Langit Konstelasi Ursa Major dipenuhi cahaya. Ribuan. Bahkan puluhan ribu titik terang bergerak perlahan meninggalkan wilayah itu. Armada Orion. Armada Cepheus. Armada Tartanos. Kapal Nexus S-4473 milik X.A.R.A. Semuanya bergerak menuju tujuan yang sama. Konstelasi Draco.
Di berbagai planet dan stasiun luar angkasa Ursa Major, banyak penduduk keluar untuk menyaksikan pemandangan itu. Anak-anak melambaikan tangan mereka ke langit. Para pedagang menghentikan aktivitasnya sejenak. Bahkan para pekerja yang sedang memperbaiki kerusakan pasca perang ikut menatap ke atas. Mereka melihat lautan cahaya yang perlahan menjauh. Seperti gugusan bintang yang meninggalkan rumahnya.
"Semoga mereka berhasil," ucap seorang warga.
"Dan semoga mereka kembali dengan selamat," jawab yang lain.
---
Tidak semua orang memandang keberangkatan itu dengan perasaan tenang. Di dalam istana. Beberapa petinggi Ursa Major berkumpul sambil mengamati armada yang perlahan menghilang dari radar. Aryes dan Tyrannons mungkin telah pergi. Tetapi kekhawatiran mereka masih tertinggal.
Salah seorang bangsawan tua menghela napas panjang. "Semoga mereka tidak memulai perang baru di Draco." Beberapa orang langsung mengangguk setuju. Mereka semua memahami maksudnya. Draco bukan wilayah biasa. Dan jika terjadi konflik besar di sana... Bukan tidak mungkin para jenderal kekaisaran kembali turun tangan. Mengingat betapa cepatnya kekaisaran merespons ancaman yang dianggap berbahaya. Nama-nama seperti Thraxor. Hydra. Bahkan Rangers. Masih cukup membuat banyak orang merasa waspada.
---
Sementara itu. Di balkon istana yang tinggi —
Arcas berdiri sendirian. Angin kosmik berhembus pelan melewati pakaiannya. Tatapannya tertuju ke langit. Ke arah ribuan cahaya yang semakin lama semakin kecil. Hingga akhirnya hanya tampak seperti titik-titik bintang biasa.
Arcas tetap diam. Tanpa berkata apa pun. Biasanya ia akan bersemangat melihat armada besar bergerak menuju petualangan baru. Tapi kali ini berbeda. Ada perasaan aneh di dalam dirinya. Perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan iri. Bukan juga sedih. Melainkan frustrasi.
Tangannya perlahan mengepal. Pikirannya kembali mengingat perang yang telah berlalu. Mengingat betapa tidak berdayanya dirinya saat itu. "Aku masih terlalu lemah..." gumamnya pelan. Mode Kristal Merah miliknya memang sangat kuat. Namun tubuhnya belum mampu menahan kekuatan itu dalam waktu lama. Setiap kali digunakan. Tubuhnya akan mengalami tekanan besar. Bahkan bisa membuatnya tidak mampu bertarung setelahnya. Itulah kelemahannya. Dan Arcas sangat membenci kelemahan itu.
Jika suatu hari perang besar terjadi lagi... Ia tidak ingin hanya menjadi penonton. Ia ingin berdiri di garis depan. Bertarung bersama semua orang. Bukan tertinggal di belakang.
