Arena pertarungan di Urco Tastarius masih dipenuhi sorak-sorai. Para petarung dari berbagai konstelasi terus menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Ledakan energi, benturan senjata, dan teknik-teknik luar biasa silih berganti menghiasi arena.
Di antara para peserta... Berdiri seorang pemuda dengan rambut hitam dan tatapan setenang permukaan danau. Namanya Varxa Agxorath. Ia berasal dari Konstelasi Pyxis, sebuah wilayah yang terkenal sebagai pusat sumber daya energi terbesar di galaksi. Banyak reaktor bintang, kristal kosmik, dan inti energi langka berasal dari konstelasi tersebut. Karena itulah, Pyxis menjadi salah satu konstelasi terkaya dan paling berpengaruh di bawah Kekaisaran Galaksi.
Tetapi... Varxa bukanlah seorang bangsawan. Bukan pula pewaris takhta. Ia hanyalah seorang budak. Seseorang yang hidup dengan mematuhi setiap perintah majikannya. Wajahnya masih tampak muda. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan pemuda biasa. Akan tetapi, tatapan matanya begitu dingin hingga sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya. Seolah-olah seluruh emosinya telah lama terkubur.
Ia berdiri tenang di ruang tunggu peserta sambil memperhatikan arena. Hari ini... Ia datang bukan demi ketenaran. Bukan pula demi hadiah. Ia hanya ingin menguji kekuatannya.
---
Di tribun khusus para petinggi konstelasi...
Seorang wanita duduk dengan anggun sambil menyilangkan kedua kakinya. Gaun mewah yang dikenakannya berkilau diterpa cahaya arena. Meski usianya telah mencapai ratusan tahun, wajahnya tetap tampak muda dan memikat. Tatapan matanya tenang, sementara senyum tipis selalu menghiasi bibirnya. Di belakangnya berdiri beberapa pengawal bersenjata lengkap.
Wanita itu adalah Graces Serentha. Seorang bangsawan kaya dari Kerajaan Alpha Pyxidis. Walaupun bukan anggota keluarga kerajaan, kekayaan dan pengaruhnya membuat namanya dihormati di seluruh Konstelasi Pyxis. Tatapannya tertuju ke arah arena. Lebih tepatnya... Ke arah Varxa. Ia memperhatikan setiap gerakan pemuda itu dengan penuh perhatian.
Varxa menyadari tatapan tersebut. Namun ia memilih mengabaikannya. Di dalam hatinya, ia merasa beruntung telah menjadi milik Graces. Sebelum bertemu wanita itu... Ia membayangkan kehidupan sebagai budak akan dipenuhi siksaan dan penghinaan. Tapi kenyataannya berbeda. Graces tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Wanita itu selalu berbicara dengan tenang. Memberinya tempat tinggal yang layak. Bahkan memastikan ia memperoleh perlengkapan terbaik untuk berlatih.
Sikap lembut Graces sering kali membuat Varxa merasa bingung. "Kenapa dia memperlakukanku seperti ini?" Pertanyaan itu beberapa kali muncul dalam benaknya. Ia segera menghapus pikiran tersebut. Baginya, alasan Graces bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan. Yang terpenting... Ia harus menjalankan tugas sebagai budak dengan sebaik-baiknya.
---
Tatapan Varxa kembali mengarah ke arena. Suara sorakan penonton terdengar semakin keras. Beberapa petarung baru saja menyelesaikan duel mereka. Sebentar lagi... Gilirannya akan tiba. Ia menarik napas perlahan. Tangannya mengepal.
Di balik ketenangannya, tersimpan pengalaman yang tidak diketahui banyak orang. Sebelum menjadi budak... Varxa pernah menjadi seorang prajurit Kekaisaran Galaksi. Ia menjalani berbagai misi di bawah panji kekaisaran. Keahliannya membuat banyak atasan menaruh harapan besar kepadanya. Namun semuanya berubah karena satu kesalahan. Ia terlibat dalam sebuah jaringan perdagangan gelap antargalaksi. Meskipun alasan di balik keterlibatannya tidak pernah diketahui publik, hukum kekaisaran tetap dijalankan tanpa pengecualian. Status militernya dicabut. Namanya dihapus dari daftar prajurit. Lalu ia dibuang. Tak lama kemudian... Ia dijual sebagai budak.
Sejak hari itu, kehidupan Varxa berubah sepenuhnya. Kini ia tidak lagi membawa lambang Kekaisaran Galaksi. Ia hanya membawa nama majikannya. Graces Serentha.
Varxa memejamkan mata sejenak. Masa lalunya tidak mungkin diubah. Yang ada di hadapannya sekarang hanyalah arena pertarungan. Tempat untuk membuktikan bahwa meskipun tak lagi menjadi seorang prajurit, kekuatan yang dimilikinya belum pernah benar-benar hilang.
Di atas tribun kehormatan, Graces tetap memandang ke arah Varxa. Senyumnya tipis, namun sorot matanya menyimpan keyakinan. Ia percaya... Saat Varxa melangkah ke arena, seluruh penonton akan segera mengetahui bahwa budak dari Konstelasi Pyxis itu bukanlah petarung biasa.
