Rumah Nyra — 1 Jam Sebelum Kael "Menghilang" Lagi
Di meja makan yang sederhana, Nyra dan Garm masih sarapan. Suasana hangat—sampai Nyra mengangkat satu pertanyaan yang dari tadi mengganggu pikirannya.
Nyra:
"Sayang… menurutmu apa yang terjadi dengan Senior Kael?"
"Kenapa dia tiba-tiba bertanya soal minuman keras?"
Begitu kata "sayang" keluar dari mulut Nyra, sendok Garm berhenti di udara.
Garm (dalam hati):
Dia… manggil aku sayang.
Garm menatap Nyra dengan senyum yang—jujur—terlalu lembut untuk ukuran pria yang biasanya kikuk.
Nyra langsung gugup.
Nyra:
"K-kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Aku terlihat aneh ya… nanya begitu?"
Garm menggeleng pelan.
Garm:
"Bukan karena pertanyaanmu."
"Aku senyum karena…"
Garm menelan ludah kecil.
Garm:
"…kamu akhirnya memanggilku 'sayang'."
Nyra membeku sepersekian detik, lalu buru-buru pura-pura fokus ke makanannya.
Nyra:
"Memangnya kenapa kalau aku mengambil inisiatif dulu?"
"Apa aku nggak boleh?"
Garm tertawa kecil, lalu mengangkat alis seolah menang.
Garm:
"Syukurlah."
"Aku senang istri—"
Nyra langsung menatap tajam.
Nyra:
"Jangan lanjutkan."
"Kita belum sampai sana, Garm."
"Panggilan 'sayang' saja sudah lebih dari cukup."
"Aku tidak mau orang salah paham…"
"…padahal kamu belum resmi melamarku."
Garm menghela napas, kali ini serius.
Garm:
"Baik."
"Selama pacarku senang… aku turuti."
"Soal lamaran…" (suaranya melunak)
"…aku akan melamar begitu kamu benar-benar siap."
Nyra menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. Hangat, tapi tetap tegas.
Nyra:
"Syukurlah kamu mengerti."
"Sekarang… jawab pertanyaanku sebelumnya."
Garm nyengir, mencoba menggoda sekali lagi.
Garm:
"Pertanyaan yang awal… atau pertanyaan soal kapan aku melamarmu dan memanggilmu istri?"
Nyra:
"Garm."
"Serius lah sedikit, bukan itu yang sedang aku bahas."
Nada itu saja cukup untuk membuat Garm menyerah.
Garm:
"Iya, iya. Maaf."
"Kalau yang kamu maksud itu soal Senior Kael… aku juga bingung."
"Dari cara dia bertanya kemarin… rasanya bukan minuman keras biasa."
"Atau mungkin… hanya Senior Kael yang tahu apa itu sebenarnya."
"Dan kalau aku salah menyebut, bisa jadi karena aku memang tidak paham minuman-minuman begitu."
Nyra mengangkat sendoknya seperti mengancam.
Nyra:
"Awas saja kalau kamu sampai minum minuman aneh-aneh."
"Tidak ada kata maaf."
Garm refleks mundur sedikit di kursinya.
Garm:
"Tenang, sayang. Aku tidak suka begituan."
"Dan kamu pasti akan tahu kalau aku bohong."
Nyra menurunkan sendoknya, kembali makan dengan tenang—tapi jelas itu peringatan.
Garm:
"Tapi… aku mungkin akan menanyakan itu ke temanku di hutan terlarang. Siapa tahu dia tahu."
Nyra menoleh tajam.
Nyra:
"Apa kamu mau mengingkari janjimu sebelumnya?"
Garm panik.
Garm:
"Bukan begitu sayang! Aku cuma ingin tanya—bukan mencoba!"
"Biar kita punya jawaban untuk Senior Kael juga."
Nyra menghela napas, lalu menyelesaikan sarapannya.
Nyra:
"Baik aku akan percaya denganmu tapi ingat…"
"Itu peringatan terakhir."
—Kael dan Waktu yang Dicuri
Di lain sisi di pusat tengah kota Veyra Kael tertidur di salah satu bangku yang dekat dari air mancur. Bukan sebentar—tiga jam.
Seorang anak kecil ras elf berdiri di depannya, menatap dengan curiga, lalu menepuk bahunya.
Anak Elf:
"Paman… kenapa tidur di sini?"
"Paman nggak punya rumah?"
Kael membuka satu mata.
Kael:
"Paman bukan nggak punya rumah."
"Paman cuma tertidur sebentar."
Anak Elf:
"Boong."
"Kalau punya rumah, paman nggak mungkin tidur berjam-jam di sini."
Kael langsung membuka mata lebar.
Kael:
"…Berjam-jam?"
"Berapa lama aku tertidur Nak?"
Anak itu mundur setengah langkah, kaget melihat Kael mendadak serius.
Anak Elf:
"Lebih dari tiga jam, Paman."
Kael bangkit seketika—panik yang rapi, seperti seseorang yang baru menyadari ia kehilangan sesuatu.
Kael:
"Terima kasih, Nak."
"Ini—"
Kael menyelipkan dua koin emas ke tangan anak itu.
Kael:
"Buat jajan."
"Aku… punya urusan."
Kael melesat pergi.
Anak elf itu menatap punggung Kael dengan dahi berkerut.
Anak Elf (dalam hati):
Aneh banget… tidur tiga jam, terus ngasih uang cuma karena dibangunin…
Kalau punya uang, kenapa tidur di bangku?
—Janji Makan Siang dan Nama yang Disangkal
Guild Pedagang, Menjelang Siang
Setelah berlari kurang dari sepuluh menit, akhirnya Kael tiba di guild—napasnya masih agak cepat, bukan karena lelah, tapi karena waktu.
Kael masuk ke dalam dan melihat ke arah pojok.
Meja Shiori yang masih kosong.
Di sisi lain, meja Misa sudah sepi dan ada papan kecil: "Sedang Istirahat."
Kael menghampiri—dan Misa benar-benar masih di area itu.
Kael:
"Ayo."
"Aku mau menepati janjiku."
Misa menatap Kael seolah menilai apakah ini jebakan.
Lalu ia tersenyum lebar.
Misa:
"Bagus."
"Kalau begitu… hari ini kamu harus belikan aku makanan enak."
Kael menelan ludah.
Kael (dalam hati):
Sepertinya aku salah membuat janji…
Setelah mengikuti Misa menuju pusat kota.
Akhirnya mereka tiba di sebuah Restoran yang lumayan mewah dan ramai.
Di sana mereka menuju ke arah meja yang "sepertinya" sudah Misa kenal.
Misa membuka menu seperti prajurit memilih senjata.
Kael bersandar, pasrah.
Kael:
"Pilih apa pun."
"Jangan pikirkan harga."
Misa menyipit jahil, merasa ada yang aneh dengan ucapan orang di depannya.
Misa:
"Kau sangat mencurigakan Tuan."
"Apa kamu suka denganku sampai ngomong begitu?"
Kael tersenyum lebar, terlalu percaya diri.
Kael:
"Memangnya kamu yakin mau pacaran denganku?"
Misa langsung tersedak tawa.
Misa:
"Lupakan!"
"Aku nggak suka pria yang terlalu percaya diri!"
Kael terkekeh.
Saat menunggu makanan, Misa mencondongkan tubuh sedikit.
Misa:
"Ngomong-ngomong Tuan… apa tujuanmu mau bertemu dengan Shiori lagi?"
Kael baru sadar ia belum memperkenalkan diri.
Kael:
"Panggil aku Kael."
Misa:
"Misa."
Kael mengangguk, lalu menjawab setengah jujur.
Kael:
"Aku cuma mau menanyakan sesuatu yang kemarin lupa kutanya."
"Dan… meminta maaf."
Misa mengangkat alis.
Misa:
"Oh."
"Kukira kamu mau mengejar Shiori."
Kael tertawa cepat—terlalu cepat.
Kael:
"Mengejarnya? Jangan bercanda."
"Aku tidak tertarik pada elf kaku seperti boneka itu."
Kael (dalam hati):
…padahal justru itu yang menggangguku.
Misa mengangguk setuju, lalu menambahkan dengan nada seperti membicarakan legenda.
Misa:
"Shiori itu memang kaku dan dingin."
"Dari awal datang ke guild sebagai pengelana tanpa identitas dan melamar kerja pun…"
"…dia sudah seperti boneka."
"Hampir tanpa ekspresi. Hampir tanpa rasa."
Kael menatap meja, pelan.
Kael:
"Iya…"
"Seperti boneka tanpa ekspresi…"
Misa mengangguk lagi.
Dan tepat di kalimat itu—pikiran Kael seperti ditarik ke masa lalu.
Kael (di masa lalu):
"Hei, Zeraphine. Sedang apa?"
Zeraphine (di masa lalu):
"Belajar sihir baru."
Kael (di masa lalu):
"Sihir apa?"
"Boleh aku lihat?"
Zeraphine (di masa lalu):
"Bukan sesuatu yang spesial."
"Hanya sihir yang berkaitan dengan jiwa."
Kael (di masa lalu):
"Kenapa terdengar menyeramkan?"
Zeraphine (di masa lalu):
"Yang menyeramkan itu kamu, Kael. Bukan sihirku."
Kael (di masa lalu):
"Lalu untuk apa kamu mempelajarinya?"
Zeraphine (di masa lalu):
"Supaya suatu hari nanti…"
"kalau aku berkelana sendirian…"
"aku bisa membuat boneka berjiwa yang bisa menemaniku."
Kembali kemasa sekarang.
Kael (dalam hati):
Pengelana… tanpa identitas… dingin sejak awal… seperti boneka…
Kenapa deskripsinya… mirip sekali dengan dia?
Apa mungkin—
Kael mengangkat kepala pelan.
Kael:
"Tunggu."
"Tadi kamu bilang… Shiori itu seorang pengelana…?"
Misa mengangguk pelan.
Misa:
"Iya."
"Shiori memang pengelana."
Jantung Kael seperti terhenti satu ketukan.
Dan tepat di saat itu—
dari dalam kepalanya, muncul suara seorang gadis.
Halus. Datar. Tenang.
Suara Gadis:
"Tuan…"
Kael membeku.
