Cherreads

Chapter 6 - Saat Ia Tak Lagi Peduli

Pikiran itu muncul ketika ia menggenggam tali tasnya dengan erat. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi, namun matanya menyimpan kesedihan yang terlalu dalam untuk disembunyikan.

Keesokan paginya, Kaivan berjalan menuju sekolah dengan langkah lesu. Udara pagi yang dingin menyelimuti kota, tapi ia sama sekali tak memedulikannya. Kepalanya tertunduk, pikirannya tenggelam dalam lautan duka. Saat melewati gerbang sekolah, tubuhnya yang kurus tampak nyaris tak terlihat di antara para siswa lain yang lebih tinggi dan lebih kokoh. Ia tak menyadari ada seseorang berdiri tepat di depannya, hingga semuanya terlambat.

Duk!

Tubuh Kaivan menabrak siswa lain, membuat buku-buku di tangan anak itu berhamburan ke lantai. Kaivan mengangkat pandangannya dan mendapati dirinya berhadapan langsung dengan Radit, seorang siswa bertubuh lebar dengan raut wajah penuh kejengkelan.

"Kalau punya mata, pakai! Jalan itu lihat-lihat, bodoh!" bentak Radit. Suaranya cukup keras untuk menarik perhatian beberapa siswa di sekitar. Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, nadanya tajam seperti pisau, membuat sebagian penonton refleks mundur, tak ingin ikut terlibat.

Kaivan hanya menatapnya dengan mata kosong. Tidak ada rasa takut, tidak pula perlawanan, hanya kehampaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Radit mendecih melihatnya, bibirnya melengkung jijik.

"Cih, aneh," gumamnya sebelum mendorong Kaivan dengan kasar.

Kaivan terhuyung dan jatuh ke lantai. Ia segera bangkit, menepuk-nepuk seragamnya yang berdebu tanpa berkata apa pun. Kepalanya tetap tertunduk, seolah kejadian barusan tak layak diakui.

"Hei, nggak mau minta maaf ke Radit?" suara mengejek terdengar. Dani, salah satu anggota kelompok Radit dengan wajah licik, melangkah maju sambil menyeringai.

"M-maaf… aku nggak lihat," gumam Kaivan lirih, nyaris tenggelam oleh hiruk-pikuk lorong. Namun itu sudah cukup membuat Dani mendengus.

"Aneh banget," katanya sebelum kembali ke kelompoknya. Radit tertawa kecil dan berlalu, seolah tak terjadi apa-apa.

Di dalam kelas, hirarki sosial terbentang seperti lukisan abstrak yang berantakan, para pemimpin, pengikut, yang populer, yang ramah, yang cantik, yang tampan. Namun di sudut-sudut gelap, duduk mereka yang menjadi korban: lemah, canggung, dan mudah dijadikan sasaran ejekan maupun kekerasan.

Kaivan duduk di bangkunya, mengeluarkan sebuah novel dengan ekspresi sulit dibaca. Baginya, kebisingan kelas hanyalah dengung latar yang tak berarti, tawa, obrolan keras, pertengkaran ringan, semua terasa seperti gema dari dunia yang tak lagi bisa ia sentuh.

"Kenapa aku harus peduli?" pikirnya, menatap halaman buku dengan pandangan hampa.

Hari demi hari berlalu dengan monoton yang menusuk, seperti lagu tanpa harmoni. Kaivan tenggelam semakin dalam ke dalam dirinya sendiri, terbungkus kesedihan. Setiap senyum yang ia lihat, setiap ledakan tawa, hanya mengingatkannya betapa jauhnya ia dari semua itu.

Namun tatapan kosongnya tak luput dari mata mereka yang selalu haus akan mangsa baru. Seorang siswa bertubuh besar dengan rambut tersisir rapi melangkah mendekat, senyumnya penuh provokasi. Beberapa siswa lain mengikutinya dari belakang, menunggu aba-aba.

"Ngapain sih lo natap kita kayak gitu, hah?" Suaranya cukup keras untuk menarik perhatian seisi kelas. Beberapa pasang mata mulai beralih ke arah mereka.

Kaivan mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang kosong bertemu dengan tatapan siswa itu. Ia menggeleng pelan, berusaha menghindari masalah.

"Maaf. Nggak ada apa-apa," jawabnya datar, tanpa emosi.

"Lihat tuh, diem aja! Sok keren, ya?" ejek salah satu dari mereka. Suasana menegang, tegang sekaligus menunggu, seperti pembuka sebuah sandiwara. Kaivan memilih diam, mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Saat bel akhirnya berbunyi menandakan pelajaran dimulai, Kaivan mengembuskan napas lega. Namun kelegaan itu hanyalah ilusi.

Sepulang sekolah, di lorong yang sepi, Kaivan kembali dikepung oleh kelompok yang sama. Kata-kata mereka menghantam seperti bilah pisau.

"Eh, si anak yatim sok dingin, ya? Diem aja, diajak ngomong juga nggak jawab!" Salah satu dari mereka, yang paling dominan, menghantamkan tinjunya ke perut Kaivan.

Tubuhnya yang rapuh terdorong ke belakang, rasa sakit menjalar perlahan namun tajam. Napasnya tercekat, tapi Kaivan tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, menunduk, tatapannya kehilangan harapan.

Hari-hari melebur satu sama lain, dan kekerasan itu berubah menjadi rutinitas. Setiap pukulan, setiap hinaan, terukir dalam irama kelam hidupnya. Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu mulai bergeser. Kebencian yang lama terpendam berpendar, menyala kecil.

"Kenapa aku harus peduli?" gumamnya lagi suatu hari. Namun kali ini, nadanya berbeda. Sebuah keputusan sunyi telah berakar.

Ia tidak akan membiarkan mereka menghancurkannya sepenuhnya.

Perlahan, Kaivan mulai membangun dinding di sekeliling emosinya. Ia menutup dunia luar, menjadi dingin dan apatis. Di kelas, ia mengamati segalanya dengan tatapan tajam seorang analis. Saat melihat siswa lain menjadi korban perundungan, ia tak merasakan simpati. Ia mengamati. Menelusuri pola dalam tatanan sosial, menghitung strategi untuk bertahan hidup.

More Chapters