Cherreads

Chapter 382 - Naga Berkepala Lima

Malam di laboratorium Nexus masih dipenuhi cahaya hologram dan dengungan mesin stabilisasi.

Zero sedang membongkar modul pengatur panas.

Lira menelusuri simbol kuno yang diproyeksikan di udara.

Arabels mencatat simulasi lintasan alternatif.

Storm berdiri di dekat jendela besar, menatap langit H2700 yang tenang.

Lalu—

Jam hitam di pergelangan tangannya bergetar pelan.

Sinyal prioritas.

Hologram kecil muncul tepat di atas permukaannya.

Wajah Napstylea terpancar—armor silvernya memantulkan cahaya kilat yang berkedip di belakangnya.

"Tuan Rem!" suaranya tegas, terdengar bising oleh ledakan di sekitarnya.

"Keadaan darurat. Monster kelas tinggi muncul di distrik barat!"

Hologram bergeser, memperlihatkan siluet raksasa di langit kota.

Seekor naga.

Namun bukan satu kepala—

Lima kepala panjang menjulang, masing-masing bermata menyala.

Petir menyambar dari mulutnya, menghancurkan gedung-gedung tinggi dalam sekejap.

Langit H2700 berubah kelam oleh awan badai buatan.

"Elemen petir dominan," lanjut Napstylea.

"Jester sedang menahan perimeter, tapi ini bukan makhluk biasa!"

Hologram berkedip oleh gangguan elektromagnetik.

Storm menyipitkan mata.

Energi itu—

Tidak alami.

Ada resonansi dimensional samar di balik petir yang dilepaskannya.

"Aku akan menuju ke sana," jawab Storm singkat.

Hologram menghilang.

Ruangan menjadi sunyi.

Arabels berdiri lebih dulu.

"Itu di pusat kota…"

Zero menoleh dari konsol.

"Lima kepala? Kedengarannya merepotkan."

Lira memanggil peta kota di udara.

"Fluktuasi energinya besar sekali…"

Storm melangkah ke tengah ruangan.

"Aku akan menanganinya."

Ia sudah hendak pergi—

Namun Arabels berdiri tepat di depannya.

"Kita satu tim, Jangan gegabah ya." katanya pelan namun tegas.

Zero menyeringai.

"Aku punya pesawat yang belum dipanaskan mesin gravitasinya."

Lira menambahkan,

"Aku ingin menganalisis pola energinya secara langsung. Siapa tahu itu berkaitan dengan simbol yang kutemukan."

Storm menatap mereka satu per satu.

Ini bukan latihan.

Itu monster nyata.

Dengan daya hancur nyata.

"Kalian belum pernah menghadapi ancaman seperti ini," katanya datar.

Zero berdiri dan mengambil jaket teknisnya.

"Benar. Tapi kita juga tidak pernah menguji koordinasi tim dalam kondisi darurat."

Arabels menggenggam tangan Storm sebentar.

"Kamu tidak sendirian lagi."

Beberapa detik hening.

Akhirnya Storm mengangguk pelan.

"Baik. Tapi tetap di udara. Jangan turun tanpa instruksiku."

Zero tersenyum lebar.

"Perintah diterima, Konsultan Resonansi."

Di hanggar samping Nexus, sebuah pesawat luar angkasa berukuran sedang telah siap.

Tidak sebesar kapal antar bintang.

Namun cukup ramping dan cepat.

Cluster 29-334.

Badan peraknya berkilau di bawah lampu hanggar.

Zero melompat ke kursi pilot.

"Mesin gravitasi stabil. Sistem tempur minimal aktif."

Arabels dan Lira duduk di kursi belakang, layar pemantauan terbuka di depan mereka.

Storm berdiri di landasan terbuka hanggar.

Angin malam menerpa wajahnya.

Di kejauhan, kilat menyambar langit kota.

Armor merah menyala menyelimuti tubuhnya.

Mode Scarlet Skycrimson.

Sayap energi terbuka di punggungnya.

"Kak Rem terdeteksi," ujar Arabels melalui headset.

"Lintasan udara bersih di ketinggian 400 meter."

Lira memproyeksikan pembacaan energi.

"Petirnya menghasilkan gangguan elektromagnetik. Hati-hati saat mendekat!"

Storm menoleh sekilas ke arah Cluster 29-334.

"Jaga jarak aman."

Lalu—

Ia melesat.

Tubuhnya menembus udara seperti komet merah, meninggalkan jejak cahaya tipis.

Zero mengangkat pesawat ke udara.

Cluster 29-334 naik dengan suara mesin gravitasi yang dalam namun stabil.

"Kita ikuti dari sisi timur," katanya.

Arabels memantau pergerakan Storm di layar.

"Titik merah kak Rem bergerak cepat… pergerakan kak Rem sudah hampir sampai."

Lira memperbesar gambar monster di pusat kota.

Naga berkepala lima itu mengaum bersamaan.

Setiap kepala memuntahkan petir ke arah berbeda, menghancurkan jalanan dan memaksa warga berlarian.

***

Di bawah sana—

Napstylea menebas sambaran listrik dengan pedang armornya.

Jester melompat dari atap ke atap, kartu Arcana berputar di tangannya, menciptakan barikade energi untuk melindungi penduduk.

Namun makhluk itu terlalu besar.

Terlalu liar.

Storm tiba di atasnya.

Petir menyambar ke arahnya—

Namun ia berputar cepat di udara, menghindar dengan presisi.

"Target visual," lapor Arabels.

"Kak Rem tepat di atas kepala tengah!"

Zero mengarahkan pesawat ke posisi dukungan.

"Baiklah… mari kita lihat seberapa kuat naga lima kepala ini."

Di langit H2700 yang diselimuti badai—

Tim Nexus resmi menjalani misi tempur pertama mereka.

More Chapters