Cherreads

Chapter 5 - Pertemuan Dengan Sang Raja

Langkah Raka terasa semakin berat ketika mereka mulai mendekati istana. Bangunan itu jauh lebih besar dari yang mereka lihat pas berada diluar. Dindingnya terbuat dari batu berwarna putih keabu-abuan, dihiasi ukiran yang mengingatkan Raka pada relief candi. Namun ada sesuatu yang berbeda. Di beberapa bagian dinding, Raka melihat simbol-simbol yang sangat mirip dengan aksara kuno Nusantara.

Raka pun langsung berhenti sebentar.

“Ini... benar-benar seperti candi.”

Laras yang berjalan di depannya juga menoleh.

“Jangan terlalu memperhatikan ukirannya.”

“Kenapa?”

“Karena kau belum tahu apa yang sebenarnya kau lihat.”

“Kenapa jawabanmu selalu begitu?”

“Karena memang begitu.”

Raka menghela napasnya.

“Baiklah.”

Kemudian Mereka terus berjalan. Semakin dekat ke istana, jumlah penjaga semakin banyak. Beberapa bahkan menatap Raka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ada yang berbisik satu sama lain, sementara yang lain langsung menundukkan kepala ketika melihat catatan yang berada di tangan Raka dan itu membuat Raka mulai merasa tidak nyaman.

“Laras.”

“Apa?”

“Kenapa semua orang melihatku?”

“Karena kabar tentangmu mungkin sudah menyebar.”

“Secepat itu?”

“Kerajaan ini punya cara sendiri untuk menyampaikan berita.”

“Seperti internet?”

Laras langsung menatap Raka dengan wajah kebingungan.

“Inter... net?”

“Lupakan.”

Dan Mereka akhirnya sampai di depan pintu utama istana. Dua penjaga berdiri di kedua sisi pintu. Begitu melihat Laras, mereka langsung membuka jalan. Namun sebelum Raka masuk, salah satu penjaga menatapnya.

“Pewaris Nusantara...”

Raka yang mendengar bisikan itu langsung menoleh dan penjaga tersebut langsung memalingkan wajah.

“Laras.”

“Ya?”

“Mereka semua tahu aku siapa.”

Tapi Laras tidak menjawabnya.

“Kok aku malah jadi satu-satunya orang yang nggak tahu?”

“Karena itu alasan kita datang ke sini.”

Raka pun langsung terdiam. Untuk sesaat, ia tidak bisa berkata apa-apa.

“Kalau kau ingin jawaban, teruslah berjalan.”

Pintu istana terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah aula yang sangat luas. Pilar-pilar tinggi berdiri di kedua sisi ruangan. Pada dindingnya terdapat lukisan dan ukiran yang menggambarkan peperangan, kerajaan-kerajaan kuno, serta sosok-sosok yang tidak pernah Raka kenal. Namun satu lukisan membuat langkah Raka terhenti. Sebuah lukisan besar menggambarkan seorang pemuda berdiri di depan sebuah bangunan yang sangat mirip candi. Di tangannya terdapat sebuah keris Dan Raka mendekatinya.

“Laras...”

“Apa?”

“Siapa orang ini?”

Laras ikut melihat lukisan tersebut. Wajahnya berubah sedikit.

“Jangan menyentuhnya.”

Raka pun langsung menarik tangannya yang hampir menyentuh permukaan lukisan.

“Kenapa?”

“Karena lukisan itu sudah ada jauh sebelum kerajaan ini berdiri.”

Raka menatap pemuda di dalam lukisan. Ada sesuatu yang aneh. Wajah pemuda itu memang tidak benar-benar sama dengannya. Tapi ada kemiripan. Bentuk mata, Rambut, Bahkan ekspresi wajahnya. Kemudian Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

“Dia...”

Laras langsung memalingkan wajahnya.

“Jangan dipikirkan.”

Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari ujung aula.

“Biarkan dia melihatnya.”

Semua orang langsung terdiam. Di ujung aula terdapat sebuah tangga besar. Seorang pria berjalan turun perlahan. Ia mengenakan pakaian kerajaan berwarna gelap dengan ornamen emas. Rambutnya panjang dan sebagian diikat ke belakang. Wajahnya terlihat tenang, tetapi tatapannya tajam. Para penjaga langsung berlutut.

“Yang Mulia.”

Raka pun langsung membeku.

“Raja?”

Pria itu berhenti beberapa langkah di depan Raka.

“Benar.”

Raka tidak tahu harus melakukan apa. Laras hanya memberi isyarat kecil agar Raka tetap tenang. Raja kemudian menatap catatan di tangan Raka.

“Jadi... akhirnya benda itu kembali.”

“Yang Mulia tahu benda ini?”

“Apakah kau mendengar suara?”

Laras langsung menoleh kepada raja.

“Yang Mulia...”

“Biarkan dia menjawab.”

Raka langsung menelan ludahnya. Suara perempuan itu kembali terngiang di kepalanya.

“Jangan pergi ke istana.”

Raka langsung menatap raja.

“Suara?”

“Ya.”

Raja berjalan mendekat.

“Suara seorang perempuan?” tanya Raja

Raka pun semakin terkejut.

“Bagaimana Anda tahu?”

Tapi Raja tidak menjawabnya.Tatapannya justru berubah serius.

“Dia sudah mulai berbicara kepadamu.”

Laras yang melihat itu juga terkejut.

“Yang Mulia, bukankah itu berarti...”

“Ya.”

Raja langsung memotong perkataannya.

“Gerbang telah memilihnya.”

“Gerbang?”

“Duduklah, Kau ingin jawaban kan.”

“Semua?”

“Tidak.”

Raka langsung terdiam dan Raja berjalan menuju sebuah kursi besar di ujung aula.

“Karena ada beberapa kebenaran yang belum boleh kau ketahui.”

Raka langsung mengepalkan tangannya.

“Kenapa?”

“Karena mengetahui kebenaran terlalu cepat bisa membunuhmu.”

Ruangan kembali sunyi. Raka menatap Laras.

Tapi Laras tidak mengatakan apa-apa. Kemudian raja memberikan perintah.

“Bawa catatan itu kepadaku.”

“Kenapa?”

“Aku ingin memastikan sesuatu.”

Raka memandang catatan di tangannya. Ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. Suara perempuan itu kembali terdengar.

“Raka...”

Raka kemudian menutup matanya.

“Jangan berikan.”

Ia membuka matanya kembali dan Raja masih menunggunya. Raka kemudian menggenggam catatan itu lebih erat.

“Maaf, Yang Mulia.”

“Tapi aku tidak bisa memberikannya.”

Para penjaga langsung terlihat tegang. Kemudian Laras menatap Raka.

“Raka...”

“Aku nggak tahu siapa yang bisa dipercaya di tempat ini.”

Sambil Raka menatap raja.

“Bahkan Anda.”

Untuk beberapa detik... tidak ada yang bergerak.

Kemudian raja tertawa kecil. Bukan tawa marah.

Justru seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

“Bagus.”

Rakapun kebingungan.

“Bagus?”

Rajapun langsung berdiri.

“Kalau kau langsung mempercayaiku, aku justru akan kecewa.”

Kemudian Raja berjalan mendekatinya.

“Seorang pewaris tidak seharusnya mudah mempercayai siapa pun.”

Kemudian ia berhenti tepat di depan Raka.

“Termasuk orang yang mengaku ingin melindungimu.”

Tatapan Raka perlahan berpindah kepada Laras.

Laras hanya terdiam. Untuk pertama kalinya, Raka melihat ekspresi yang sulit ia pahami dari wajah Laras. Seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan. Namun ia menahannya. Raja kemudian berbalik.

“Bawa Raka ke kamar tamu.”

Laras pun hanya mengangguk.

“Baik, Yang Mulia.”

Kemudian Raka mulai berjalan. Namun sebelum meninggalkan aula, ia menoleh sekali lagi ke arah lukisan tadi. Pemuda di dalam lukisan itu masih berdiri dengan keris di tangannya.

Dan entah kenapa... Raka merasa pemuda itu sedang menatapnya. Ketika Raka dan Laras meninggalkan aula, raja tetap berdiri di tempatnya. Seorang penjaga mendekatinya.

“Yang Mulia.”

“Apa?”

“Apakah benar dia adalah pewaris?”

Raja tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap lukisan tua di dinding. Kemudian perlahan berkata.

“Belum.”

Penjaga itu pun terkejut.

“Belum?”

Raja hanya mengangguk.

“Dia baru membawa darahnya.”

Ia menatap pintu tempat Raka pergi.

“Pewaris yang sebenarnya belum bangkit.”

Sementara itu, Raka berjalan bersama Laras menuju bagian lain istana. Namun tanpa disadarinya... di balik salah satu jendela tinggi, seorang wanita berjubah hitam sedang memperhatikannya. Wanita itu tersenyum.

Di tangannya terdapat sebuah keris tua.

Keris yang sama dengan yang berada di altar.

“Jadi kau sudah bertemu raja.”

Ia pun mengusap perlahan bilah keris tersebut.

“Kalau begitu... waktunya semakin dekat.”

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam ruangan.

“Apakah kita harus membunuhnya sekarang?”

Wanita tersebut menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

Tapi ia hanya tersenyum.

“Karena aku ingin melihat sendiri...”

Tatapannya kayak tertuju kepada Raka.

“...apa yang akan dilakukan Pewaris Nusantara ketika mengetahui siapa yang sebenarnya membawanya ke dunia ini.”

Di dalam kamar tamu, Raka berdiri di depan jendela. Ia menatap dua bulan yang menggantung di langit. Kemudian ia melihat catatan kakeknya. Perlahan, halaman kosong di dalamnya mulai dipenuhi tulisan dan Raka membaca kalimat yang muncul.

“Jangan percaya kepada mereka.”

Raka pun langsung membeku.

Namun tulisan itu belum berhenti. Satu kalimat baru muncul.

“Termasuk Laras.”

Raka menatap tulisan tersebut dengan napas tertahan. Di luar kamar, terdengar langkah kaki Laras yang semakin menjauh. Dan untuk pertama kalinya... Raka mulai bertanya-tanya.

Apakah Laras benar-benar datang untuk melindunginya?

More Chapters