Cherreads

Chapter 878 - Janji di Bawah Urco Tastarius

Storm masih berdiri di hadapan anggota X.A.R.A.

Topi Navigator Arabels berada di tangannya.

Beberapa saat kemudian...

Storm berjalan perlahan.

Tak...

Tak...

Langkahnya berhenti tepat di depan Napstylea.

Napstylea sedikit terkejut.

"Storm...?"

Storm tidak menjawab.

Ia mengangkat topi Navigator yang sejak tadi dipegangnya.

Kemudian, dengan gerakan perlahan, Storm memasangkan topi tersebut di kepala Napstylea.

Napstylea terdiam.

Matanya sedikit melebar.

Topi itu adalah milik Arabels.

Benda yang selama ini menjadi bagian dari kenangan mereka.

Storm kemudian mendekat dan memeluk Napstylea.

Napstylea sempat ragu.

Tangannya tidak langsung bergerak.

Namun setelah beberapa saat...

Ia membalas pelukan tersebut.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Ia sudah lama menunggu Storm membuka dirinya kembali.

Bukan karena ingin menggantikan Arabels.

Melainkan karena ingin tetap berada di sisi Storm.

Di belakang mereka, Aryes dan yang lainnya hanya terdiam.

Violys menatap keduanya dengan tenang.

Zero tersenyum kecil.

Lira menutup mulutnya karena terkejut.

Roxis hanya mengangkat alis.

Jester bahkan hampir melompat karena terlalu kaget.

"Serius?!"

Aryes langsung meliriknya.

"Jester."

"Baik, baik. Aku diam."

Proxi berdiri tanpa bergerak.

Namun indikator kecil pada tubuh robotnya menunjukkan perubahan ekspresi digital yang menyerupai senyuman.

Beberapa saat kemudian, Storm melepaskan pelukannya.

Ia mundur satu langkah.

Napstylea menatapnya.

Storm kemudian mengulurkan tangannya.

Wajahnya masih terlihat dingin.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kegembiraan berlebihan.

"Napstylea."

"Ya?"

Storm menarik napas.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku."

Semua orang langsung membeku.

Jester hampir benar-benar melompat.

"Apa?!"

Lira menoleh cepat kepada Aryes.

Violys juga terlihat terkejut.

Zero hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka.

Roxis memandang Storm seolah sedang memastikan dirinya tidak salah dengar.

Bahkan Aryes kehilangan kata-kata untuk beberapa detik.

Sementara Proxi...

Robot itu hanya tersenyum melalui layar ekspresinya.

Napstylea sendiri masih diam.

Storm melanjutkan.

"Ini bukan keputusan yang mudah."

Ia menatap topi di kepala Napstylea.

"Arabels pernah meminta kita untuk tetap bersama."

Napstylea menunduk sedikit.

Storm kemudian berkata,

"Aku ingin memenuhi keinginannya."

Suasana yang sebelumnya dipenuhi keterkejutan perlahan menjadi hening.

Napstylea memahami maksud Storm.

Ia tahu...

Keputusan itu mungkin belum berasal dari perasaan romantis Storm sendiri.

Storm masih berduka.

Ia masih memikirkan Arabels.

Dan mungkin...

Ia hanya berusaha memenuhi janji terakhir seseorang yang sangat berarti baginya.

Napstylea tersenyum lembut.

Ada sedikit keraguan di dalam hatinya.

Namun ia tidak menarik tangannya.

Ia justru menerima uluran tangan Storm.

"Baik."

Storm menatapnya.

Napstylea menggenggam tangannya.

"Aku akan tetap bersamamu."

Ia tersenyum.

"Namun, Storm..."

Storm diam.

"Suatu hari nanti, aku ingin kau memilihku bukan hanya karena permintaan Arabels."

Storm tidak menjawab.

Napstylea tidak memaksanya.

Ia tahu itu tidak akan mudah.

Storm membutuhkan waktu.

Dan perasaan tidak bisa dipaksakan.

Karena itu, Napstylea hanya akan menunggunya.

Bukan untuk menggantikan Arabels.

Melainkan untuk menjadi seseorang yang dapat berjalan bersamanya menuju masa depan.

Jester akhirnya mengangkat kedua tangannya.

"Jadi... Kapten Storm sekarang punya kekasih?"

"Jester," kata Aryes.

"Aku cuma memastikan!"

Violys tertawa kecil.

Zero menggelengkan kepala.

Proxi masih menampilkan senyum digitalnya.

Di tengah suasana itu...

Angin berembus melewati altar istana.

Whoosh...

Daun-daun dari pepohonan di sekitar istana beterbangan.

Bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang halaman ikut berguguran perlahan.

Storm dan Napstylea berdiri berdampingan.

Topi Navigator Arabels masih berada di kepala Napstylea.

Storm tidak berdiri sendirian.

Ia masih membawa kesedihan.

Ia masih membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya.

Namun setidaknya...

Ia memiliki seseorang yang bersedia berjalan bersamanya.

Jauh di atas mereka, langit Urco Tastarius terbentang luas.

Bintang-bintang bersinar di kejauhan.

Seolah seluruh alam semesta sedang menjadi saksi atas sebuah janji baru.

Sebuah janji yang lahir dari kenangan...

Namun perlahan akan menentukan masa depan mereka.

More Chapters