Cherreads

Chapter 688 - Mundur dari Ursa Major

Perang di Ursa Major akhirnya berhenti. Bukan karena salah satu pihak menang. Bukan pula karena musuh telah dikalahkan. Melainkan karena kehadiran satu orang telah mengubah seluruh medan perang. Rangers Orithrosvar. Jenderal terkuat Kekaisaran Galaksi.

Di berbagai sektor pertempuran. Alarm mundur mulai terdengar. Kapal-kapal perang yang sebelumnya saling menghujani tembakan kini perlahan menjauh. Formasi armada mulai berubah. Meriam dimatikan. Perisai pertahanan kembali diaktifkan. Langit Ursa Major mulai tenang. Meski masih dipenuhi puing dan bekas kehancuran perang.

---

Di Istana Ursa Major —

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kecemasan kini berubah menjadi kelegaan. Para petinggi kerajaan akhirnya bisa bernapas lega. Laporan terbaru terus berdatangan. Tidak ada bentrokan besar lagi. Armada mulai meninggalkan wilayah utama. Dan yang paling penting — Ursa Major selamat.

Callisto menutup matanya sejenak. Beban yang sejak awal perang berada di pundaknya perlahan berkurang. Ia tahu. Jika Taurus dan Capricorn benar-benar bertarung serius... atau jika perang terus berlanjut... maka banyak sistem bintang di wilayahnya mungkin tidak akan tersisa. Untungnya hal itu tidak terjadi.

---

Di sisi lain medan perang —

Tyrannons berdiri di atas kapal komando Tartanos. Tatapannya tertuju ke luar jendela besar. Ke arah armada kekaisaran yang masih memenuhi sebagian ruang angkasa. Tangannya mengepal. Ia tidak menyukai keputusan ini. Sama sekali tidak.

Jauh di dalam hatinya — ia masih ingin bertarung. Masih ingin melanjutkan perlawanan. Masih ingin membuktikan bahwa perjuangan mereka belum berakhir. Namun kenyataan terlalu jelas untuk diabaikan. Thraxor masih ada. Hydra masih ada. Tiga Sacred Zodiac masih berada di wilayah ini. Dan sekarang — Rangers juga hadir.

Jumlah mereka memang tidak banyak. Namun masing-masing adalah monster dalam medan perang. Makhluk-makhluk yang mampu mengubah arah konflik sendirian.

Tyrannons menghela napas panjang. Kemudian mengaktifkan saluran komunikasi armada.

"Semua unit Tartanos." Suara pemimpin pemberontak itu terdengar ke seluruh armada. "Mulai prosedur mundur."

Beberapa detik hening. Lalu jawaban mulai berdatangan. "Perintah diterima." "Memulai penarikan pasukan." "Seluruh armada bersiap meninggalkan sektor."

---

Di ruang komando —

Rea menatap Tyrannons. Ia tahu betapa berat keputusan tersebut. Kali ini — mundur memang pilihan terbaik. Melanjutkan perang hanya akan membawa lebih banyak korban.

Satu per satu armada Tartanos mulai bergerak. Mesin warp dinyalakan. Formasi penarikan dibentuk. Dan perlahan — pasukan pemberontak mulai meninggalkan Ursa Major.

---

Tidak semua orang menerima keputusan itu dengan tenang.

Hydra menatap armada yang mulai menjauh. Beberapa kepalanya langsung menggeram. "Apa? Mereka pergi? Pertarunganku belum selesai!" Aura gelap mulai muncul dari tubuhnya. Pedang berantainya kembali bergetar. Hydra melangkah maju. Ia berniat mengejar. Berniat melanjutkan pertarungan dengan Pegasus. Dan mungkin juga memburu pasukan Tartanos yang mundur.

Saat itulah — sebuah jari terangkat.

Rangers. Jenderal itu hanya menunjuk ke arah Hydra.

Dalam sekejap — mata Hydra membelalak. Tubuhnya membeku. Jiwanya seperti dihantam sesuatu yang tidak terlihat.

*WHOOOMMMM!! *

Gelombang tekanan tak kasat mata menyelimuti dirinya. Hydra langsung kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam ruang kosong. Tubuh besarnya ambruk.

"A-Apa?!" Salah satu kepalanya berteriak. "Kakiku—!" "Kupikir aku tidak bisa bergerak!"

Hydra mencoba bangkit. Namun gagal. Tubuhnya mengalami kelumpuhan sementara. Bukan karena luka. Bukan karena racun. Melainkan karena tekanan kekuatan yang terlalu besar.

---

Beberapa Zodiac memperhatikan pemandangan itu. Capricorn mengangkat alis. Virgo berkedip beberapa kali. Dan Taurus menoleh sedikit. Mereka tahu Hydra kuat. Namun Rangers membuatnya lumpuh hanya dengan satu gerakan sederhana.

Rangers tetap tenang. Tatapannya mengarah pada Hydra. "Jangan mengejar mereka," ucapnya. Nada suaranya datar. Tidak memberi ruang untuk bantahan.

Hydra menggertakkan gigi. Jelas terlihat ia tidak senang. Namun bahkan dirinya tahu. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan.

---

Rangers kemudian mengalihkan pandangannya. Ke arah armada Tartanos yang mulai menjauh. Ke arah Tyrannons.

Untuk sesaat — tidak ada yang berbicara. Seolah dua orang itu sedang mengenang masa lalu yang sama. Dulu. Tyrannons adalah seorang pangeran. Pewaris yang dihormati. Seseorang yang dicintai banyak rakyat kekaisaran. Dan Rangers adalah salah satu orang yang mengajarinya.

Waktu telah mengubah segalanya.

Rangers menutup matanya sesaat. Kemudian membuka kembali. "Tidak ada gunanya," gumamnya pelan.

Thraxor yang berdiri tidak jauh darinya memahami maksud kata-kata tersebut. Rangers tidak berniat mengejar. Tidak berniat membujuk. Tidak berniat menangkap Tyrannons hari ini. Ia sudah tahu jawabannya. Tyrannons tidak akan kembali. Apa pun yang terjadi — pemuda itu telah memilih jalannya sendiri.

Rangers memandang armada yang perlahan menghilang ke dalam ruang warp. Lalu berkata pelan. "Kau sudah bukan pangeran kekaisaran lagi." Tatapannya tetap tenang. "Sekarang kau adalah musuh kami."

---

Di kejauhan —

Tyrannons yang berdiri di kapal komando seolah dapat merasakan kata-kata itu. Ia tidak menoleh. Tidak ragu. Tidak berhenti.

Armada Tartanos terus bergerak menjauh. Meninggalkan Ursa Major. Meninggalkan perang yang akhirnya berakhir tanpa pemenang.

Sementara di belakang mereka. Rangers berdiri diam di tengah lautan armada emas. Menatap ke arah ruang kosong yang ditinggalkan murid lamanya.

Ia mengetahui satu kenyataan yang tak bisa diubah. Pertemuan berikutnya antara dirinya dan Tyrannons — mungkin tidak akan berakhir dengan perdamaian lagi.

More Chapters