Pantai H2700 berubah kacau.
Meski tsunami telah membeku menjadi dinding es raksasa di tengah laut, kepanikan masih menyebar di sepanjang pantai.
Orang-orang berlari menjauh.
Beberapa pengunjung masih terpaku menatap gunung es yang tiba-tiba muncul di laut.
Di balik dinding es itu—
Bayangan besar gurita raksasa masih bergerak.
Tentakel-tentakelnya menggeliat di dalam air yang belum sepenuhnya membeku.
Storm berdiri di tepi pantai.
Angin dingin masih mengelilinginya.
Ia menoleh ke belakang.
"Arabels."
Arabels langsung menatapnya.
"Ya?"
Storm menunjuk ke arah pengunjung yang panik.
"Bantu mereka keluar dari pantai."
Arabels mengangguk cepat.
"Baik!"
Storm melanjutkan dengan nada tegas,
"Bekerjalah bersama Zero, dan Lira."
Jester langsung mengangkat beberapa kartu Arkana.
"Baiklah, pekerjaan penyelamatan."
Ia melempar beberapa kartu ke udara.
Kartu-kartu itu berubah menjadi platform energi kecil yang membantu beberapa pengunjung melewati pasir dengan lebih cepat.
Zero berlari ke arah kelompok peselancar yang masih kebingungan.
"Semua menjauh dari air!"
Lira membantu mengarahkan orang-orang menuju jalur evakuasi yang lebih aman.
Arabels ikut membantu anak-anak dan keluarga yang masih panik.
***
Sementara itu—
Napstylea sudah tidak menunggu lama.
Armor Silver miliknya muncul kembali menyelimuti tubuhnya dalam kilatan cahaya.
Helmnya terbentuk menutup wajahnya.
"Target di laut," katanya singkat.
Detik berikutnya—
Napstylea melesat ke udara seperti peluru perak.
Ia terbang lurus menuju dinding es yang menjulang di laut.
Storm memperhatikannya sebentar.
Biasanya ia juga akan memanggil Scarlet Skycrimson.
Namun kali ini—
Ia terlihat malas.
Storm menghela napas kecil.
"Armor itu terlalu ribet."
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Di udara di depannya—
Sebuah papan selancar futuristik muncul dari kilatan energi merah.
Bentuknya ramping, dengan garis tajam seperti bilah.
Permukaannya berwarna merah gelap dengan cahaya hitam tipis yang mengalir di sepanjang sisinya.
Itu adalah selancar terbang miliknya.
Deathred.
Storm melompat ringan ke atas papan itu.
Mesin gravitasi di bagian bawahnya menyala pelan.
Jester yang sedang membantu evakuasi sempat menoleh.
"Wah… kau bahkan punya selancar sendiri?"
Storm tidak menjawab.
Deathred melayang beberapa sentimeter dari tanah.
Kemudian—
Dengan suara dorongan energi—
Papan itu melesat ke depan.
Storm meluncur cepat melewati udara, meninggalkan jejak cahaya merah di belakangnya.
Ia menyusul Napstylea menuju laut.
Di depan mereka—
Dinding es raksasa berdiri seperti benteng alami.
