Jauh dari Konstelasi Draco. Di pusat galaksi berdiri sebuah planet raksasa bernama Urco Tastarius, dunia yang menjadi jantung Kekaisaran Galaksi sekaligus tempat berkumpulnya para petarung terkuat dari berbagai konstelasi.
Hari itu... Planet tersebut dipenuhi lautan manusia. Sorak-sorai menggema dari arena pertarungan kekaisaran yang megah. Tribun raksasa dipenuhi jutaan penonton yang datang untuk menyaksikan duel para petarung terbaik dari seluruh penjuru galaksi. Dentuman demi dentuman memenuhi arena.
Seorang petarung dari Konstelasi Altair menghantam lawannya dengan palu gravitasi, sementara di sisi lain seorang pendekar dari Konstelasi Lyra mengendalikan ribuan bilah cahaya yang menari di udara. Setiap pertandingan berlangsung sengit. Masing-masing petarung menunjukkan kemampuan terbaik demi meraih kehormatan bagi konstelasi mereka.
---
Di tepi arena...
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya tajam, wajahnya tenang, dan aura yang dipancarkannya membuat para petarung menjaga jarak tanpa perlu diperintah. Dialah Rangers. Jenderal terkuat dari tiga belas jenderal utama Kekaisaran Galaksi. Hari itu, ia bertugas sebagai wasit. Namun, kehadirannya saja sudah lebih dari cukup untuk menjaga ketertiban.
Tak ada seorang pun yang berani berbuat curang. Tak ada yang berani menyerang setelah pertandingan berakhir. Semua memahami satu hal. Jika Rangers bergerak... Pertarungan akan berakhir dalam sekejap. Tatapannya terus mengawasi setiap sudut arena, memastikan seluruh duel berlangsung sesuai aturan kekaisaran.
---
Di atas arena, menjulang sebuah balkon istana yang menghadap langsung ke medan pertandingan.
Di sana duduk seorang gadis berambut panjang dengan wajah yang begitu anggun. Yllarxa. Meski kecantikannya memikat perhatian siapa pun yang melihatnya, ekspresi wajahnya tampak muram. Tatapannya kosong. Sorak-sorai para penonton tidak mampu mengusir kegelisahan yang memenuhi hatinya.
Di dalam benaknya terus terngiang satu perintah. Perintah dari Kaisar Galaksi. Oreons Galactive. Setiap kali ada konstelasi yang menolak tunduk kepada Kekaisaran Galaksi... Tiga belas jenderal utama akan dikirim. Mereka akan menaklukkan. Menghancurkan perlawanan. Memaksa seluruh wilayah kembali berada di bawah panji kekaisaran.
Yllarxa perlahan menundukkan kepala. "Berapa banyak perang lagi yang akan terjadi...?" Ia tidak membenci kekaisaran. Tapi ia juga tidak sanggup mengabaikan penderitaan yang ditimbulkan oleh peperangan tanpa akhir.
Di sampingnya... Seorang pria duduk dengan santai di singgasana berlapis logam hitam. Oreons. Kaisar Galaksi. Tatapannya tertuju penuh pada arena pertarungan. Sesekali ia tersenyum ketika melihat seorang petarung menunjukkan kemampuan yang luar biasa. "Bakat yang menarik," gumamnya pelan.
Tangannya tetap bergerak lembut mengusap rambut Yllarxa, seolah menyadari kegelisahan gadis itu. Namun pandangannya tidak pernah berpindah dari arena. Baginya... Pertarungan para petarung berbakat jauh lebih menarik daripada urusan politik yang membosankan.
Sorakan penonton semakin keras ketika salah satu peserta berhasil memenangkan duel dengan teknik yang luar biasa. Oreons tersenyum puas. "Lihat itu. Galaksi masih melahirkan petarung-petarung hebat."
Yllarxa hanya terdiam. Ia tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke lantai balkon.
---
Sementara itu... Di aula utama istana.
Suasananya jauh berbeda. Tidak ada sorakan. Tidak ada kegembiraan. Yang terdengar hanyalah perdebatan para petinggi galaksi. Peta-peta holografik memenuhi ruangan. Laporan dari berbagai konstelasi terus berdatangan. Beberapa wilayah mulai menunjukkan tanda-tanda pemberontakan. Sebagian lainnya meminta bantuan militer akibat konflik yang semakin meluas.
Seorang pejabat senior menghela napas panjang. "Yang Mulia seharusnya menghadiri rapat ini." Pejabat lain mengangguk pelan. "Masalah di perbatasan semakin banyak. Tetapi Yang Mulia justru memilih menikmati pertandingan." Rasa kesal tampak jelas di wajah mereka. Mereka memahami kekuatan Oreons. Mereka juga menghormati kepemimpinannya. Namun sebagai Kaisar Galaksi, keputusan untuk lebih memilih menyaksikan arena dibandingkan menghadiri rapat penting membuat banyak petinggi mulai kesal.
---
Di balkon...
Yllarxa masih tertunduk. Ia tahu alasan di balik setiap keputusan Oreons. Kaisar itu menjunjung tinggi hukum Kekaisaran Galaksi di atas segalanya. Dalam aturan tersebut, setiap konstelasi yang menolak tunduk dianggap sebagai ancaman terhadap kestabilan galaksi. Ancaman itu harus dihancurkan. Tanpa pengecualian.
Yllarxa ingin menghentikan siklus peperangan itu. Ia ingin menyampaikan isi hatinya. Tetapi setiap kali kata-kata itu hendak keluar, ia kembali terdiam. Ia tidak mampu menentang perintah sang kaisar. Yang bisa dilakukannya hanyalah memandang arena di kejauhan dengan hati yang dipenuhi kegelisahan.
Di tengah sorak kemenangan para penonton, Yllarxa justru membayangkan kobaran perang yang mungkin akan segera menyelimuti lebih banyak konstelasi. Dan jika tidak ada yang mampu mengubah arah kebijakan Kekaisaran Galaksi... Maka bintang-bintang di langit hanya akan menjadi saksi bagi peperangan yang terus berlanjut tanpa akhir.
