Cherreads

Chapter 726 - Maxtis Xorgat

Langit Urco Tastarius dipenuhi lalu-lalang kapal militer. Armada penjaga bergerak sesuai jalurnya. Para prajurit menjalankan tugas seperti biasa.

Pagi itu — suasana di sekitar istana terasa berbeda. Ribuan prajurit kekaisaran berdiri membentuk barisan rapi. Tidak ada perintah khusus yang terdengar. Tidak ada upacara resmi. Namun mereka semua mengetahui satu hal. Seseorang telah datang.

Dari kejauhan. Seorang pria berjalan sendirian menuju istana. Langkahnya tenang. Tidak terburu-buru. Setiap langkahnya seolah membawa tekanan yang membuat suasana menjadi lebih berat.

Pria itu mengenakan mantel tempur berwarna gelap. Dua pedang kembar tergantung di pinggangnya. Bekas luka panjang terlihat jelas membelah salah satu sisi wajahnya. Maxtis Xorgat. Salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran.

Tidak ada pengawal. Tidak ada ajudan. Tidak ada pasukan elit yang mengiringinya. Ia berjalan sendirian. Kehadirannya saja sudah cukup membuat banyak prajurit menegakkan tubuh mereka secara refleks.

Beberapa prajurit muda bahkan menelan ludah. Mereka pernah mendengar kisah tentang Maxtis. Tentang pertempuran-pertempuran yang ia menangkan. Tentang planet-planet yang pernah menjadi medan tempurnya. Dan tentang kebiasaannya mencari lawan kuat ke seluruh penjuru galaksi.

Maxtis tidak memedulikan tatapan mereka. Tatapannya hanya tertuju pada satu tempat. Istana Urco Tastarius.

Ia berhenti sesaat di halaman utama. Memandang bangunan megah yang menjadi pusat galaksi itu. Hening. Lalu ia kembali berjalan.

---

Tak lama kemudian. Pintu aula utama terbuka. Ruang rapat galaksi yang luas kembali hening. Semua mata tertuju pada sosok yang baru masuk.

Maxtis berjalan hingga ke tengah aula. Lalu berhenti. Ia menundukkan kepalanya. Memberi hormat kepada satu-satunya orang yang diakuinya sebagai pemimpin. Oreons Galactive.

"Yang Mulia," ucap Maxtis singkat.

Oreons mengangguk. "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga."

Maxtis mengangkat kepalanya. "Saya mendengar ada tugas penting." Tatapannya terlihat penuh harapan. Beberapa petinggi langsung memahami maksudnya. Maxtis jelas berharap mendapat tugas yang berhubungan dengan perang besar. Atau setidaknya pertarungan yang layak.

Oreons hanya menjawab dengan tenang. "Ada tugas untukmu."

Mata Maxtis langsung berbinar. "Tugas apa itu Yang Mulia?"

Oreons menyandarkan tubuhnya ke singgasana. "Kau akan menyelidiki sumber tekanan yang sempat mengguncang galaksi."

Seketika. Ekspresi Maxtis berubah. Bukan kecewa. Justru penasaran. Tekanan itu. Ia juga merasakannya. Meski saat itu berada jauh dari pusat galaksi. Namun aura tersebut cukup besar untuk membuat seluruh semesta terasa berbeda.

Oreons melanjutkan. "Cari tahu siapa pemilik kekuatan itu. Dan laporkan hasilnya."

Maxtis terdiam beberapa saat. Lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. "Kalau aku menemukannya —" Ia memegang salah satu gagang pedangnya. "— aku akan menantangnya."

Beberapa petinggi langsung memegang kepala mereka. Yllarxa tidak tahu harus tertawa atau menghela napas. Oreons tampak tidak terkejut. Karena itulah Maxtis.

"Aku tidak melarangmu," jawab Oreons.

Mata Maxtis langsung berbinar penuh semangat. "Itu bagus."

Tanpa banyak pertanyaan lagi. Tanpa meminta penjelasan tambahan. Tanpa membuang waktu. Maxtis langsung berbalik. "Kalau begitu saya berangkat."

Dan begitu saja ia berjalan keluar aula. Meninggalkan para petinggi yang hanya bisa menggelengkan kepala.

---

Di luar istana —

Sebuah armada kekaisaran telah menunggu. Maxtis menatap kapal utama di depan matanya. Lalu melompat.

*WHOOSH! *

Tubuhnya melesat tinggi. Dan mendarat tepat di atas dek kapal komando.

*DUUM! *

Logam kapal bergetar akibat benturan. Para prajurit segera memberi hormat.

Maxtis tidak memedulikan mereka. Ia hanya memandang ke arah hamparan bintang yang tak berujung. Di suatu tempat. Ada seseorang. Atau sesuatu. Yang mampu menghasilkan tekanan sebesar itu. Dan entah kenapa — hal itu membuat darahnya bergejolak.

Tak lama kemudian. Mesin armada mulai menyala. Cahaya warp memenuhi angkasa. Satu per satu kapal bergerak meninggalkan Urco Tastarius. Membawa Maxtis menuju wilayah yang belum diketahui. Menuju sumber misteri yang mengguncang galaksi.

---

Sementara itu. Di dalam aula —

Yllarxa masih memperhatikan armada yang menjauh melalui layar hologram. Ia tidak mengatakan apa-apa. Namun ekspresinya menunjukkan sedikit kekhawatiran.

Di dekat pintu. Rangers kembali berdiri seperti biasa. Kedua tangannya terlipat di dada. Tatapannya mengikuti keberangkatan armada tersebut. Lalu ia menghela napas panjang.

"Aku tidak yakin ini akan berjalan baik," gumamnya.

Yllarxa menoleh. "Apa karena Jenderal Maxtis?"

Rangers mengangguk. "Tidak ada yang meragukan kekuatannya. Masalahnya adalah sifatnya." Ia teringat berbagai insiden yang pernah terjadi. Pertarungan yang sebenarnya bisa dihindari. Planet yang hampir hancur. Dan musuh yang berubah menjadi lawan hanya karena Maxtis merasa tertarik.

Rangers memejamkan mata sejenak. "Kalau dia menemukan pemilik tekanan itu — kemungkinan besar dia akan menyerang lebih dulu sebelum bertanya."

More Chapters