kukejar. Aku sudah hafal rute sembunyi-sembunyimu."

Hana tersenyum. Ia menatap jendela kedai, di mana rintik hujan mulai jatuh lagi. Tapi kali berbeda. Hujan kali ini tidak terasa dingin atau sepi. Hujan kali ini terasa seperti lagu lama yang dinyanyikan ulang dengan nada yang lebih dewasa.

"Arga," panggilnya.

"Hm?"

"Bekas pelukmu di ujung hujan itu... masih terasa sampai sekarang."

Arga menggenggam tangannya lebih erat.

"Maka biarkan aku menggantinya dengan pelukan baru. Setiap hari. Sampai hujan tak lagi punya arti apa pun tanpa kita."

---

TAMAT

---

More Chapters