Dua hari setelah ujian malam itu—
Pengumuman resmi keluar dari pusat administrasi X.A.R.A.
Arabels ditetapkan sebagai Navigator Kandidat Nexus S-4473.
Storm dicatat sebagai Konsultan Resonansi Spasial—jabatan yang terdengar formal, meski banyak yang tahu artinya jauh lebih dalam.
Di aula briefing sektor eksplorasi, sekelompok kecil personel telah menunggu.
Bukan tim besar.
Namun cukup untuk membentuk inti proyek masa depan.
Aryes berdiri di depan layar holografik Nexus.
"Mulai hari ini," katanya tenang,
"Kalian adalah Tim Penjelajah Eksperimental Nexus."
Ia menggeser tampilan layar.
Dua sosok muncul di samping Storm dan Arabels.
"Perkenalkan anggota yang sudah lebih dulu bergabung beberapa bulan lalu."
Seorang pemuda melangkah maju.
Rambutnya perak gelap, berantakan tipis. Satu matanya berwarna alami—abu-abu tajam. Mata lainnya adalah lensa mekanik berkilau biru, dengan garis sirkuit halus menjalar di pelipisnya.
"Zero Tersliryans," ucapnya datar.
"Spesialis rekayasa mesin dan sistem integrasi."
Nada suaranya tenang, sedikit kering.
Mata robotiknya berfokus pada Storm beberapa detik lebih lama dari yang lain.
"Jadi kau yang membuat inti pelipatan ruang itu beresonansi," katanya tanpa basa-basi.
Storm menjawab singkat.
"Aku tidak sengaja."
Zero menyeringai tipis.
"Semua penemuan besar berawal dari 'tidak sengaja'."
Di sisi lain, seorang gadis melangkah maju dengan langkah ringan.
Rambutnya kuning keemasan, tertutupi oleh topi polisi arkeolog. Ia membawa tablet penuh simbol aneh yang terus berganti.
"Aku Lira Sravasse," katanya dengan suara lembut namun penuh rasa ingin tahu.
"Analis artefak kuno, sistem simbolik, dan bahasa pra-ekspansi."
Arabels tersenyum ramah.
"Apa juga bahasa kuno?"
Lira mengangguk antusias.
"Banyak teknologi lama menggunakan enkripsi berbasis simbol peradaban awal. Bahkan beberapa bagian desain Nexus terinspirasi dari pola arsitektur kosmik kuno."
Ia menatap Storm dengan mata berbinar.
"Dan energimu… pola resonansinya terasa seperti bukan berasal dari satu sistem saja."
Storm terdiam.
Lira bukan menuduh.
Ia menganalisis.
Aryes melanjutkan penjelasan.
"Zero akan menangani stabilisasi mesin. Lira akan membantu menerjemahkan struktur data lama yang mungkin berkaitan dengan navigasi dalam jarak ekstrem."
Ia menatap Arabels.
"Kau akan belajar menyatukan keduanya menjadi jalur yang bisa dilalui."
Lalu pada Storm.
"Dan kau… memastikan jalur itu tidak runtuh."
Zero menyilangkan tangan.
"Singkatnya, kita tim kecil yang mencoba melakukan hal yang hampir mustahil."
"Menembus batas peta hampir mustahil," tambah Arabels pelan.
Setelah briefing selesai, mereka pindah ke ruang kerja tim—sebuah laboratorium setengah terbuka yang menghadap langsung ke badan Nexus.
Zero langsung duduk di depan modul mesin terbuka.
Tangannya bergerak cepat, menyambungkan kabel dan mengutak-atik papan sirkuit transparan.
"Resonansi kemarin meninggalkan sisa pola," katanya tanpa menoleh.
"Aku ingin tahu bagaimana caranya tubuh manusia bisa sinkron dengan inti pelipatan ruang tanpa hancur."
Storm berdiri di sampingnya.
"Aku juga ingin tahu," jawabnya jujur.
Zero tertawa pendek.
"Bagus. Berarti kita sama-sama penasaran."
Di sisi lain ruangan, Lira membentangkan proyeksi simbol kuno berbentuk lingkaran bertumpuk.
"Arabels, lihat ini," katanya bersemangat.
"Simbol ini berarti 'arah yang tak terlihat'. Digunakan dalam naskah pelaut kuno sebelum era mesin warp."
Arabels mendekat.
"Seperti memilih bintang paling redup?"
Lira tersenyum lebar.
"Tepat sekali!"
Storm memperhatikan interaksi mereka.
Ia melihat Arabels berada di lingkungan yang sepenuhnya cocok dengannya.
Bukan hanya sebagai gadis cerdas—
Namun sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Zero tiba-tiba menoleh pada Storm.
"Kalau Nexus benar-benar aktif penuh suatu hari nanti," katanya santai,
"Kau sadar itu bisa menarik perhatian lebih besar dari sekadar APH?"
Storm menjawab tenang.
"Aku sudah terbiasa diperhatikan."
Zero mengangguk pelan.
"Bagus. Karena kalau sistem ini stabil berkatmu… kita mungkin akan membuka jalur yang belum pernah disentuh siapa pun."
Lira menambahkan dengan nada lembut namun serius.
"Dan jika di luar sana ada sesuatu yang lebih tua dari teknologi kita… kita harus siap membacanya."
Arabels berdiri di tengah mereka, tersenyum.
"Kita akan melakukannya bersama."
Empat orang.
Empat keahlian berbeda.
Navigator yang melihat pola.
Pemuda misterius yang merasakan ruang.
Insinyur bermata mesin yang merakit kemungkinan.
Analis simbol kuno yang membaca masa lalu untuk masa depan.
