Cherreads

Chapter 2 - Chapter 2 — “Sisa Hujan”

Hujan belum sepenuhnya berhenti.

Rintiknya masih jatuh pelan, seperti sesuatu yang enggan pergi.

Lina berjalan tanpa arah.

Sepatunya sudah basah. Ujung celananya juga. Rambutnya menempel di pipi.

Tapi ia tidak peduli.

Sudah tidak ada tenaga untuk peduli.

Ia bahkan tidak ingat sejak kapan langkahnya menjadi seberat ini.

Mungkin sejak tadi siang.

Atau mungkin… sejak dua bulan yang lalu.

Saat semuanya mulai terasa tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Langkahnya melambat.

Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul di genangan air di aspal.

Indah.

Tapi dingin.

Selalu dingin.

Lina berhenti di tengah trotoar.

Orang-orang melewatinya. Cepat. Sibuk. Seolah punya tujuan.

Sementara dia—

tidak.

Tangannya menggenggam ponsel di dalam tas.

Ia tahu, di sana masih ada email itu.

Ia belum benar-benar menghapusnya.

Belum siap.

Atau mungkin…

masih berharap.

Dengan gerakan pelan, ia mengeluarkan ponselnya.

Layar menyala.

Email itu masih terbuka.

Kalimat yang sama.

Kata-kata yang sama.

Seolah dunia hanya punya satu cara untuk berbicara padanya.

“Terima kasih…”

Lina tertawa kecil.

Pendek.

Hampir seperti napas yang tersangkut.

“Kenapa harus sopan sih…” gumamnya.

Kalau memang ingin menolak, tolak saja.

Kenapa harus dibuat seolah-olah semuanya baik-baik saja?

Ia menutup layar ponselnya.

Tidak ingin membaca lagi.

Tidak hari ini.

Tidak sekarang.

Angin berhembus pelan.

Membawa sisa hujan.

Dingin itu kembali merayap.

Masuk ke dalam jaketnya.

Ke dalam kulitnya.

Dan entah bagaimana—

sampai ke dalam pikirannya.

Lina menunduk.

Langkahnya kembali berjalan.

Tanpa tujuan.

Tanpa arah.

Sampai sesuatu membuatnya berhenti.

Sebuah cahaya.

Hangat.

Berbeda.

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

Di sudut jalan, di antara bangunan yang tampak sama—

ada satu tempat yang… tidak.

Sebuah restoran kecil.

Tidak besar. Tidak mencolok.

Tapi lampunya berbeda.

Kuning.

Hangat.

Seperti sesuatu yang tidak berasal dari kota ini.

Lina menatapnya lama.

Entah kenapa—

ia tidak langsung berjalan.

Hanya berdiri.

Mengamati dari jauh.

Ada orang di dalam.

Beberapa meja.

Gerakan pelan.

Tidak ramai.

Tidak berisik.

Tidak seperti tempat lain.

Lina tidak tahu kenapa—

tapi dadanya terasa sedikit… ringan.

Hanya sedikit.

Hampir tidak terasa.

Tapi ada.

Ia melangkah mendekat.

Pelan.

Seolah takut kalau tempat itu akan menghilang jika ia terlalu cepat.

Sepatunya menginjak genangan air.

Suara kecil.

Realitas.

Di depan pintu, ia berhenti lagi.

Matanya menangkap sesuatu.

Sebuah papan kecil.

Tulisan sederhana.

“DIBUTUHKAN KARYAWAN.”

Lina membaca tulisan itu sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seolah tidak yakin.

Seolah takut salah baca.

Sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Kecil.

Lemah.

Tapi ada.

“Kalau ditolak lagi gimana…”

Suara itu muncul pelan di kepalanya.

Familiar.

Selalu ada.

“Kalau aku nggak cukup lagi?”

Tangannya perlahan mengepal.

Ia menatap pintu itu.

Hanya satu langkah lagi.

Satu langkah.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Kakinya terasa berat.

Lebih berat dari sebelumnya.

Seolah bukan sekadar pintu—

tapi batas.

Antara mencoba lagi…

atau menyerah.

Hujan mulai turun lagi.

Lebih deras.

Air jatuh di pundaknya.

Di rambutnya.

Di wajahnya.

Lina menutup mata.

Menarik napas dalam.

Satu kali.

Dua kali.

“Aku capek…”

Bisikan itu keluar tanpa sadar.

Sangat pelan.

Hampir tidak terdengar.

Tapi untuk pertama kalinya—

ia tidak lari dari perasaan itu.

Tidak menahannya.

Tidak pura-pura kuat.

Ia hanya… mengakuinya.

Dan mungkin karena itu—

kakinya akhirnya bergerak.

Satu langkah.

Mendekat.

Tangannya terangkat.

Perlahan.

Menyentuh gagang pintu.

Dingin.

Nyata.

Ia membuka mata.

Menatap pantulan dirinya di kaca pintu.

Wajah lelah.

Mata merah.

Rambut berantakan.

“Masih mau coba?” bisiknya pada diri sendiri.

Tidak ada jawaban.

Tapi tangannya tidak melepaskan gagang itu.

Dan tanpa sadar—

ia mendorongnya.

Bel kecil berbunyi.

Pelan.

Hampir tidak terdengar.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—

Lina masuk ke dalam tempat yang terasa…

tidak dingin.

Di luar, hujan terus turun.

Seolah dunia belum selesai dengannya.

Tapi di dalam—

sesuatu baru saja dimulai.

More Chapters