Cherreads

Chapter 777 - Jenderal Pedang Kembar

Ribuan cahaya yang memenuhi Konstelasi Draco akhirnya memperlihatkan wujud aslinya. Satu demi satu kapal perang keluar dari celah ruang. Lambang Kekaisaran Galaksi terpampang megah di setiap lambung kapal. Dalam waktu singkat, armada raksasa itu memenuhi ruang angkasa. Formasi mereka begitu rapi hingga menutupi sebagian cahaya bintang.

Di barisan paling depan... Melayang sebuah kapal perang utama yang ukurannya jauh melampaui kapal-kapal lainnya. Di haluan kapal itu berdiri seorang pria bertubuh tinggi. Sebuah bekas luka membentang di sisi wajahnya. Jubah hitamnya berkibar perlahan, meskipun ruang angkasa tidak memiliki angin. Di punggungnya tersilang sepasang pedang kembar. Kedua pedang itu memiliki bilah hitam dengan semburat merah gelap. Nama keduanya dikenal di seluruh galaksi sebagai Demonic Twin Swords.

Pria itu adalah... Maxtis Xorgat. Salah satu dari Tiga Belas Jenderal Utama Kekaisaran Galaksi.

Tidak seperti Rhythm Armedeus yang lebih suka menyelesaikan masalah tanpa bertarung, Maxtis justru terkenal karena semangatnya dalam menghadapi lawan kuat. Baginya... Pertempuran adalah cara terbaik untuk membuktikan kekuatan. Banyak yang menganggapnya lebih berbahaya daripada Rhythm. Namanya sering disejajarkan dengan Thraxor, sang pengguna pedang raksasa, dan Kaidles, ahli pedang panjang yang terkenal karena tekniknya yang sempurna.

Tetapi... Bahkan di antara para jenderal utama itu, Maxtis tetap dipandang sebagai salah satu petarung paling menakutkan. Bukan hanya karena kekuatannya. Melainkan karena pengalamannya. Jauh sebelum menjadi jenderal utama... Maxtis pernah menantang para dewa yang menjaga keseimbangan galaksi. Pertarungan itu memang berakhir dengan kekalahannya. Namun ia berhasil bertahan hidup dari lawan yang hampir mustahil dihadapi. Sejak saat itu, reputasinya semakin dikenal di seluruh galaksi.

---

Kini... Ia datang ke Konstelasi Draco bukan untuk memulai perang. Melainkan menjalankan perintah langsung dari Kaisar Oreons. Mencari pemilik tekanan energi luar biasa yang sempat mengguncang galaksi. Sosok yang dimaksud... Adalah Storm.

Saat pandangannya menyapu seluruh konstelasi... Tatapannya berhenti pada satu armada. Armada Pemberontak Tartanos. Dan di kapal utamanya... Berdiri seseorang yang sangat dikenalnya. Tyrannons.

Untuk sesaat... Suasana di Konstelasi Draco terasa membeku. Maxtis tidak menunjukkan senyum seperti biasanya. Tatapannya tetap dingin. Sementara Tyrannons membalas pandangan itu tanpa sedikit pun menghindar.

Di kapal pemberontak... Rea merasakan tekanan yang dipancarkan Maxtis. Ia mengepalkan tangannya. "Tekanan ini... Jauh berbeda dari sebelumnya."

Astralon juga menyipitkan mata. Aura yang dipancarkan sang jenderal begitu besar hingga membuat udara di ruang komando terasa berat. "Kalau benar dia menyerang... Ini akan menjadi pertarungan yang sangat sulit."

Tyrannons tetap tenang. Ia melangkah maju hingga berdiri di bagian paling depan kapal. Tangannya perlahan menggenggam pedang. Tatapannya tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Ia mengenal Maxtis. Salah satu jenderal yang dahulu pernah mengajarinya banyak hal tentang keberanian di medan perang.

Kini... Mereka berdiri di pihak yang berbeda. Jika Maxtis datang untuk membawanya kembali ke Istana Urco Tastarius... Maka Tyrannons telah mengambil keputusan. Ia akan menghunus pedangnya. Dan kali ini... Ia tidak akan bertarung sebagai putra Kaisar Oreons. Melainkan sebagai pemimpin Pemberontak Tartanos yang akan mempertahankan jalan yang telah dipilihnya.

More Chapters