Cherreads

Chapter 15 - BAB 15 - Nama yang Tidak Dikenal

"Siapa kamu?"

Pertanyaan itu menggantung di udara lantai empat belas dengan cara yang berbeda dari pertanyaan biasa — seperti kata-kata itu sendiri punya berat yang tidak proporsional dengan jumlah hurufnya.

Entitas itu tidak langsung menjawab.

Ia bergerak — bukan berjalan, tapi seperti sebelumnya, jarak antara posisinya dan posisi mereka yang mengatur di mana ia akan muncul berikutnya. Kali ini ia tidak mendekat. Ia bergerak ke samping, seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sudut pandang terbaik untuk melihat sesuatu yang menarik.

Dan yang dilihatnya adalah Hyun-woo.

Lebih tepatnya, mata Hyun-woo yang sekarang memancarkan cahaya emas tipis di tepi irisnya — bukan penuh, bukan meledak seperti dalam pertempuran, tapi seperti api yang baru saja dinyalakan dan belum memutuskan seberapa besar ia ingin tumbuh.

"Namaku tidak bisa diucapkan dalam bahasa yang kamu miliki," kata entitas itu. Suara yang muncul langsung di kepala, melewati telinga. "Tapi kamu bisa memanggilku dengan apa yang aku adalah — Penjaga."

"Penjaga apa?" tanya Hyun-woo.

"Penjaga pintu. Penjaga catatan. Penjaga yang menunggu." Sesuatu dalam cara entitas itu berbicara menunjukkan bahwa setiap kata dipilih dengan pertimbangan yang sangat panjang — bukan karena ia tidak fasih, tapi karena ia sangat menyadari keterbatasan bahasa yang ia gunakan. "Dalam bahasa yang lebih tua dari bahasa apapun yang manusia miliki sekarang, aku adalah yang berdiri di antara."

"Di antara apa dan apa?" tanya Ha-eun dari belakang Hyun-woo. Suaranya sama tenangnya seperti biasa, tapi ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan pertanyaan itu yang menunjukkan ia sudah punya teorinya sendiri dan sedang memverifikasi.

Penjaga berpaling ke Ha-eun. Pertama kalinya ia mengalihkan perhatian dari Hyun-woo sejak percakapan ini dimulai.

"Peramal," katanya. Bukan sapaan — lebih seperti identifikasi. "Kamu melihat sesuatu yang membuatmu datang ke sini."

"Aku melihat matanya," kata Ha-eun. "Di lantai yang belum ada yang capai."

"Penglihatan yang akurat." Ada sesuatu dalam resonansi suara Penjaga yang bisa diinterpretasikan sebagai persetujuan. "Kamu datang untuk memverifikasi."

"Aku datang untuk memahami."

"Beda tipis."

"Tapi ada," kata Ha-eun — dengan nada yang persis sama dengan cara Hyun-woo mengucapkan kalimat itu kepada Jun-hee dua hari lalu.

Hyun-woo menyadari ini dan menyimpan observasinya.

"Kamu bilang ada yang lain di atas," kata Hyun-woo, membawa percakapan kembali ke jalur yang ia pilih. "Yang lebih tua. Yang menunggu jiwa yang cukup matang untuk bicara."

"Ya."

"Berapa banyak lantai di atas ini?"

"Seratus tiga puluh enam," jawab Penjaga. "Tapi angka itu tidak relevan dengan cara kamu menggunakannya. Lantai bukan hanya jarak fisik di sini. Mereka adalah level pemahaman — dan di setiap level, ada yang berdiri dan menunggu."

"Menunggu apa spesifiknya?" tanya Hyun-woo.

"Seseorang yang bisa naik."

Jun-hee, yang sudah diam cukup lama, berbicara dengan nada yang sangat hati-hati. "Maksudnya seseorang yang bisa naik secara fisik? Atau sesuatu yang lain?"

Penjaga berpaling ke Jun-hee untuk pertama kalinya. Ada sesuatu dalam cara ia menatap Jun-hee yang berbeda dari cara ia menatap yang lain — bukan lebih atau kurang, hanya berbeda. Seperti ia sedang membaca sesuatu yang ia tidak sepenuhnya ekspektasikan ada.

"Sistem yang kamu bawa," kata Penjaga, "adalah salah satu cara. Tapi bukan satu-satunya. Dan bukan yang pertama."

"Ada cara lain?"

"Cara yang lebih tua." Penjaga kembali ke Hyun-woo. "Yang sudah ada sebelum bumi memutuskan untuk membagikan berkahnya kepada manusia terpilih."

Hyun-woo merasakan sesuatu bergeser dalam pikirannya — kalkulasi yang sudah berjalan sejak percakapan ini dimulai akhirnya menghasilkan sesuatu yang cukup solid untuk diucapkan.

"Tower ini bukan hanya tempat para penjajah ditahan," katanya. Bukan pertanyaan.

"Tidak," konfirmasi Penjaga.

"Tower ini dibangun dengan tujuan yang lain."

"Dibangun dengan tujuan yang lebih lama," koreksi Penjaga. "Para penjajah yang kamu sebut — tiga faksi yang datang bersama — mereka adalah bagian dari mekanisme yang lebih besar. Bukan penyebab. Akibat."

Kali ini keheningan yang menyusul berbeda dari semua keheningan sebelumnya malam ini.

Ha-eun membuka matanya. Yeon-ji berhenti menahan napasnya tanpa sadar. Jun-hee menurunkan tangannya dari gagang senjatanya satu milimeter — gerakan yang kecil tapi signifikan.

"Akibat dari apa?" tanya Hyun-woo.

"Dari sesuatu yang terjadi sangat lama yang lalu," kata Penjaga. "Sebelum manusia punya kata untuk 'sangat lama yang lalu.' Sebelum dimensi ini — dimensi yang kamu sebut bumi — punya nama. Sebelum kehendak yang sekarang kamu sebut kehendak bumi memutuskan untuk memilih manusia sebagai pewaris sementaranya."

"Pewaris sementara," ulang Hyun-woo. "Bumi punya pewaris permanen?"

"Bumi punya pemilik yang sedang tidur," kata Penjaga. "Dan sesuatu yang sangat besar dan sangat lama sedang tidur tidak bisa dibiarkan tidur selamanya. Kadang ia perlu dibangunkan. Dan untuk membangunkan sesuatu seperti itu, dibutuhkan jiwa yang cukup kuat untuk mendekat tanpa hancur oleh kehadirannya."

Ruang lantai empat belas hening sepenuhnya.

Angin yang bukan angin bergerak melalui ruang yang bukan ruang.

"Itulah mengapa tower ini ada," kata Hyun-woo akhirnya. "Bukan untuk menahan penjajah. Untuk mencari seseorang."

"Untuk mencari seseorang," konfirmasi Penjaga. "Dan para penjajah — tiga faksi yang bersatu dengan motivasi berbeda — mereka datang bukan karena ingin bumi. Mereka datang karena mengetahui apa yang tidur di bumi. Dan mereka ingin membangunkannya sebelum ada manusia yang cukup kuat untuk melindunginya."

"Melindungi apa?" tanya Ha-eun. "Pemilik yang tidur, atau manusia dari pemilik yang terbangun?"

Penjaga diam cukup lama.

"Pertanyaan yang tepat," katanya akhirnya. "Dan jawabannya — belum saatnya."

Hyun-woo merasakan Ha-eun bergerak ke sebelahnya.

Perempuan tiga ratus tahun itu berdiri di samping kanannya, menatap Penjaga dengan ekspresi yang sudah melewati semua lapisan peramal yang tenang dan mendarat di seseorang yang baru saja menerima konfirmasi dari sesuatu yang sudah ia curigai selama sangat lama.

"Ada pertanyaan yang bisa dijawab sekarang?" tanya Ha-eun.

"Beberapa," kata Penjaga.

"Simbol di lantai dua belas," kata Hyun-woo. "Yang kamu tinggalkan untukku."

"Ya."

"Artinya apa?"

"Sesuatu yang tidak bisa kamu baca sekarang," kata Penjaga. "Tapi kamu akan bisa membacanya saat matamu sudah sepenuhnya terbuka. Saat Soulform-mu sudah sepenuhnya terbentuk." Jeda. "Saat kamu sudah naik cukup tinggi untuk mendengar suara yang menunggumu."

"Kamu mengasumsikan aku akan naik."

"Tidak," kata Penjaga. "Aku melihat bahwa kamu akan naik. Beda."

Hyun-woo mempertimbangkan ini.

"Satu pertanyaan terakhir untuk sekarang," katanya.

"Bicara."

"Entitas di lantai-lantai di atasku — apakah mereka berbahaya?"

Penjaga diam cukup lama — lebih lama dari semua jeda sebelumnya dalam percakapan ini.

"Mereka bukan berbahaya dalam cara yang kamu gunakan kata itu," katanya akhirnya. "Mereka adalah bagian dari ujian. Dan ujian, menurut definisinya, bisa gagal. Tapi mereka tidak ada untuk menghancurkanmu — mereka ada untuk memastikan bahwa yang naik lebih tinggi adalah yang layak naik lebih tinggi."

"Dan kalau tidak layak?"

"Maka kamu tidak naik lebih tinggi." Nada yang tidak mengandung ancaman tapi tidak mengandung kenyamanan. "Dan kamu kembali ke duniamu dengan pemahaman bahwa ada hal-hal yang belum siap kamu hadapi. Itu bukan kegagalan — itu informasi."

Hyun-woo mengangguk.

Satu kali. Sangat kecil.

"Kami akan kembali," katanya.

"Aku tahu," kata Penjaga. "Aku akan di sini."

Bersambung.....

More Chapters