Di tempat lain—
Sebuah ruangan besar dengan dinding kaca memperlihatkan langit malam yang sama.
Kilatan cahaya para pahlawan APH masih terlihat dari kejauhan.
Di dalam ruangan itu—
Kael berdiri diam.
Tatapannya tajam menembus kejauhan.
Ia sudah memahami situasi.
Dan satu hal yang paling jelas baginya—
Dooms tidak sedang bermain.
Kael berbicara tanpa menoleh.
"Varbosta."
Di belakangnya—
Varbosta berdiri tegap.
"Ya."
Kael melanjutkan dengan suara tenang namun tegas.
"Kerahkan pasukan."
Varbosta sedikit mengernyit.
"Apa semuanya?"
Kael mengangguk pelan.
"Sebanyak yang bisa kau kirim."
Ia menatap langit.
"Storm tidak sedang menghadapi satu atau dua orang."
"Dia dikepung."
Varbosta langsung mengerti.
Tanpa ragu—
"Dimengerti."
Ia segera bergerak keluar ruangan.
Perintah itu bukan hal kecil.
Itu berarti—
Mobilisasi besar-besaran.
Kael tetap berdiri di tempatnya.
Ia mengepalkan tangannya sedikit.
"Aku tidak peduli tentang Storm…"
Ia bergumam pelan.
"Tapi…"
Tatapannya menjadi lebih serius.
"Entitas di dalam dirinya."
Kael tahu.
Jika sesuatu terjadi pada Storm—
Entitas itu lepas kendali—
Maka yang terjadi bukan sekadar pertempuran biasa.
Itu bisa menjadi bencana besar.
Ia menoleh sedikit.
"Merry Nesse."
Dari sisi ruangan—
Seorang wanita muncul dari bayangan layar hologram: Merry Nesse.
Spesialis sistem dan pengendali teknologi tempur.
"Siap."
Kael langsung memberi perintah.
"Kirim drone."
"Sebanyak mungkin."
Merry mengangkat alis.
"Apa untuk menyerang, pak?"
Kael menggeleng pelan.
"Untuk menahan saja."
Ia menatap layar yang menampilkan posisi Storm.
"Jangan biarkan APH bergerak bebas."
Merry tersenyum tipis.
"Itu ide bagus."
Ia langsung mulai mengoperasikan sistem.
Beberapa layar hologram menyala.
Koordinat muncul.
Rute penerbangan dihitung.
Dalam hitungan detik—
Ratusan drone mulai aktif.
Sementara itu—
Kael memanggil satu nama lagi.
"Jazz Trigths."
Dari sisi lain ruangan—
Seorang pria muncul dengan ekspresi santai.
"Ya, ya… aku di sini."
Kael menatapnya langsung.
"Kau punya satu tugas."
Jazz mengangkat alis.
"Serius sekali."
Kael tidak tersenyum.
"Kirim pesan ke Dooms."
Suasana langsung berubah sedikit tegang.
Jazz terdiam sejenak.
"Anda serius?"
Kael mengangguk.
"Temukan dia."
"Dan katakan—"
Tatapannya tajam.
"Untuk menghentikan ini."
Jazz menghela napas panjang.
"Masalahnya…"
Ia mengangkat bahu.
"Dooms itu seperti hantu."
"Susah dicari."
Kael menjawab singkat.
"Itu bukan alasanku."
Jazz tersenyum tipis.
"Baiklah…"
Ia berbalik.
"Akan ku coba."
Satu per satu—
Semua mulai bergerak.
Pasukan dikerahkan.
Drone diterbangkan.
Pesan dikirim.
Kael kembali menatap langit malam.
Kilatan cahaya masih terlihat.
"Kalau ini berlanjut…"
Ia bergumam pelan.
"Bukan hanya Storm yang hancur."
Angin malam berhembus di luar jendela besar itu.
