Cherreads

Chapter 182 - Bab 182: Langkah Lirya, Sunyi di Depan Gerbang

Angin hutan terlarang masih menggigit ketika Lirya Vhal'Raine melesat keluar, napasnya stabil—tapi pikirannya tidak.

Dua jam penuh ia berlari, tanpa berhenti, sampai akhirnya batas hutan terlarang terbuka ke jalan utama.

Di gerbang perbatasan kota para elf, dua penjaga sudah menunggu—mereka mengenali siapa yang datang bahkan sebelum tanduk kecil itu terlihat jelas.

Penjaga Elf:

"Hormat, Lady Lirya."

Penjaga Beastkin:

"Hormat."

Tak ada tanya. Tak ada basa-basi. Aura Lirya saja sudah cukup menjelaskan semuanya.

Tak lama, sebuah kereta kuda sihir yang tampak mewah—tapi berwarna gelap—sudah siap, seolah sudah disiapkan dari jauh hari.

Lirya melangkah masuk, menutup tirai jendela, lalu berkata kepada pengemudi dengan nada yang tidak memberi ruang tawar-menawar.

Lirya:

"Ke Kerajaan Demon. Sekarang."

Kereta bergerak.

Dan di dalam kereta… Lirya tidak sendiri.

Ia menarik napas, lalu menatap kursi di seberangnya—yang tadi kosong.

Lirya (tenang, tapi tegas):

"Kalian boleh menampakkan diri."

Bayangan di sudut kereta bergetar, lalu muncul dua sosok yang sudah duduk rapi seolah sejak awal:

seorang elf pria berwajah tajam dan tenang, dan seorang demon wanita dengan tatapan yang dingin seperti malam.

Lirya tidak menoleh lama. Ia langsung ke inti.

Lirya:

"Edrin. Veyra."

"Laporkan. Apa yang terjadi di kerajaan selama aku pergi?"

Edrin Vaelthorne (Elf, pengawal kepercayaan):

"Kerajaan… tidak baik-baik saja, Nona."

"Terjadi insiden penculikan di beberapa keluarga bangsawan."

Veyra Noctis (Demon, pengawal kepercayaan):

"Pasukan elit sudah mencoba turun tangan."

"Namun tetap tidak mampu melawan pihak lawan."

Wajah Lirya mengeras. Kursi kereta seakan ikut menegang.

Lirya (dalam hati):

Separah itu…? Bahkan pamanku—raja demon—tak bisa melawan…?

Lirya menahan amarahnya, lalu memaksa dirinya berpikir lurus.

Lirya:

"Apa ada pergerakan mencurigakan?"

"Dan bagaimana kabar dari adik-adikku di Dunia Manusia?"

Veyra menjawab lebih dulu.

Veyra:

"Baru-baru ini… Tuan Muda Ravien menghubungi Sebastian."

"Memerintahkan para pasukan elit mencari informasi tentang seseorang bernama Lunaria… dan pasangannya."

Nama itu membuat jantung Lirya seperti terhentak.

Lirya (dalam hati):

Lunaria…

Kenapa Ravien mengorek itu lagi…?

Lirya menatap mereka tajam.

Lirya:

"Lalu temuan kalian?"

Keduanya menunduk. Terlalu singkat. Terlalu jelas itu artinya buruk.

Lirya menurunkan suaranya—justru membuat tekanan jadi lebih berat.

Lirya:

"Kenapa diam?"

"Seberapa sulit menjawab pertanyaanku?"

Aura Lirya merayap seperti api yang belum menyala, tapi sudah membakar udara.

Edrin:

"Kami… tidak menemukan apa pun."

"Tidak ada jejak, tidak ada aktivitas, seolah mereka menghilang dari Elyndor."

Veyra:

"Dan Tuan Muda Ravien… sangat marah."

"Beliau berkata… kami tidak berguna."

Lirya memejamkan mata sedetik.

Lirya (dalam hati):

Pasukan elit tak bisa menemukan jejak dua orang…

Bukan karena mereka hebat.

Tapi karena ada sesuatu yang menyembunyikan mereka.

Ia membuka mata, menatap keluar jendela kereta yang berlari di jalan sihir.

Lirya (pelan):

"Apa kalian tahu tujuan adikku mencari informasi tentang mereka secara tiba-tiba?"

Edrin:

"Kami tidak tahu, Nona."

"Tuan muda tidak menyampaikan detail mengenai maksud dan tujuannya."

Lirya menggertakkan gigi.

Lirya (dalam hati):

Jika Ravien sampai mengorek masa lalu… berarti ada yang menyentuh 'sesuatu'-nya.

Dan jika itu menyentuh Ravien… itu bisa menyentuh Seris…

atau orang yang Ravien ingin lindungi.

Lirya menegakkan punggungnya.

Lirya:

"Kalian berdua."

"Urus izin penyeberanganku ke Dunia Manusia."

"Lalu laporkan posisi adik-adikku kepadaku."

Keduanya mengangguk serempak.

Edrin & Veyra:

"Perintah diterima."

Mereka menghilang—seperti ditelan bayangan.

Kereta terus melaju, dan Lirya sendirian lagi… menatap jendela.

Lirya (dalam hati):

Semoga mereka baik-baik saja di sana.

Dan semoga firasat Rei… hanya angin.

—Sunyi di Depan Gerbang

Kedalaman Hutan Terlarang — 2 Jam Sebelum Lirya Sampai Kota Elf

Di depan gerbang dimensi, Rei duduk di atas batu seperti biasa, menatap segel yang berdenyut halus.

Tidak ada suara selain angin, dan detak halus dunia yang tertahan.

Namun kali ini… ada sesuatu yang lain.

Rei (dalam hati):

Kesendirian ini… entah kenapa aku lebih menyukainya.

Tapi kenapa kau ingin aku mencari seseorang yang bisa mengobati kesendirianku… Elyss?

Andai waktu itu aku yang dipilih menjadi "senjata"…

mungkin kaulah yang tetap hidup, Elyss.

Ratusan tahun berlalu… dan masih belum ada yang bisa mengobati luka ini, Elyss.

Karena hanya kau… yang tinggal di hatiku.

Jauh dari tempat itu—lebih jauh dari biasanya—Sylvhia berdiri di balik pepohonan, tidak berani mendekat.

Untuk pertama kalinya, Sylvhia tidak melihat Rei sebagai sosok yang dingin.

Yang ia lihat… adalah kesedihan.

Sylvhia (dalam hati):

Apa yang sedang kau pikirkan, Rei…?

Kenapa wajahmu seperti itu…?

Rei bangkit pelan.

Ia menatap tanah di dekat gerbang, lalu… bibirnya bergerak seolah berbicara pada seseorang.

Dari jarak Sylvhia, tak ada suara yang sampai. Hanya gerakan bibir.

Dan sesaat kemudian—

Tanah di depan Rei bergetar.

Sesuatu… muncul dari bawah tanah, perlahan, seperti bayangan yang mengambil bentuk.

Sylvhia membelalak.

Sylvhia (dalam hati):

Hah… dia kan—

More Chapters