Cherreads

Chapter 29 - Luka yang terbuka semuanya

Di atas mereka, langit malam bertabur bintang-bintang pucat menjadi saksi keheningan bertiga. Tak ada kata terucap, namun sunyi itu justru menghadirkan ketenteraman, seolah dunia memberi mereka ruang untuk menata kembali perasaan yang tercerai.

Beberapa saat kemudian, Kaivan menoleh pada Felicia. Tangannya terlepas dari Thivi dan berhenti di dekat gadis itu, yang wajahnya masih diselimuti kebingungan.

"Lalu, sekarang kau ingin ke mana?" tanyanya lembut, memberi Felicia kebebasan untuk memilih.

Felicia mengembuskan napas, suaranya rapuh seperti bisikan. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa pulang malam ini. Seharusnya aku menginap di rumah Julian… pacarku. Tapi… kau baru saja memukulnya."

Pengakuan itu membuat Kaivan terdiam. Rasa bersalah dan ragu berkelebat di wajahnya saat ia memalingkan pandangan, mencari jawaban di antara bayang-bayang pepohonan.

Mendengar itu, mata Thivi menajam. Ekspresinya sulit dibaca, berada di antara terkejut dan kecewa.

"Kalau begitu, ikut saja bersama kami," ujar Kaivan akhirnya, berusaha meredakan ketegangan.

Namun Thivi segera menyela. "Aku kira hanya kita berdua. Tapi… tidak apa-apa kalau dia ikut."

Nadanya terdengar ringan, namun kecemburuan samar bersembunyi di baliknya. Ia memaksakan senyum, berusaha tetap lapang, meski hatinya ingin memiliki lebih banyak waktu berdua dengan Kaivan.

Malam menelan kota dalam kehangatan dan misteri. Di atas, langit gelap berkilau oleh cahaya bintang, sementara lampu jalan menebarkan sinar emas lembut di atas trotoar, memanjangkan bayang langkah, obrolan lirih, dan tawa yang mengalun seperti simfoni malam.

Kaivan, Thivi, dan Felicia berjalan perlahan, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri. Langkah mereka menyatu dalam ritme alami, sunyi namun mantap. Kaivan tetap diam, pikirannya melayang jauh. Di sisinya, Thivi sesekali melirik, seakan memastikan ia baik-baik saja. Di depan, Felicia melangkah anggun namun gelisah, wajahnya cantik tapi diliputi kecemasan, napasnya belum sepenuhnya stabil.

Mereka tiba di sebuah warung kecil di sudut jalan. Aroma panggangan langsung menyambut, asap hangat berbalut rempah menari di udara. Meja kayu kasar dan lampu temaram menciptakan kesan oasis kecil di tengah hiruk-pikuk kota.

Mereka duduk di meja pojok di bawah cahaya keemasan lembut. Felicia duduk sedikit terpisah, memainkan ujung rambut panjangnya, tanda pikirannya yang resah. Thivi duduk di samping Kaivan, tampak santai, meski sesekali melirik Felicia. Kaivan menyibukkan diri dengan makanan, gerakannya tenang, seolah menghindari percakapan.

Keheningan pecah saat Felicia menarik napas dalam, menunduk sejenak, lalu menatap mereka.

"Dia sebenarnya baik," bisiknya, mata teduhnya menyimpan luka dalam. "Tapi dia marah jika ada orang lain mendekatiku. Kadang dia mengancam… kadang memukul."

Kata-katanya menggantung seperti kabut. Thivi, yang tadinya tampak ceria, langsung menegakkan tubuh. Senyumnya lenyap, digantikan sorot tegas.

"Itu tidak benar, Felicia," katanya mantap. "Sesabar apa pun seseorang, memukul tetap tidak bisa dibenarkan. Kaivan tidak pernah menyentuhku dengan kekerasan. Jika seperti itu… itu hubungan yang beracun."

Kaivan berhenti mengunyah, menatap Thivi, terkejut oleh ketegasan dan keberaniannya. Felicia memandang Thivi dengan mata membesar, rasa sakitnya sedikit melunak oleh keterkejutan.

"Beracun…?" gumam Felicia, mencicipi kata itu. Lalu pandangannya beralih pada Kaivan. "Apa kau pacar Kaivan?" tanyanya tiba-tiba, nada suaranya dipenuhi rasa ingin tahu, dan sesuatu yang lebih tajam.

Pertanyaan itu membekukan udara. Kaivan tersedak ringan sebelum meneguk air. Thivi merona, jemarinya meremas ujung bajunya.

"Tidak. Dia bukan pacarku," jawab Kaivan akhirnya, datar namun canggung. Tangannya menggaruk tengkuk, tanda kegelisahan. Thivi menunduk, menggigit bibir, sementara Felicia mengamati mereka, mencoba membaca ikatan sunyi di antara keduanya.

Akhirnya, Thivi berbicara, suaranya rendah namun mantap. "Aku memang belum menjadi pacarnya. Tapi kalau aku jadi kamu, Felicia, aku tak akan membiarkan diriku diperlakukan seperti itu."

Felicia terdiam, menatap meja. Di luar, denyut kota terus bergerak, dengung kendaraan, tawa, aroma makanan, kontras dengan ketegangan di meja mereka. Namun di balik itu semua, sesuatu perlahan berubah. Malam itu menguak lapisan diri mereka.

Setelah hening sejenak, Kaivan menoleh pada Felicia. "Setelah kita makan, kau akan ke mana?"

Pertanyaan itu melayang lembut, seperti angin malam. Felicia menatap cahaya kota, ragu terpancar di wajahnya.

Akhirnya, ia menjawab pelan, penuh harap. "Kaivan… karena aku tidak pulang… bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?"

Ucapannya menggantung, memberi bobot pada udara. Thivi bereaksi cepat, nadanya terdengar ceria namun menyimpan sengatan. "Kenapa seorang gadis ingin menginap di rumah seorang pria?"

Felicia tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. "Bukankah kau juga menginap di rumah Kaivan? Dan kalian tidak berpacaran."

Ketegangan pun merentang. Sebelum memutus, Kaivan menyela dengan suara tenang. "Sudah. Kalian berdua boleh menginap di rumahku. Tak perlu bertengkar."

Kata-katanya melunakkan suasana. Thivi dan Felicia saling pandang, lalu diam. Dengan satu kalimat, Kaivan mengembalikan kedamaian.

Malam berlanjut. Lampu kota berkilau seperti permata saat mereka meninggalkan warung, perut kenyang, hati lebih ringan. Di bawah bintang dan cahaya temaram, kedekatan baru perlahan tumbuh, meski bayang keraguan dan rasa ingin tahu masih setia mengikuti.

Di rumah Kaivan, malam membungkus segalanya dalam sunyi. Detik jam berdetak perlahan, angin tipis menyusup lewat jendela. Di ruang tamu yang remang, Kaivan duduk menghadap sebuah buku tua di atas meja.

Tome Omnicent terbuka di hadapannya. Kaivan mencondongkan tubuh, pikirannya dipenuhi tanya. Kata-kata perlahan terukir di halaman, setengah jawaban, setengah teka-teki:

"Dalam dua minggu, temuilah seseorang bernama Raphael di pinggiran barat."

Kaivan menatap kalimat itu, alisnya berkerut. Siapakah Raphael? Mengapa pertemuan itu begitu penting? Pertanyaan berputar, mengisi sunyi dengan kegelisahan.

Saat itu, langkah ringan Thivi mendekat. kulitnya yang mulus memberi kesan lembut. Ia menyentuh bahu Kaivan dari belakang, hangat dan menenangkan.

"Kaivan… buku apa itu? Aku penasaran. Kau selalu membawanya," bisiknya.

Pelukannya menenangkan. Namun Kaivan hanya tersenyum samar, membiarkan misteri tetap tergantung.

Dari ambang pintu, Felicia muncul, rambutnya masih basah, handuk melilit tubuhnya. Matanya tertuju pada buku tua itu.

"Buku itu terasa… aneh. Apa isinya?" tanyanya.

Kaivan terkekeh kecil. "Penasaran? Coba lihat."

Thivi membukanya, namun hanya halaman kosong. "Kosong?" gumamnya.

Saat Felicia menyentuhnya, denyut tajam menghantam kepalanya. Tubuhnya terhuyung, handuknya terlepas.

Dalam sekejap, Thivi memeluk kepala Kaivan ke dadanya menutup mata Kaivan. "Jangan lihat!" serunya panik.

Felicia segera membungkus diri kembali, pipinya memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga perih yang tersisa dan rahasia luka yang hampir terbuka.

Pintu depan berderit. Kakak perempuan Kaivan masuk dan terdiam, memandang pemandangan ganjil itu. Ekspresinya membeku, seolah melangkah ke dalam dunia yang belum ia pahami, dunia yang sarat misteri, kekacauan, dan kebenaran yang baru mulai tersingkap.

More Chapters