Keheningan di dalam Mist Palace bukan keheningan yang kosong. Ia adalah keheningan yang berisi—dipenuhi oleh tekanan halus dari sesuatu yang sangat tua, sesuatu yang telah menunggu lebih lama dari ingatan manusia mana pun. Kabut putih bergolak pelan di bawah lantai kristal transparan, seperti lautan yang sedang bermimpi di bawah kaki mereka.
Arlan berdiri dengan punggung tegak, matanya yang tajam menyapu setiap sudut aula raksasa ini. Insting tentara bayarannya bekerja otomatis—menghitung pilar, mengukur jarak, mencari pintu keluar. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak menemukan satu pun celah untuk melarikan diri. Tempat ini tidak memiliki pintu. Tidak memiliki jendela. Hanya ada kabut, batu kuno yang terasa lebih tua dari peradaban mana pun yang pernah ia dengar, dan sosok misterius di ujung meja panjang yang memancarkan ketenangan yang mencekam.
Di sisi lain meja, Evelyn duduk dengan punggung lurus sempurna. Namun berbeda dengan rigiditas mekanis yang biasanya ia tampilkan di jamuan teh Oakhaven, kali ini postur tegak itu adalah perisai yang menutupi kegembiraan yang hampir meledak di dalam dadanya. Matanya yang tersembunyi di balik lapisan kabut kelabu bergerak tanpa henti—mencatat detail arsitektur batu yang tidak masuk akal, pola rasi bintang yang berputar perlahan di permukaan meja, dan sosok misterius di kursi utama itu.
Sosok itu tidak terburu-buru. Ia membiarkan keheningan mengisi ruangan beberapa saat lebih lama, jari-jarinya mengetuk meja dengan irama yang pelan namun terasa seperti detak jantung alam semesta itu sendiri.
"Sebelum kita mulai," suara sosok itu akhirnya memecah keheningan, "ada sesuatu yang harus kalian ketahui."
Suaranya tidak keras, namun langsung mengisi seluruh ruangan tanpa gema—sebuah paradoks yang membuat Arlan sedikit mengerutkan kening dan Evelyn memiringkan kepalanya dengan penuh perhatian.
"Kalian tidak berada di sini karena aku memilih kalian."
Arlan yang dari tadi diam langsung mengangkat kepalanya sedikit. Evelyn menghentikan gerakannya.
"Lalu siapa?" tanya Arlan, suaranya datar dan langsung.
Sosok di ujung meja itu—yang belum memperkenalkan namanya—mengetukkan satu jarinya di atas permukaan marmer. "Mereka yang telah memilih kalian jauh sebelum kalian menyadarinya. Mereka yang telah mengamati, menimbang, dan memutuskan bahwa kalian layak untuk membawa otoritas mereka."
Evelyn merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya saat kata-kata itu diucapkan. Ia teringat pada malam di perpustakaan—dahi hangat yang menempel di dahinya, tatapan mata cokelat yang terlalu dalam untuk seekor anjing biasa. Sunny. Selama berbulan-bulan ia mengira hadiah ayahnya itu hanyalah keberuntungan kecil yang menyenangkan. Namun ternyata, sejak awal, Sunny yang memilihnya.
Di sisi lain, Arlan memikirkan toko gelap Barnaby, sudut paling gelap di ruangan itu, dan sebuah katana berkarat yang memancarkan detak jantung yang sangat samar. Kuro. Ia mengira dirinya yang menemukan pedang itu. Ternyata, pedang itu yang membiarkan dirinya ditemukan.
"Partner kalian," lanjut sosok misterius itu, "adalah entitas yang memiliki kriteria dan keinginan mereka sendiri. Mereka bukan alat, bukan senjata semata. Mereka adalah pihak yang setara dalam sebuah kontrak yang telah kalian ikat dengan cara kalian masing-masing."
"Dan tempat ini?" tanya Evelyn dengan nada yang penuh rasa ingin tahu namun tetap sopan. "Apakah ini juga bagian dari kontrak tersebut?"
"Ini adalah konsekuensi dari kontrak itu," jawab sosok itu. Ada nada tipis yang menyerupai kepuasan dalam suaranya. "Saat sebuah kontrak antara manusia dan partner terbentuk, pintu menuju tempat ini terbuka secara otomatis. Aku hanya menyediakan ruangannya."
Arlan mencerna informasi itu dengan cepat. "Berarti kau bukan yang memiliki otoritas tertinggi di sini. Partner kami yang menjadi kuncinya."
"Kau cepat," sahut sosok itu. Bukan pujian, hanya sebuah pernyataan. "Tapi kau salah dalam satu hal. Di dalam ruangan ini, otoritasku adalah absolut. Partner kalian hanyalah yang membuka pintunya. Aku yang memutuskan apakah kalian layak untuk duduk di meja ini."
Keheningan kecil jatuh di antara mereka. Arlan tidak menjawab, namun pikirannya terus bekerja. Evelyn menyimpan setiap kata itu dengan teliti di dalam memorinya.
"Sekarang," sosok itu kembali bersuara, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda—lebih berat, lebih dalam, seolah-olah ia sedang membuka halaman pertama dari sebuah buku yang sangat tua, "sebelum kita melanjutkan, ada sesuatu yang harus kalian ketahui tentang diriku."
Ia berhenti sejenak. Jari-jarinya berhenti mengetuk meja.
"Di tempat ini, setiap anggota memiliki nama yang melindungi identitas asli mereka. Aku tidak terkecuali. Namun namaku bukan sekadar kode. Ia adalah pengakuan atas apa yang aku adalah."
Udara di dalam Mist Palace terasa berubah. Kabut di bawah lantai kristal mulai bergolak lebih cepat, seolah-olah alam semesta itu sendiri sedang bersiap untuk mendengar sesuatu yang penting.
Sosok itu berdiri perlahan dari kursinya. Gerakannya lambat, namun setiap inci pergerakannya memancarkan tekanan yang membuat udara terasa lebih padat. Bahkan Arlan yang terbiasa menghadapi ancaman nyata merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Panggil aku..."
Suaranya turun menjadi nada yang sangat rendah, namun bergema langsung di dalam jiwa keduanya seperti lonceng yang dipukul di ruang kosong.
"Sang Fool yang tertidur melampaui jangkauan waktu. Sang Pemimpi Tanpa Mimpi di atas singgasana kabut yang tak bertepi. Saksi Pertama yang menggenggam timbangan segala keberadaan."
Hening.
Evelyn merasakan kulitnya merinding. Bukan karena takut, melainkan karena ia merasakan bobot dari setiap kata itu—bukan sekadar gelar, melainkan deskripsi dari sesuatu yang benar-benar ada dan nyata melampaui batas pemahaman manusia biasa.
Arlan tidak bergerak. Namun di dalam dadanya, ia merasakan resonansi yang sama seperti saat ia menyentuh Kuro untuk pertama kalinya—sebuah pengakuan paksa bahwa ada sesuatu di dunia ini yang jauh melampaui skala kekuatan yang pernah ia bayangkan.
"Atau," suara sosok itu kembali naik ke nada santainya yang khas, seolah-olah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat biasa, "kalian cukup panggil aku Mr. Fool. Lebih praktis untuk percakapan sehari-hari."
Evelyn mengerjapkan matanya. Arlan menghela napas sangat tipis.
Sosok itu duduk kembali, kali ini dengan gerakan yang sangat santai—seperti seseorang yang baru saja selesai membacakan menu restoran.
"Sekarang, giliran kalian."
Dari permukaan meja marmer kuno itu, dua buah kartu muncul. Bukan dari laci, bukan dari saku jubah. Kartu-kartu itu tumbuh dari dalam batu itu sendiri, seperti bunga yang mekar dalam gerakan yang sangat lambat. Permukaannya menghadap ke bawah, sisi belakangnya menampilkan pola geometris yang berputar dalam warna hitam dan emas.
Satu kartu meluncur pelan ke arah Evelyn. Satu lagi meluncur ke arah Arlan.
"Sentuh," kata Mr. Fool. Hanya satu kata, namun memiliki bobot yang tidak bisa diabaikan.
Evelyn menatap kartu di depannya. Dari dekat, pola geometris di permukaannya tidak statis—ia bergerak sangat lambat, seperti jarum jam yang berputar dengan kesadaran. Rasa ingin tahunya mengalahkan kehati-hatian. Tangannya terulur.
Ujung jarinya menyentuh kartu itu.
BZZZT.
Sensasi yang sama seperti saat Sunny menempelkan dahinya di malam perpustakaan—dingin, tajam, dan langsung menembus ke dalam tulang. Namun kali ini bukan sebuah visi. Kali ini adalah sebuah pengetahuan yang tiba-tiba hadir, seperti bisikan yang langsung terukir di dalam jiwa.
Tanpa berpikir, tanpa ragu, tangan Evelyn membalik kartu itu.
Di atas permukaan kartu, sebuah gambar terbentuk dari tinta emas yang tampak masih basah—sosok perempuan berjubah putih, duduk di atas singgasana dengan pedang di satu tangan dan timbangan di tangan lainnya. Di bawah gambar itu, sebuah nama tertulis dalam aksara yang anehnya langsung bisa ia baca.
JUSTICE
Dan Evelyn tahu. Bukan karena dipelajari, bukan karena diberitahu. Pengetahuan itu hadir begitu saja, seperti ingatan yang selama ini tersembunyi di balik lapisan buku-buku dan etiket bangsawan. Nama itu adalah cermin dari sesuatu yang sudah lama ada di dalam dirinya—keinginan untuk menemukan kebenaran di balik dunia yang terlalu rapi dan terlalu mekanis untuk menjadi utuh.
"Justice," bisik Evelyn. Suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia harapkan, namun di dalam dadanya ada sesuatu yang baru saja menemukan namanya sendiri.
Di sisi lain meja, Arlan menatap kartunya dengan ekspresi datar. Ia sudah memperhatikan reaksi gadis itu—cara tubuhnya sedikit bergetar saat menyentuh kartu, cara bibirnya membentuk nama itu dengan nada yang hampir seperti pengakuan. Informasi yang langsung ia catat: gadis ini jauh lebih sensitif dari penampilannya, dan ia sangat terlatih dalam menyembunyikan reaksinya.
Arlan menatap kartunya. Ia tidak segera menyentuhnya.
"Apakah ada konsekuensi dari menyentuh benda ini?" tanyanya langsung, matanya terarah ke sosok Mr. Fool.
"Hanya sebuah nama," jawab Mr. Fool. "Bukan kontrak darah, bukan kutukan. Anggap saja sebagai kartu nama yang lebih dramatis dari biasanya."
Arlan mencerna jawaban itu selama tiga detik. Kemudian, dengan gerakan yang presisi dan tanpa ragu, ia meletakkan telapak tangannya di atas kartu.
Sensasinya berbeda dari yang Evelyn rasakan. Bukan dingin—melainkan panas. Panas yang sama seperti saat ia memompa Aura ke titik maksimalnya di atap gedung tua itu, panas yang lahir dari sepuluh ribu ayunan dan ribuan hari latihan yang tidak pernah ada saksinya selain langit Lorgar yang abu-abu.
Arlan membalik kartu.
Sebuah gambar muncul—sosok pria berdiri tegak di atas kereta yang ditarik oleh dua makhluk, satu putih dan satu hitam. Namun kendalinya bukan tali. Ia mengendalikan keduanya hanya dengan kehendak. Di bawah gambar itu, nama yang langsung terbaca oleh matanya.
THE CHARIOT
Arlan merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan—sebuah resonansi yang tenang. Nama itu tidak terasa asing. Nama itu terasa seperti kata yang selama ini ia cari untuk mendeskripsikan seluruh hidupnya: mengendalikan dua kekuatan yang berlawanan—bakat yang biasa dan tekad yang luar biasa—hanya dengan kemauan keras, tanpa tali, tanpa anugerah dari siapa pun.
"The Chariot," ucap Arlan. Suaranya sama dinginnya, namun di dalam dadanya ada sesuatu yang mengendap dengan tenang—seperti batu yang akhirnya menemukan dasar sungai.
Mr. Fool mengetukkan jarinya di atas meja satu kali. Bunyi ketukan itu bergema jauh lebih panjang dari seharusnya.
"Justice. The Chariot." Ia menyebut kedua nama itu seolah-olah sedang mencicipi rasa dari dua kata yang baru saja lahir. "Mulai saat ini, di dalam ruangan ini, itulah satu-satunya nama yang perlu kalian kenali satu sama lain."
Ia bersandar ke kursinya, jari-jarinya kembali mengetuk meja dengan irama yang pelan.
"Sekarang, mari kita bicara tentang aturan. Dan setelah itu..." ada nada tipis yang menyerupai senyum di dalam suaranya, "kalian bebas untuk saling berkenalan."
Di dalam Mist Palace yang dingin dan tak berujung, dua orang yang tidak saling mengenal duduk di meja yang sama, memegang nama baru yang baru saja diberikan oleh takdir. Di luar sana, di dunia nyata yang penuh dengan asap mesin dan etiket bangsawan, Sunny tertidur tenang di karpet kamar Evelyn, dan Kuro bersandar diam di sudut kamar kontrakan Arlan.
Keduanya menunggu. Seperti penjaga yang tahu bahwa pasangan mereka sedang melangkah ke halaman baru dari sebuah kisah yang baru saja dimulai.
