Cherreads

Chapter 25 - Chapter 25 – Between Distance and Silence

Langit di atas Jakarta menggelap lebih cepat dari biasanya. Awan tebal masih menggantung di atas, sisa-sisa hujan siang hari. Aku berdiri di dekat jendela, sedikit menyingkirkan tirai, memperhatikan pantulan lampu jalan di aspal basah di bawah.

Ponselku ada di tanganku.

Layarnya menyala.

Tapi aku belum membuka apa pun.

Aku duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggungku ke dinding. Napasku terasa lebih berat dari biasanya. Bukan kelelahan fisik—lebih seperti pikiranku yang lelah.

Akhirnya, saya membuka obrolannya.

Pesan terakhirnya masih ada di sana.

"Aku masih di kampus. Mungkin akan pulang larut malam."

Aku menatapnya cukup lama.

Aku tidak sedih.

Aku tidak marah.

Namun ada sesuatu yang terasa tersangkut—seperti kata-kata yang tertahan di tenggorokan saya.

Saya mengetik.

"Oke. Hati-hati."

Terkirim.

Satu centang.

Kemudian dua.

Tidak ada pesan lanjutan.

Aku mengunci layar dan menjatuhkan ponsel ke tempat tidur. Suaranya pelan, tapi bergema keras di kepalaku.

"Kenapa rasanya seperti ini sekarang…?" gumamku.

Aku berdiri dan berjalan ke dapur kecil, menuangkan air ke dalam gelas. Tanganku berhenti sejenak di udara sebelum minum. Pikiranku melayang ke Yogyakarta—kepadanya, ke hari-harinya yang semakin sibuk, ke dunia yang perlahan terasa tak lagi menyertakanku.

Saya meminumnya sekali teguk.

Dulu kami bisa mengobrol berjam-jam tentang hal-hal terkecil. Sekarang… sebagian besar hari hanya diisi dengan kabar singkat. Bukan karena kami tidak peduli. Tetapi karena hidup terus berjalan, dan jarak membuat segalanya berlalu lebih cepat.

Ponselku bergetar.

Aku langsung menoleh.

Sebuah pesan.

Darinya.

"Maaf… aku benar-benar lelah hari ini."

Aku menjawab tanpa berpikir terlalu lama.

"Saya mengerti."

Aku menunggu. Beberapa detik berlalu. Lalu aku mengetik lagi, menghapusnya, mengetik lagi.

Akhirnya, saya mengirimkan:

"Jika kamu ingin beristirahat dulu, itu juga tidak apa-apa."

Balasannya datang beberapa saat kemudian.

"Ya… kurasa aku akan tidur lebih awal."

Aku menatap layar. Ada begitu banyak yang ingin kukatakan—tapi aku menahan diri.

"Baiklah. Istirahatlah."

Periode.

Itu saja.

Tidak, aku merindukanmu.

Tidak ada pembicaraan besok.

Aku meletakkan telepon dan berbaring telentang, menatap langit-langit. Dadaku terasa kosong—tidak sakit, hanya… hampa. Seperti ruangan yang menjadi terlalu sunyi.

Aku teringat janji lama kita.

Tentang pertemuan.

Sudah waktunya.

Tentang "suatu hari nanti."

Aku tertawa kecil.

"Kapan sih 'suatu hari nanti' itu…" bisikku.

Aku bangkit dan mengambil buku catatan di mejaku. Sudah lama aku tidak menulis di dalamnya. Aku membuka halaman kosong dan menulis tanpa mempedulikan kerapian.

"Aku masih di sini. Masih menunggu. Tapi rasanya aku sendirian dalam hubungan ini."

Aku berhenti.

Menatap kata-kata itu.

Saya berpikir untuk mencoretnya.

Tapi aku tidak melakukannya.

Saya menutup buku catatan itu.

Jam berdetik pelan. Malam semakin sunyi. Di luar, suara lalu lintas perlahan menghilang.

Aku mengangkat teleponku lagi—hanya untuk mengecek.

Tidak ada pesan baru.

Tidak ada.

Aku menarik napas panjang.

Mungkin kita belum putus saat itu.

Tapi kami pun tidak utuh.

Dan entah kenapa, terjebak di tengah-tengah seperti ini terasa lebih melelahkan daripada sebuah akhir yang sebenarnya.

Aku memejamkan mata, membiarkan kegelapan menyelimuti.

Hari ini bukanlah hari yang buruk.

Tapi itu juga bukan pilihan yang bagus.

Hanya… diam.

Dan aku masih di sini, berpegangan pada jarak yang sama.

More Chapters