Cherreads

Chapter 752 - Jenderal yang Malas Berperang

Di luar wilayah Ursa Major. Ribuan kapal perang perlahan bergerak menembus lautan bintang. Formasi armada mereka begitu besar hingga menutupi sebagian cahaya kosmik di belakangnya. Meriam-meriam raksasa telah aktif. Pasukan elit berjaga di berbagai dek kapal. Namun anehnya. Tidak ada tanda-tanda serangan. Tidak ada hujan tembakan. Tidak ada perintah menyerbu.

Di bagian paling depan armada. Berdiri seorang pria berjubah hitam. Jubahnya berkibar pelan diterpa gelombang energi ruang angkasa. Aura hijau samar mengelilingi tubuhnya. Di bahunya bertumpu sebuah senjata panjang. Pedang besar yang ujung bilahnya menyerupai kapak perang.

Pria itu menatap Ursa Major dari kejauhan. Lalu menghela napas panjang. "Kenapa harus aku..." gumamnya pelan. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Wajahnya menunjukkan ekspresi bosan. Seolah sedang dipaksa melakukan pekerjaan yang tidak ia sukai.

Pria itu adalah... Rhythm Armedeus. Salah satu jenderal Kekaisaran Galaksi. Namanya tidak setenar Rangers. Tidak seganas Thraxor. Tidak segila Maxtis. Namun semua orang di kekaisaran mengetahui satu hal. Rhythm sangat kuat. Dan sangat malas.

Menurut banyak prajurit. Musuh terbesar Rhythm bukanlah para pemberontak. Melainkan rasa malasnya sendiri.

---

Rhythm kembali melihat data misi yang terpampang di layar hologram. Target: Ursa Major. Status: Penaklukan dan Integrasi ke dalam Kekaisaran. Rhythm langsung menghela napas lagi. "Aku benar-benar tidak ingin melakukan ini," katanya.

Beberapa perwira di dekatnya hanya saling berpandangan. Mereka sudah terbiasa. Bahkan sebelum misi dimulai. Jenderal mereka sudah mengeluh lebih dulu. Tapi tetap saja. Tidak ada yang berani meremehkannya. Ketika Rhythm benar-benar bertarung. Bahkan para jenderal lain mengakui kekuatannya.

Tak lama kemudian. Sebuah layar hologram muncul di hadapannya. Rhythm langsung memalingkan wajah. Seolah berharap panggilan itu menghilang sendiri. Namun layar itu tetap ada. Ia menghela napas. Lalu menerima panggilan tersebut.

Muncullah sosok seorang gadis berambut panjang. Yllarxa. Rhythm langsung menegakkan tubuhnya. Karena tetap terlihat malas. "Yllarxa," sapanya.

Yllarxa tersenyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan kau sudah tiba."

Rhythm mengangguk. "Sudah. Dan aku masih berharap tugas ini dibatalkan."

Yllarxa menggeleng pelan. "Aku hanya menjalankan perintah Yang Mulia Oreons."

Mendengar nama itu. Rhythm langsung diam. Seketika semua alasan yang ingin ia keluarkan menghilang. Melawan perintah Oreons? Tidak. Itu bukan pilihan. Rhythm mungkin malas. Tetapi ia tidak bodoh. Lebih baik menjalankan misi yang merepotkan. Daripada membuat Oreons murka.

"Itu yang kutakutkan," gumamnya.

Yllarxa tersenyum kecil. "Aku percaya kau bisa menyelesaikannya."

Rhythm hanya mengangguk. Setelah beberapa saat. Panggilan pun berakhir.

---

Rhythm kembali menatap Ursa Major. Matanya sedikit menyipit. Ia sebenarnya tidak memiliki dendam terhadap konstelasi itu. Tidak pula tertarik menghancurkannya. Kalau bisa. Ia ingin menyelesaikan semuanya tanpa bertarung. "Lebih mudah begitu," gumamnya.

Kemudian ia menoleh ke arah para komandan armada. "Jangan menyerang," ucapnya.

Semua perwira langsung terkejut. "T-Tuan Jenderal?"

Rhythm mengangkat tangannya. "Aku bilang jangan menyerang. Kita belum memulai perang."

Para komandan segera mengangguk.

Rhythm melanjutkan. "Aku akan berbicara dengan mereka lebih dulu. Jika mereka mau tunduk pada kekaisaran. Kita pulang."

Beberapa perwira tampak lega. Namun yang lain sedikit bingung. Biasanya misi penaklukan dilakukan dengan tekanan militer. Bukan diplomasi. Tetapi karena yang berbicara adalah Rhythm. Tidak ada yang berani membantah.

Rhythm kembali mengangkat pandangannya ke arah Ursa Major. Di benaknya. Muncul nama Arcas dan Callisto. Pemimpin yang saat ini menjaga konstelasi itu. Ia berharap mereka cukup bijak untuk menerima tawaran damai. Karena jika tidak... Ia terpaksa turun tangan. Dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.

"Bekerja itu merepotkan," keluhnya.

Beberapa prajurit di belakangnya menahan tawa. Sementara armada kekaisaran terus mendekati Ursa Major. Bukan sebagai badai penghancur. Melainkan sebagai ancaman besar yang masih menahan diri.

More Chapters