Hujan turun dengan berat, menimpa atap kaca stasiun tua yang seolah telah menua bersama waktu.
Lampu gas menggantung di langit-langit, bergoyang setiap kali angin malam menyelinap masuk dari celah pintu besi. Di antara bayangan kabut dan uap kereta yang tak lagi berfungsi, seorang gadis duduk diam di bangku kayu.
Topinya sedikit miring, menutupi sebagian wajah yang pucat dan lembut seperti porselen. Setetes air hujan menuruni dagunya, jatuh ke koper kulit hitam yang ia peluk erat di pangkuan.
Ia menggigil — bukan karena dingin, melainkan karena kesadaran yang perlahan menembus pikirannya.
> “Di mana aku...?”
Suara itu terdengar dari bibirnya sendiri, namun bukan suaranya. Nada lembut itu membuatnya terdiam. Ia menatap tangannya — jari-jari lentik, pucat, dan halus. Bukan tangan yang biasa menulis catatan kuliah atau menggerakkan bidak catur di meja kamar sempitnya.
Ia mencoba mengingat.
Papan catur kuno itu. Kotak kayu yang ia temukan di toko barang antik. Ukiran-ukiran aneh di sisinya, dan bisikan samar yang muncul saat ia menyentuh ratu hitam di tengah permainan.
Lalu... gelap.
Sekarang — dunia yang berbeda.
Langit di atasnya kelam, bukan malam kota, tapi malam masa lalu. Bangunan di sekitarnya bergaya gotik, dengan jendela tinggi dan besi berkarat. Aroma logam basah bercampur asap batubara memenuhi udara.
Ia berdiri perlahan, tubuhnya gemetar. Hujan menetes di ujung topinya. Bayangannya sendiri di genangan air tampak asing — seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang, kulit pucat, dan mata cokelat gelap yang berkilau samar di bawah lampu.
Wajah itu bukan miliknya.
Seketika dadanya terasa sesak. Ia meraba lehernya, mencari napas — dan merasakan sesuatu.
Kulitnya panas, berdenyut. Ia menyentuhnya perlahan, lalu tersentak. Di sana, tepat di sisi kiri leher, ada simbol kecil — sebuah mahkota ratu, retak di bagian tengahnya, memancarkan kilau samar keperakan setiap kali tersentuh air hujan.
> “Apa... ini?”
Suaranya bergetar. Simbol itu tampak hidup, berdenyut seperti jantung kedua.
Sekilas, dari balik kabut, ia mendengar langkah kaki.
Pelan. Berat.
Tuk. Tuk. Tuk.
Seseorang berjalan mendekat dari arah ujung peron. Seorang kakek tua, mengenakan mantel panjang berwarna hitam kusam, topinya rendah menutupi mata. Di tangan kirinya ada tongkat, dan di tangan kanannya sebuah jam saku terbuka, berputar pelan tanpa suara detik.
Ia berhenti tepat di depan gadis itu.
“Ratu yang retak...” katanya dengan suara berat, seperti suara jam yang sudah hampir mati.
Sam — atau tubuh Sophia — menatapnya dengan bingung. “Apa maksud Anda?”
Kakek itu tersenyum tipis, namun matanya tetap dingin. “Permainan sudah dimulai, Nona Kailn. Tapi bidak-bidaknya belum sadar posisi mereka.”
Sam mundur setapak.
“Nona... Kailn?” gumamnya pelan, mencoba merasakan nama itu.
Kakek itu menunduk, mengangkat topinya sedikit. “Itu nama tubuhmu, bukan namamu.”
Udara terasa lebih dingin tiba-tiba. Lampu gas di dinding bergetar dan meredup, lalu kembali menyala dengan nyala biru.
Kakek itu melangkah lebih dekat.
“Dunia ini menolak kebetulan. Siapa pun yang tersentuh simbol akan memikul peran di papan permainan para dewa. Dan kau...” — ia menunjuk ke leher gadis itu dengan tongkatnya — “...kau adalah Ratu yang sudah pecah.”
Sam ingin berbicara, tapi lidahnya kaku. Suara hujan menenggelamkan pikirannya.
Ia menatap koper di tangannya — koper itu terasa berat, seolah menyimpan sesuatu yang ingin keluar. Ia membuka sedikit kait logamnya, dan selembar kertas jatuh ke tanah, terbuka karena angin.
Tulisan di atasnya terlihat samar, tinta hampir pudar oleh air hujan:
> “Sophia Kailn — Keberangkatan: Jam 00:00 — Tujuan: ???”
Tidak ada tempat tujuan. Hanya tanda tanya.
Kakek itu menatapnya lagi.
“Jangan menunggu kereta, Nona. Ia tak pernah datang untuk yang memiliki simbol.”
Kemudian ia membalik badan, berjalan perlahan ke arah kabut, menghilang bersama suara tongkatnya yang semakin jauh.
Tinggallah gadis itu sendiri, di bawah hujan, dengan simbol yang terus berdenyut dan koper yang berat di pangkuannya.
Ia memejamkan mata.
Dalam pikirannya, Sam berteriak — ini tidak nyata, aku hanya bermimpi.
Namun rasa dingin air hujan di kulit, denyutan simbol di leher, dan suara detak jam dari kejauhan terlalu nyata untuk diabaikan.
> “Kalau ini mimpi,” bisiknya, “kenapa tubuh ini terasa hidup?”
Ia mencoba melangkah keluar dari peron, tapi lantai batu licin dan dingin. Di kejauhan, ia melihat bayangan menatap dari balik kaca stasiun — sosok wanita berpakaian sama dengannya, tapi wajahnya... kosong, tanpa mata.
Bayangan itu perlahan menempel di kaca, seolah berusaha keluar.
Simbol di lehernya bersinar lebih kuat.
Hujan berhenti tiba-tiba.
Sunyi.
Lalu dari kejauhan, terdengar suara langkah serempak — seperti lusinan orang berjalan bersama, tanpa arah.
Udara mengental.
Bayangan di kaca tersenyum, dan suara halus berbisik dari segala arah:
> “Selamat datang di permainan, Ratu yang retak.”
Bersambung
