Chapter 5 - The Road Home (Jalan Pulang)
Keesokan paginya, cahaya matahari masuk lewat jendela penginapan. Burung-burung terdengar berkicau samar di kejauhan.
Lian Yuexin masih terbaring di ranjang, rambutnya masih berantakan. Ia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke meja di sampingnya. Tusuk rambut biru yang ia beli semalam masih terbungkus rapi. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Xin‘er, bangun. Kita harus berangkat pagi-pagi kalau mau sampai desa tepat waktu,” suara ayahnya terdengar dari sisi lain kamar.
Lian Yuexin duduk malas-malasan, mengusap matanya. “Aahh... Ayah, rasanya kakiku masih pegal semua...”
Lian Haoyu sudah siap dengan pakaiannya. Dia melirik putrinya sambil tersenyum kecil. “Itu karena kemarin kau terlalu semangat jalan-jalan.”
“Ayah!” Lian Yuexin meringis, lalu tertawa kecil. “Aku kan baru pertama kali ke kota.”
Setelah sarapan pagi di penginapan, mereka memulai perjalanan pulang. Jalanan berbatu terbentang di depan, melewati rumah-rumah warga dan hutan kecil.
Di sepanjang jalan, Lian Yuexin banyak bicara. “Ayah, kalau aku kuat nanti... aku ingin punya toko kecil. Isinya ukiran, manisan, dan kain-kain yang indah. Jadi orang-orang bisa membeli hadiah untuk keluarga mereka.”
“Hmm...” Ayahnya mengangguk pelan. “Kedengarannya menarik. Tapi kau yakin bisa mengurus toko sendirian? Bukankah kau sering tidak sabaran?”
“Eeehh, Ayah!” Lian Yuexin memasang wajah cemberut. “Aku bisa belajar sabar kok! Lagi pula, kalau aku punya toko, Ayah bisa duduk santai dan hanya membuat ukiran saja. Aku yang akan menjualnya.”
Lian Haoyu tertawa pendek. “Kalau begitu, mungkin toko itu akan penuh dengan canda, bukan barang dagangan.”
Hari pertama perjalanan dihabiskan dengan candaan kecil. Kereta kuda mereka melaju dengan kecepatan sedang. Saat hari menjelang sore, mereka berhenti di tepi sungai, makan makanan sederhana yang sudah disiapkan.
Lian Yuexin duduk di bebatuan, kakinya bermain-main dengan air sungai yang jernih.
“Airnya dingin sekali....”
“Jangan main terlalu lama. Kita masih harus melanjutkan perjalanan,” ujar ayahnya.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan sebentar. Lian Yuexin bersandar di pinggir kereta, menatap langit. “Ayah.... kalau aku bisa melukis, aku ingin melukis langit ini. Warnanya cantik sekali.”
Lian Haoyu melirik putrinya sebentar. “Hmm, kau selalu punya banyak mimpi ya, Xin‘er. Tidak ada salahnya, selama kau mau berusaha, mimpi-mimpi itu bisa menjadi kenyataan.”
Hari semakin malam. Bulan sabit menggantung di langit, menyinari perjalanan anak dan ayah itu. Kereta mereka melaju pelan melewati hutan tipis, hingga akhirnya mereka tiba di suatu tempat.
Di sana terdapat sebuah danau, dikelilingi pepohonan yang cukup besar.
“Kita bermalam di sini,” ucap Lian Haoyu, menghentikan kereta.
Angin malam bertiup lembut, membawa aroma segar dari air danau. Lian Yuexin mendekati permukaan air, menatap pantulan bulan.
“Indah sekali....”
Ayahnya menyalakan api unggun. Api itu menghangatkan tubuh mereka di malam hari yang dingin.
“Xin‘er, makan dulu sebelum tidur,” katanya sambil menyerahkan sepotong roti dan daging kering.
Lian Yuexin duduk dekat api unggun, menggenggam roti dengan kedua tangan. “Ayah... suatu hari nanti, aku ingin menjelajahi seluruh dunia. Tidak hanya ke kota, tapi ke tempat-tempat yang jauh. Mungkin ada gunung emas, atau danau yang bercahaya di malam hari....”
Lian Haoyu menatap putrinya, matanya lembut namun sedikit murung. “Dunia di luar sana luas, Xin‘er. Tapi tidak semuanya indah dan aman. Ada banyak bahaya yang mungkin belum bisa kau bayangkan sekarang.”
“Tapi... kalau ayah dan ibu ada di sampingku, aku tidak takut apapun,” jawab Lian Yuexin cepat, dia tersenyum polos.
Api unggun terus berkelap-kelip. Suara serangga malam dan riak air danau menjadi penenang yang alami.
Setelah makan, Lian Yuexin berbaring di kereta, dia menarik selimutnya dan matanya perlahan tertutup.
Ayahnya masih terjaga, duduk bersila sambil mengamati sekeliling hutan dengan tenang. Ia menatap putrinya sesekali, lalu menghela napas panjang. “Tidurlah, Xin‘er... biarlah dunia tetap indah di matamu untuk saat ini.”
Pagi hari kedua, kabut tipis menutupi permukaan danau ketika Lian Yuexin membuka matanya. Ia duduk di tepi kereta, menatap air yang berkilau.
“Wahh... dingin sekali ya pagi ini,” gumamnya sambil menggosok lengan.
Lian Haoyu sudah berdiri di dekat kereta, merapikan barang-barang. Ia melirik putrinya dan tersenyum kecil.
“Bangunlah, Xin‘er. Kita masih punya perjalanan panjang. Mungkin nanti malam atau besok pagi kita sudah sampai di desa.
Lian Yuexin berkedip, lalu menoleh pada hutan, burung-burung mulai terdengar jelas.
Lian Yuexin berdiri di tepi danau, melihat ke arah matahari yang perlahan muncul. “Ahhh.... segar sekali. Pagi hari yang indah...”
“Akan terlalu dingin kalau setiap hari seperti ini,” jawab ayahnya, sambil menutup ikatan kantong barang-barang belanjaan mereka. “dan kita bisa sakit juga.”
“Kalau begitu... sekali-sekali saja. Supaya rasanya istimewa,” balas Lian Yuexin dengan senyum nakal.
Mereka kembali menaiki kereta, melanjutkan perjalanan. Jalan yang dilalu semakin sempit, hanya berupa jalur tanah yang di sisinya ada hutan. Sesekali terdengar suara hewan dari kejauhan, membuat Lian Yuexin merepat sedikit ke ayahnya.
“....Ayah, suara tadi apa?”
“Rusa. Tenang saja, mereka tidak berbahaya,” jawab ayahnya tenang.
Kereta berguncang saat melewati akar pohon yang menonjol. Lian Yuexin berpegangan erat, lalu tertawa kecil. “Kereta ini pasti juga lelah, sama seperti aku.”
Lian Haoyu ikut tersenyum, lalu menunjuk ke depan. “Lihat, Xin’er. Jalannya sebentar lagi keluar dari hutan. Kita akan melewati ladang luas sebelum sampai ke area bukit.”
Begitu keluar dari hutan, pemandangan terbuka menyambut mereka: hamparan padang hijau yang masih tertutup embun, dengan bunga liar bermekaran di beberapa sudut. Langit mulai cerah, awan putih menggantung rendah.
“Waaahhh...” Lian Yuexin menatap takjub. “Seperti permadani hijau, Ayah!”
Kuda mereka berjalan lebih ringan di tanah lapang itu. Namun, angin mulai bertiup kencang, membuat rambut Lian Yuexin berantakan. Dia tertawa sambil menutupi wajah dengan kedua tangan. “Anginnya nakal sekali!”
Perjalanan berlanjut hingga siang. Mereka berhenti sebentar di sebuah gundukan batu besar. Lian Haoyu menurunkan perbekalan mereka, roti, sedikit buah, dan air yang tersisa.
Saat makan, Lian Yuexin berbaring di atas rumput, menatap langit biru tanpa batas. “Ayah.... kalau kita bisa terbang, kita pasti sampai ke desa lebih cepat.”
“Ya,” jawab ayahnya sambil menggigit roti. “Tapi dengan perjalanan seperti ini, kau bisa melihat banyak hal di sepanjang jalan. Bukankah itu juga berharga?”
Lian Yuexin menoleh, lalu mengangguk pelan. “Benar juga. Kalau terbang, mungkin aku tidak akan tahu ada bunga sekecil itu.”
Lian Haoyu menatap putrinya dalam diam, senyum kecil muncul di wajahnya.
Sinar matahari semakin condong, bayangan mereka di atas tanah memanjang. Kereta kuda berjalan pelan, roda-roda berguncang kecil di atas tanah.
Lian Yuexin menyandarkan dagunya di tepi kereta, matanya setengah mengantuk. ” Ayah... rasanya jalan ini tidak ada habis habisnya.”
“Kalau habis, kita sudah sampai,” jawab ayahnya yang masih fokus memegang kendali kuda.
“Hmmm... aku tahu.... tapi tetap saja terasa lama sekali.” Lian Yuexin menghela napas, lalu menoleh pada rerumputan tinggi. “Kalau rumput ini bisa berbicara, mungkin mereka sudah hafal semua orang yang lewat sini.”
Lian Haoyu melirik singkat pada putrinya, lalu tertawa. “Kalau benar begitu, mereka pasti sedang membicarakan tentangmu. ‘Lihat, itu gadis kecil yang selalu cerewet sepanjang jalan.”
“Ayah!” Lian Yuexin langsung duduk tegak, pipinya menggembung kesal. “Aku tidak cerewet, aku hanya... suka bicara aja.”
“Bedanya di mana?”
“Banyak!” Lian Yuexin menekankan nada suaranya, lalu menoleh ke samping, pura-pura tidak mau melanjutkan percakapan. Tapi beberapa detik kemudian, ia sudah tertawa sendiri.
Langit semakin sore, matahari mulai terbenam. Lian Yuexin dan ayahnya masih dalam perjalanan menuju desa. Pemandangan sepanjang jalan membuat Lian Yuexin tidak berhenti berbicara.
Lian Yuexin yang lelah pun duduk miring di kereta, matanya setengah terpejam. “Ayah... aku lapar lagi...”
“Padahal tadi sudah makan,” sahut ayahnya. “Kau itu cepat sekali laparnya.”
“Ya kan tadi cuma roti sama buah. Itu makanan untuk perut kecil, bukan perutku.” Lian Yuexin menepuk-nepuk perutnya sendiri dengan bangga.
Lian Haoyu menggeleng sambil tersenyum kecil. “Kalau begitu nanti kita masak lebih banyak saat sudah di rumah. Kau bisa makan sampai puas.”
“Janji ya!” Lian Yuexin langsung duduk tegak, wajahnya berbinar. “Aku mau sup buatan ibu.... kue manisnya.... ahhhh, aku bisa makan sepuluh kue sekali duduk!”
“Kalau kau makan sepuluh, kau tidak bisa jalan besok pagi,” balas ayahnya datar, tapi wajahnya menahan tawa.
Kereta terus berjalan. Di kejauhan, garis atap-atap rumah mulai terlihat samar di balik pepohonan. Lian Yuexin langsung berdiri di kursinya, berpegangan pada sisi kereta.
“Ayah, lihat, itu desa kita kan?”
Lian Haoyu ikut menoleh sekilas. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Ya, sebentar lagi kita sampai. Ayah pikir kita akan sampai besok pagi, ternyata ocehanmu membuat kita sampai lebih cepat.”
“Ayah! Kau selalu saja membuatku kesal.”
Lian Haoyu hanya tertawa melihat tingkah putrinya.
Saat hendak malam hari, kereta mereka mulai masuk ke jalanan desa. Disambut suara anak kecil yang sedang bermain. Aroma kayu bakar dan masakan membuat perut Lian Yuexin berbunyi pelan.
“Ahhh.... baunya enak sekali... aku benar-benar tidak sabar,” ucapnya sambil mengusap perut.
Beberapa warga yang melihat kereta itu melambaikan tangan. “Haoyu! Sudah kembali rupanya!” seru seorang pria tua dari kejauhan.
Lian Haoyu mengangguk sambil membalas lambaian. “Ya, baru saja sampai.”
Sementara itu, Lian Yuexin sudah setengah berdiri, matanya mencari-cari sosok yang paling ia rindukan. Begitu kereta berbelok melewati jalan lain, ia melihat rumah mereka.
“Ayahhh, itu rumah kita!” teriaknya riang.
Sesaat kemudian, kereta berhenti perlahan. Dari dalam rumah, seorang wanita keluar sambil membawa keranjang. Wajahnya langsung berbinar ketika melihat mereka.
“Xin‘er!”
“Ibu!” Lian Yuexin melompat turun dari kereta tanpa pikir panjang, berlari ke arah ibunya dan langsung memeluk wanita itu erat-erat m “Aku merindukan ibu...”
Ibunya tertawa lembut sambil mengusap wajah putrinya. “Kau hanya pergi beberapa hari, tapi rasanya kau seperti pulang setelah setahun.”
“Ayah selalu menggodaku sepanjang jalan, membuatku kesal,” kata Lian Yuexin dengan suara manja, membuat ibunya semakin tertawa.
Lian Haoyu turun dari kereta, meletakkan barang-barang belanjaan. “Dia ini tidak berhenti bicara, dari berangkat sampai pulang. Kalau jalan terasa cepat, itu karena suaranya yang tidak pernah habis.”
“Lihat ayah, ibu...” Lian Yuexin menoleh dengan wajah cemberut.
Mereka bertiga tertawa bersama malam itu, membuat suasana rumah kembali hangat.
Malam itu, rumah mereka dipenuhi dengan aroma masakan. Ibunya sibuk di dapur, sementara Lian Yuexin duduk di kursi, mengupas bahan dengan wajah malas.
“Ibu, kenapa ini licin sekali? Aku sudah tiga kali hampir jatuh dari tanganku.”
Ibunya melirik sambil tersenyum. “Itu karena kau tidak hati-hati. Kalau kau ingin makan sup hangat, kau harus sedikit bekerja.”
“Ahhhh.... baiklah,” keluh Lian Yuexin, meski akhirnya ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
Suara mendidih terdengar jelas, bercampur aroma sayuran dan bumbu yang mulai matang.
“Xin‘er, tolong ambilkan garam di rak,”
Lian Yuexin bergegas berdiri, tapi hampir menjatuhkan wadah kayu. “Uppss! Hampir saja....” dia menaruh garam ke tangan ibunya dengan senyum kecil. “Ibu, masakan ini pasti enak sekali.”
”Kalau kau tidak banyak mengeluh tadi, supnya mungkin sudah matang lebih cepat,” sahut ibunya sambil tertawa kecil.
Lian Haoyu yang duduk di sudut dapur sedang membersihkan ikan kering menoleh singkat. “Xin‘er itu lebih banyak makan daripada membantu.”
“Tidak benar!” Lian Yuexin langsung membalas cepat, wajahnya merah. “Aku sudah memotong sayurannya, meski bentuknya.... agak aneh.”
”Agak aneh?” ayahnya menatap sisa sayuran yang bentuknya tidak beraturan, “Itu namanya seni yaa?”
“Benar sekali! Seni potongan ala Xin‘er.”
Tak lama kemudian, sup panas, ikan, dan sayuran tersaji di meja. Mereka bertiga duduk bersama. Aroma makanan membuat perut Lian Yuexin berbunyi lagi.
