PROLOG
Seharusnya, peringatan itu sudah cukup jelas.
Terpampang di pagar besi berkarat yang engselnya selalu mengeluarkan bunyi ngilu setiap kali tertiup angin, sebuah papan kayu lapuk menuliskan:
"KOS PUTRA BAHAGIA – MURAH, NYAMAN, FASILITAS DUNIA LAIN."
Bagi orang normal, kata "Dunia Lain" mungkin akan membuat mereka putar balik dan memacu motor sekencang mungkin. Tapi bagi Bagas Saputra—mahasiswa semester akhir yang saldo ATM-nya lebih mirip angka keberuntungan di dalam biskuit ramalan—frasa itu hanyalah sebuah gaya pemasaran edgy atau mungkin sekadar typo dari pemilik kos yang kurang literasi.
"Gila, tiga ratus ribu sebulan sudah termasuk WiFi dan listrik? Ini sih bukan kos-kosan, ini keajaiban sosial!" gumam Bagas sambil menyeret koper yang rodanya tinggal satu.
Ia tidak tahu bahwa di balik pintu jati yang catnya sudah mengelupas itu, hukum alam tidak berlaku. Ia tidak tahu bahwa WiFi yang dijanjikan berasal dari frekuensi energi ektoplasma yang sering kali membuat sinyalnya naik-turun seiring dengan *mood* penunggunya. Dan ia sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam sana, ia tidak akan pernah benar-benar merasa "sendirian".
Saat kunci diputar, suhu udara mendadak turun hingga lima derajat. Lampu pijar di langit-langit berkedip tiga kali, lalu meledak pelan, menyisakan kegelapan yang pekat. Di sudut ruangan, sebuah daster putih melayang pelan, diiringi suara isakan yang berubah menjadi tawa cekikikan, lalu berakhir menjadi suara bersin yang sangat keras.
"Waduh, debunya banyak banget ya, Mbak?" suara berat dan serak terdengar dari kegelapan yang lebih dalam.
"Iya, Bam. Tolong dong itu sapunya diambilin, masa nunggu saya yang nyapu? Saya kan bagian dekorasi aura!" sahut suara melengking dari arah plafon.
Bagas mematung di ambang pintu. Bulu kuduknya berdiri sedemikian tegak hingga rasanya bisa dipakai untuk menusuk sate. Namun, bukannya lari, perutnya justru berbunyi—sebuah keroncongan lapar yang sangat tidak tahu diri.
"Permisi... ini beneran kosan yang gratis martabak tiap malam Jumat, ya?" tanya Bagas, suaranya gemetar tapi penuh harap.
Kegelapan itu mendadak hening. Tiga pasang mata—merah menyala, putih polos, dan satu lagi tertutup topi *baseball*—menatap ke arah mahasiswa malang itu.
Malam itu, Bagas baru menyadari satu hal penting dalam hidupnya: Bahwa terkadang, setan tidak lebih menakutkan daripada biaya hidup, dan tinggal satu atap dengan kuntilanak jauh lebih baik daripada tinggal dengan debt collector.
Selamat datang di Kosan Bahagia. Tempat di mana batas antara hidup, mati, dan harga diskon menjadi sangat abu-abu.
