Cherreads

Chapter 2 - SOSOK LAIN

Raka tersenyum miring, matanya menatap tajam ke arah Laras yang berbaring lemah. Gairahnya memang sudah memuncak melihat wajah dan tubuh istrinya yang tampak begitu memesona.

Namun, di balik hasrat itu, naluri pelindungnya jauh lebih kuat. Ia tahu persis kondisi Laras saat ini. Ia sedang demam tinggi, badan nyeri, dan kelelahan luar biasa. Jika ia melakukan hubungan layaknya dalam mimpi "itu", tubuh Laras pasti akan hancur total.

'Aku harus puaskan keinginanku, tapi tidak dengan menyakiti dia,' batin Raka.

"Baiklah, kalau kau memintanya," bisik Raka, suaranya terdengar berat dan memikat. Ia bergerak naik ke atas kasur, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Tapi ingat, hari ini aturanku. Aku yang memegang kendali penuh. Kau hanya perlu diam dan nikmati. Jangan bergerak banyak, jangan memaksakan diri. Biarkan aku yang bekerja untuk kita berdua."

Laras mengangguk patuh, matanya berbinar penuh antisipasi meski tubuhnya terasa seperti digantung di ujung tenaga.

Raka mulai melampiaskan seluruh hasratnya. Ia tidak langsung menyentuh bagian sensitif secara kasar. Sebaliknya, ia memulainya dengan sentuhan yang sangat perlahan, selembut kapas.

Tangannya yang besar dan hangat menyusuri lekuk tubuh Laras di atas kain baju tidur tipis itu. Ia meremas pinggul, mengelus punggung, dan membelai lengan istrinya dengan ritme yang membuat bulu kuduk berdiri.

Bibirnya tak kalah ganas, dalam artian yang lembut. Ia mengecup setiap inci kulit yang terbuka—dahi, pipi, leher, hingga tulang selangka—dengan ciuman basah dan hangat.

Sesekali ia menggigit kecil atau menyedot pelan, cukup untuk meninggalkan jejak kenikmatan tanpa melukai atau menambah memar baru. Napasnya yang panas terus menerpa kulit Laras, menciptakan sensasi yang sama menggairahkannya dalam khayalan Raka.

Pria itu menyalurkan semua nafsunya lewat sentuhan, ciuman, dan bisikan-bisikan kotor yang diucapkannya tepat di telinga Laras. Ia membuat gerakan-gerakan ritmis di samping tubuh istrinya.

"Sayang, entah kenapa, mesti kau sekadar mimpi, tapi membuatku cemburu," bisik Raka ke telinga Laras.

"Mungkin mimpi, tapi seperti nyata, Mas. Kita berdua. Tapi kau seperti pria lain."

Raka terpatik cemburu, tetapi masih ragu. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa yang dialami Laras adalah mimpi. Ia menumpahkan segala kalutnya lewat kontak kulit yang intens dan tatapan mata yang seolah memakan hidup-hidup.

Ia memuaskan dirinya dengan melihat ekspresi Laras yang terkulai manja, mendengar desahan-desahan halus yang keluar dari bibir wanita itu, dan merasakan getaran kenikmatan yang menjalar dari tubuh istrinya ke tubuhnya.

Setiap kali Laras mencoba bergerak atau membalas, Raka akan menahannya dengan ciuman dalam atau rangkulan lembut.

"Diamlah, Sayang. Biarkan aku yang nikmati pemandangan ini. Kau cukup jadi bidadari tidurku saja hari ini," bisiknya sambil terus bergerak dengan ritme yang stabil dan terkendali.

Selama hampir dua puluh menit, Raka memanjakan dirinya sekaligus Laras dengan cara yang paling intim, tanpa sekalipun menuntut tenaga dari istrinya. Ia memastikan setiap sentuhannya justru membantu melancarkan aliran darah, menghangatkan tubuh Laras yang sedang menggigil demam, dan membuat otot-ototnya yang tegang menjadi lebih rileks.

Akhirnya, Raka mengembuskan napas panjang, tubuhnya bergetar hebat seolah melepaskan beban berat yang dipikulnya. Ia merasa puas, sangat puas. Ia menempelkan dahinya ke dahi Laras, napasnya masih memburu namun wajahnya tampak lega.

"Selesai," bisiknya serak, menyeka keringat di keningnya sendiri sekaligus di kening Laras. "Kau hebat, Sayang. Kau selalu bisa membuatku gila."

Laras tersenyum lelah, tetapi bahagia. Tubuhnya terasa lebih rileks, hangat, dan anehnya rasa nyeri di persendian berkurang sedikit karena pijatan lembut dan kehangatan yang diberikan Raka. "Kau, benar-benar hebat, Mas. Rasanya sama nikmatnya, tapi kali ini aku tidak merasa kesakitan."

"Itu karena aku tidak akan membiarkanmu sakit lebih parah," jawab Raka sambil mengecup bibir Laras sekilas, singkat tetapi bermakna. "Sekarang, bersih-bersih, lalu kita berangkat."

Setelah mereka rapi kembali, Raka kembali menggendong Laras menuju motor. Perjalanan ke klinik terasa tenang. Raka sesekali memijat tangan istrinya yang dingin.

Sesampainya di sana, pemeriksaan berlangsung cukup lama. Dokter yang memeriksa—seorang wanita paruh baya yang dikenal memiliki kepekaan lebih—akhirnya memanggil mereka ke ruangan konsultasi.

Dokter itu menatap keduanya bergantian, lalu menarik napas pelan. "Bu Laras, kondisi fisik Ibu sebenarnya cukup lelah karena tersedot energi besar. Tapi, untungnya ada energi penyeimbang yang sangat kuat menutrisi tubuh Ibu belakangan ini." Dokter itu melirik Raka sekilas.

"Maksudnya, Dok?" tanya Raka waspada.

"Dari jejak yang tertinggal di tubuh Ibu, apa yang terjadi semalam bukan mimpi, dan bukan sepenuhnya Bapak," ucap dokter itu terus terang. "Ada entitas lain yang menyamar menjadi wujud Bapak. Itu sejenis jin penggoda yang memakan energi vital korbannya lewat hubungan intim. Ia memanipulasi indra penglihatan, penciuman, dan perasa Ibu agar percaya bahwa itu suami sendiri, padahal ia sedang melampiaskan nafsunya sekaligus menyedot nyawa Ibu perlahan."

Wajah Laras menjadi pucat. Ingatan tentang aroma kasturi dan tenaga yang tak habis-habis itu kini menjadi menakutkan. "Jadi, yang semalam, bukan Mas Raka?"

Raka menggeleng tegas, tangannya mencengkeram tangan Laras erat. "Tentu saja bukan aku, Sayang. Aku kerja shift malam dan baru pulang pagi. Kunciku pun tertinggal di rumah Ibu."

"Jin itu sengaja menyesatkan kalian," lanjut dokter itu. "Ia memilih wujud yang paling dipercaya dan dicintai agar korban tidak menolak. Ia menciptakan kenikmatan buatan yang jauh melebihi manusia biasa agar korban ketagihan dan membuka diri kembali. Untungnya, pagi ini, Bapak Raka hadir dengan cinta dan sentuhan sejati yang mampu menetralkan sebagian racun energi itu. Cara Bapak memanjakan Ibu. Itu yang menyelamatkan kondisi Ibu dari ambruk total. Energi kasih sayang Bapak jauh lebih kuat daripada energi hasrat makhluk itu."

Laras menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, rasa takut bercampur rasa syukur yang mendalam. Ternyata, kelembutan Raka tadi bukan sekadar kehati-hatian, tetapi juga perisai bagi nyawanya.

"Jadi, dia tidak akan datang lagi, Dok?" tanya Raka dengan nada rendah yang berbahaya.

"Selama ikatan batin dan perlindungan yang Bapak berikan ini kuat, dia tidak akan bisa masuk lagi," jawab dokter itu meyakinkan. "Tapi kita harus bersihkan sisa jejak energinya dulu agar Bu Laras benar-benar pulih total."

Raka mengangguk mantap. Ia memeluk bahu Laras, menyalurkan rasa aman yang tak tergoyahkan. "Dengar itu, Sayang! Dia sudah kalah. Mulai sekarang, hanya ada aku. Dan aku akan pastikan kau sembuh secepatnya."

Laras menyandarkan kepalanya di dada suaminya, berjanji dalam hati untuk tidak lagi mudah percaya pada kenikmatan yang tampak terlalu sempurna. Di balik rasa sakit dan ketakutan itu, ia justru semakin yakin bahwa pelukan Raka adalah rumah paling aman baginya.

More Chapters