Cherreads

Chapter 398 - Nama di Antara Dimensi

Malam turun perlahan di atas markas X.A.R.A.

Bintang-bintang bersinar lebih jelas dari biasanya.

Di atap gedung tertinggi, Storm dan Arabels masih berdiri berdampingan, diterangi cahaya kota.

Namun kali ini—

Storm terlihat berbeda.

Bukan gelisah.

Bukan marah.

Melainkan… ragu.

"Arabels," ucapnya pelan.

Gadis itu menoleh.

"Ada sesuatu yang belum pernah kutunjukkan padamu."

Arabels tersenyum kecil.

"Kedengarannya serius."

Udara di sekitar mereka berubah.

Cahaya kota memudar.

Suara angin menghilang.

Langit malam terlipat seperti lembaran kain hitam yang ditarik ke dalam kehampaan.

Dalam sekejap—

Mereka tidak lagi berada di atap X.A.R.A.

Mereka berdiri di hamparan kosong tak berbatas.

Tanahnya seperti kaca gelap, memantulkan bintang-bintang yang menggantung terlalu dekat. Rasi bintang bergerak perlahan, tidak mengikuti hukum langit biasa.

Arabels terdiam.

"Ini…?"

"Dimensi ruangku," jawab Storm tenang.

Tidak ada angin.

Tidak ada suara.

Hanya keheningan absolut.

Di tempat ini, Storm tidak terlihat seperti manusia biasa.

Bayangannya memanjang tak wajar.

Mata merahnya berpendar tipis, bukan dingin seperti Ice Emperor, melainkan dalam… seperti jurang kosmik.

"Di sini," katanya pelan, "Waktu tidak mengalir seperti di luar. Ingatan tidak menempel."

Arabels menatap sekeliling, takjub sekaligus waspada.

"Apa maksudnya sayang?"

Storm berjalan beberapa langkah di atas permukaan reflektif itu. Setiap langkahnya menciptakan riak cahaya berbentuk lingkaran galaksi kecil.

"Apa pun yang kau lihat di sini… tidak akan sanggup kau ingat sepenuhnya setelah kembali."

Arabels terdiam.

Storm berhenti.

"Namaku bukan Rem Scraster."

Keheningan semakin dalam.

"Namaku adalah Storm Realms."

Bintang-bintang di atas mereka bergetar ketika nama itu diucapkan.

Seolah dimensi itu sendiri merespons.

Arabels mengulang pelan,

"Storm… Realms…"

Nama itu terasa berat.

Lebih tua dari sekadar identitas manusia.

"Realms," lanjut Storm, "adalah penguasa ruang. Bukan gelar yang kupilih. Tapi sesuatu yang melekat sejak awal."

Di kejauhan, retakan cahaya muncul di kehampaan, memperlihatkan sekilas fragmen—pertempuran di dimensi lain, langit yang terbelah, sosok Storm berdiri di antara runtuhan ruang itu sendiri.

Namun bayangan itu cepat memudar.

"Aku tidak pernah memberitahumu," katanya pelan, "karena dunia ini belum siap mengetahui."

Arabels menatapnya.

"Aku selalu siap."

Storm menggeleng tipis.

"Tidak. Bukan tentang kesiapan mental."

Ia mengangkat tangannya.

Ruang di sekitar mereka mulai bergetar.

"Tubuh dan pikiran manusia tidak dirancang untuk menyimpan memori dimensi ini. Bahkan kau sendiri."

Arabels melangkah mendekat.

"Lalu kenapa membawaku ke sini?"

Storm terdiam beberapa detik.

"Karena jika suatu hari aku harus menghilang… aku ingin kau tahu bahwa aku pernah benar-benar mempercayaimu."

Kata-kata itu menggantung dalam kehampaan.

Bintang-bintang bergerak lebih lambat.

Arabels menatapnya dalam-dalam.

"Aku mungkin tidak akan mengingat semuanya," katanya lembut, "Tapi perasaanku tidak bekerja seperti logika ruang."

Storm sedikit tersenyum.

"Semoga itu cukup."

Dimensi mulai retak halus.

Cahaya kota kembali menyusup di sela kehampaan.

Sebelum semuanya runtuh sepenuhnya, Arabels masih sempat melihat satu hal—

Di belakang Storm, bayangan raksasa berbentuk lingkaran kosmik berputar perlahan.

Simbol tak dikenal, seperti segel alam semesta.

Lalu—

Segalanya menghilang.

Mereka kembali berdiri di atap markas X.A.R.A.

Angin malam kembali berhembus.

Suara kota terdengar lagi.

Arabels berkedip pelan.

"Kenapa rasanya… seperti aku baru saja kehilangan sesuatu?"

Storm menatapnya lembut.

"Kau hanya terlalu lama menatap bintang."

Arabels memegang dadanya sebentar.

Ada rasa kosong kecil.

Namun juga rasa hangat yang tak bisa dijelaskan.

"Kak Re, Storm…" katanya pelan.

"Hmm?"

"Aneh sekali… tapi aku merasa… kamu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat penting."

Storm menatap langit.

Bintang-bintang bersinar biasa.

Ia tersenyum tipis.

"Kau masih mengingat nama asliku rupanya."

More Chapters