Pagi kembali menyelimuti Urco Tastarius. Cahaya bintang buatan menerangi menara-menara emas yang menjulang tinggi di seluruh ibu kota galaksi. Hari baru telah dimulai. Namun pikiran Oreons masih belum sepenuhnya tenang.
Di dalam kamar kekaisaran. Oreons perlahan membuka matanya. Ia terdiam beberapa saat. Mengingat kembali percakapannya dengan Yllarxa semalam. Tentang tekanan misterius. Tentang sosok yang belum diketahui identitasnya. Dan tentang seseorang yang akan dikirim untuk menyelidikinya. Maxtis Xorgat.
Nama itu kembali muncul di benaknya. Oreons menghela napas pelan. Lalu bangkit dari tempat tidurnya.
Tak jauh darinya. Yllarxa sudah bersiap sejak lebih awal. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana berwarna putih dan biru muda. Tidak dipenuhi perhiasan. Tidak mewah seperti para bangsawan istana. Tapi justru itulah yang membuatnya terlihat berbeda.
Oreons menatapnya beberapa saat. Yllarxa menyadari tatapan itu. "Kenapa? Apa ada yang salah denganku?" tanyanya pelan.
Oreons hanya tersenyum tipis. "Tidak ada." Baginya. Yllarxa tidak membutuhkan kemewahan untuk terlihat cantik. Dan Yllarxa sudah terlalu mengenal sifat Oreons. Ia hanya menggelengkan kepala kecil.
---
Tak lama kemudian. Keduanya berjalan meninggalkan kamar menuju aula utama istana. Pintu raksasa aula perlahan terbuka. Kedatangan mereka langsung menarik perhatian semua orang. Para petinggi galaksi. Para bangsawan. Para jenderal. Dan para penjaga istana. Mereka segera memberikan penghormatan.
"Salam untuk Kaisar Galaksi." Suara itu menggema memenuhi aula.
Oreons hanya mengangguk ringan.
Sementara itu. Di dekat meja rapat utama. Rangers akhirnya menghela napas panjang. "Syukurlah," gumamnya pelan.
Oreons melirik ke arahnya. "Kenapa denganmu?"
Rangers menyilangkan tangan. "Aku sudah lelah memimpin rapat."
Beberapa petinggi langsung menahan senyum. Mendengar itu. Yllarxa tertawa kecil. Rangers menoleh kepadanya. Yllarxa segera menutupi mulutnya. Namun senyumnya tetap terlihat.
Bagi Yllarxa. Rangers bukan sekadar jenderal terkuat kekaisaran. Ia sudah menganggapnya seperti kakak sendiri. Seseorang yang selalu menjaganya ketika Oreons sedang sibuk mengurus galaksi. Dan Rangers sendiri juga memperlakukannya seperti adik yang harus dilindungi.
Suasana aula perlahan kembali normal.
---
Tidak berlangsung lama —
Tiba-tiba — Pintu utama aula terbuka kembali.
*CLAAANG! *
Suara logam bergema. Semua orang menoleh. Suasana langsung hening.
Seorang prajurit elit berarmor emas memasuki aula. Langkahnya tegas. Tatapannya lurus. Sesampainya di tengah ruangan. Ia segera berlutut.
"Jenderal Rangers."
Rangers menatapnya. "Ada laporan?"
Prajurit itu mengangguk. "Pesan telah disampaikan. Saya sudah menemui Jenderal Maxtis Xorgat."
Mata beberapa petinggi langsung berubah. Nama itu jelas tidak asing. Beberapa bangsawan terlihat sedikit gugup. Mereka tahu siapa Maxtis. Pria yang lebih sering menyelesaikan masalah dengan pedang dibanding kata-kata.
Rangers mengangguk pelan. "Bagus. Itu saja?"
Prajurit tersebut menjawab. "Jenderal Maxtis mengatakan bahwa ia akan segera datang ke istana."
Rangers tersenyum tipis. "Itu sudah cukup."
Prajurit itu segera memberi hormat sebelum mundur.
---
Setelah laporan tersebut. Suasana aula berubah. Tegang. Penasaran. Beberapa petinggi mulai saling berbisik. Mereka tahu. Maxtis jarang dipanggil langsung oleh Oreons. Dan setiap kali itu terjadi — biasanya sesuatu yang besar akan terjadi.
Di sudut aula. Lord Rylos bersandar santai di kursinya. Topeng armornya menutupi wajah. Seringai tipis terlihat di baliknya. "Heh." Ia tertawa pelan. Baginya. Kehadiran Maxtis selalu berarti satu hal. Masalah. Atau pertarungan. Kadang keduanya sekaligus.
"Kalau Oreons sampai memanggilnya — berarti ada sesuatu yang cukup besar," gumam Rylos. Ia menyandarkan tubuhnya lebih santai. Matanya berkilat penuh minat. "Sepertinya galaksi tidak akan tenang terlalu lama."
---
Sementara itu. Oreons tetap duduk di singgasananya. Tatapannya tenang. Namun pikirannya jauh melampaui aula ini. Jauh menuju sumber tekanan misterius yang sempat mengguncang galaksi.
Ia ingin mengetahui kebenarannya. Dan untuk itu. Ia telah memilih orang yang tepat. Seseorang yang tidak akan mundur meski harus menghadapi monster, dewa, ataupun entitas semesta. Seseorang yang akan terus maju selama masih bisa menghunus pedangnya.
Maxtis Xorgat. Sang Pedang Kembar Kekaisaran.
