Aula sidang istana mulai dipenuhi para pejabat tinggi.
Suasana pagi terasa berat.
Seperti ada sesuatu yang akan pecah hari ini.
---
Di luar aula, Shen Lanxi berdiri diam.
Mendengarkan langkah-langkah para pejabat masuk.
---
"Nu Bai."
---
"Siap, Tuan."
---
"Catat semua yang menyebut keluarga Shen."
---
"Sudah dipersiapkan."
---
Shen Lanxi menatap pintu besar aula istana.
Matanya tenang.
---
"Mulai."
---
---
Di dalam aula.
Seorang menteri berdiri lebih dulu.
---
"Yang Mulia! Kasus keluarga Shen tidak bisa ditunda lagi!"
"Empat ratus ribu pasukan di barat laut musnah tanpa alasan jelas!"
---
"Ini pengkhianatan tingkat tinggi!"
---
Suara mulai meningkat.
Satu per satu pejabat ikut berbicara.
---
Ada yang mendukung hukuman cepat.
Ada yang diam tapi tidak menolak.
---
---
Kaisar Zhou Chengqian duduk di kursi utama.
Ekspresinya sulit dibaca.
---
"Diam."
Suaranya pendek.
---
Semua langsung berhenti.
---
---
Kaisar menatap laporan di tangannya.
"Kasus ini… memang tidak sederhana."
---
"Logistik berubah menjadi batu di tengah perjalanan."
"Tidak ada saksi hidup."
---
Ia menutup laporan itu.
---
"Karena itu hari ini akan ditentukan apakah keluarga Shen bersalah atau tidak."
---
---
Di luar aula.
Shen Lanxi akhirnya melangkah masuk.
---
Satu langkah.
Dua langkah.
---
Semua mata langsung tertuju padanya.
---
"Putri Shen Lanxi?"
bisik seorang pejabat.
---
---
Ia berhenti di tengah aula.
Membungkuk sopan.
---
"Yang Mulia."
---
Kaisar menatapnya.
"Kenapa kau ada di sini?"
---
Shen Lanxi menjawab pelan.
---
"Karena keluarga Shen sedang dibicarakan."
---
"Dan aku adalah bagian dari mereka."
---
---
Beberapa pejabat saling pandang.
Situasi mulai tidak biasa.
---
Seorang Menteri Militer berdiri.
---
"Yang Mulia, ini urusan negara, bukan urusan pribadi!"
---
Shen Lanxi menoleh pelan.
---
Tatapannya dingin.
---
"Kalau ini bukan urusan pribadi…"
"Kenapa keluarga Shen langsung ditangkap semalam?"
---
Aula langsung sunyi.
---
Pertanyaan itu tepat sasaran.
---
---
Kaisar mengangkat tangan.
"Cukup."
---
Ia menatap Shen Lanxi lama.
---
"Jika kau datang, berarti kau ingin mendengar kebenaran."
---
Shen Lanxi mengangguk.
"Ya, Yang Mulia."
---
---
Kaisar menoleh ke para pejabat.
---
"Siapa yang pertama mengusulkan penangkapan keluarga Shen?"
---
Sunyi.
---
Tidak ada yang langsung menjawab.
---
Ini pertanyaan berbahaya.
---
---
Akhirnya seorang pejabat tua berbicara pelan.
---
"Laporan datang dari Kementerian Militer…"
---
"Dan diperkuat oleh Kementerian Hukum."
---
---
Mata Shen Lanxi sedikit menyipit.
---
"Jadi bukan satu orang."
bisiknya pelan.
---
---
Kaisar berdiri perlahan.
---
"Kalau begitu…"
"kasus ini tidak boleh ditutup cepat."
---
"Mulai hari ini, penyelidikan ulang dibuka."
---
---
Suasana langsung berubah.
Beberapa pejabat terlihat tidak senang.
Beberapa terlihat tegang.
---
---
Shen Lanxi menunduk sedikit.
---
"Terima kasih, Yang Mulia."
---
Tapi di dalam pikirannya…
ini bukan kemenangan.
---
Ini baru pintu masuk.
---
---
Saat ia keluar dari aula.
Nu Bai berbicara.
---
"Tuan…"
---
"Sudah mulai retak."
---
Shen Lanxi menatap langit istana.
---
"Ya."
---
"Tapi retakan ini…"
"harus jadi runtuhan."
