Pria itu menegang. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tak terkendali. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, lalu, dengan memalukan, ia kehilangan kendali. Celananya menggelap saat ia menatap dengan mata membelalak pada sosok yang terasa seperti kematian itu sendiri: Kaivan, berdiri di bayangan seperti hakim tak tergoyahkan yang memutuskan nasib seseorang.
Di belakangnya, Isabel menahan napas. Matanya melebar, kilatan tak percaya melintas di wajahnya. Tubuhnya menegang, pikirannya berputar karena kecepatan dan ketepatan yang baru saja ia saksikan. Kaget dan lega bercampur di dalam dadanya. Satu hal jelas, Kaivan berada di pihaknya.
Kaivan tetap tenang. Dengan satu kibasan pergelangan tangan, rantai karambitnya melingkar kembali, menarik bilahnya dengan mulus ke telapak tangannya. Bunyi logam yang tajam memecah kesunyian. Setiap gerakannya presisi, seolah telah dilatih ribuan kali.
"Kerjakan pekerjaanmu dengan benar," katanya pelan. Nada suaranya jatuh seperti baja dingin ke dalam hati pria itu. Matanya menembus sosok yang gemetar di depannya. "Jangan mencuri lagi."
Kata-kata itu menggantung berat di udara, mutlak dan tak terbantahkan. Pria dan wanita itu hanya bisa menatap, pucat tak berdaya, bersandar pada dinding seolah seluruh tenaga mereka telah terkuras.
Kaivan melangkah mundur. Setiap gerakannya terukur dan terkendali. Saat ia menoleh kepada Isabel, ketenangan dinginnya sedikit melunak.
"Ayo. Kita masih harus menemukan ponselmu."
Ucapan itu menarik Isabel kembali ke kenyataan. Ia segera mengangguk dan mengikuti Kaivan keluar. Malam telah turun sepenuhnya. Udara dingin membungkus mereka, membawa aroma tanah basah dan aspal. Langit di atas tampak hitam kusam, tanpa bintang, hanya cahaya lampu jalan yang redup berkilau di atas jalan yang lembap.
Kaivan berjalan di depan dengan fokus tenang, diamnya hampir terasa nyata. Isabel mengikuti di belakang, berusaha menyamai langkahnya. Namun matanya mulai berubah. Ia beberapa kali melirik Kaivan, bibirnya terbuka seolah ingin berkata sesuatu, lalu ragu.
Saat mereka tiba di motor, keheningan itu masih menggantung. Kaivan menyerahkan sebuah helm tanpa berkata apa pun. Isabel ragu sejenak sebelum menerimanya, mencoba membaca makna di balik sikap diamnya. Dengan canggung ia memakainya. Kaivan memeriksa semuanya dengan gerakan tenang dan teliti.
"Pegang yang kuat," katanya singkat. Nada suaranya datar, namun cukup tegas membuatnya menurut.
Motor itu melaju perlahan menyusuri jalanan yang sepi. Dengung mesin memenuhi malam yang sunyi. Isabel merasakan getaran halus melalui tangannya, seolah mengingatkan bahwa keheningan ini hanya hidup karena gerakan.
Ia mencoba berbicara.
"Jadi..."
Namun getaran ponsel Kaivan memotong ucapannya. Ia mengerang pelan dan menarik ponselnya dari saku sambil tetap memegang setang dengan satu tangan. Di layar tertulis: Teh Kira. Kaivan menghela napas dan menepikan motor di pinggir jalan.
"Halo, Teh."
Suara di seberang terdengar tegas namun hangat.
"Jam berapa kamu pulang? Ini sudah hampir tengah malam. Jangan keluyuran terus."
Kaivan menatap jalan kosong di depannya.
"Iya. Kunci saja pintunya. Aku bawa kunci sendiri. Sebentar lagi pulang."
"Hati-hati di jalan," katanya sebelum menutup telepon.
Kaivan menyalakan mesin lagi. Kali ini ia melaju lebih cepat, seolah ingin meninggalkan malam itu jauh di belakang.
Isabel memanfaatkan kesempatan untuk berbicara. Suaranya lembut.
"Jadi... sebenarnya kamu ini siapa?" Ia sedikit memiringkan kepala, mencoba melihat ekspresi Kaivan dari samping.
Kaivan tidak langsung menjawab. Sebuah senyum samar muncul di bawah cahaya lampu jalan yang mereka lewati. Tanpa menoleh, akhirnya ia berkata,
"Pelajar. Kelas sebelas."
Isabel berkedip kaget, lalu tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
"Oh, sama sepertiku," katanya sambil tersenyum nakal. "Tapi... jangan bilang kamu sudah suka padaku?"
Ekspresi Kaivan kembali datar. Ia menghela napas pelan melalui hidungnya.
"Hah? Siapa yang bilang aku suka padamu?" gumamnya, menyembunyikan rasa lelah di suaranya.
Isabel hanya mengangkat bahu dengan senyum main-main.
"Soalnya kamu sudah menolongku sebanyak itu. Tapi maaf ya, aku suka cowok yang lebih tinggi."
Kaivan tidak menjawab. Ia membiarkan angin malam membawa pergi kata-kata itu, sementara matanya tetap fokus pada jalan redup di depan. Isabel yang duduk di belakang mulai sadar bahwa Kaivan bukanlah orang yang mudah ia pahami. Perlahan ia mengeratkan pelukannya di pinggang Kaivan, berpegangan saat motor melaju menembus malam yang dingin.
Pemandangan berubah saat mereka memasuki Sayati. Lampu jalan berkedip malas, memancarkan cahaya jingga redup ke bangunan-bangunan tua yang usang. Kaivan berhenti di depan sebuah toko elektronik kecil. Ia turun lebih dulu dengan tenang, diikuti Isabel yang menatap toko itu dengan rasa tidak nyaman.
Begitu masuk, Kaivan langsung berjalan ke meja kasir. Seorang pria bermuka licik duduk di sana, tampak tidak terlalu peduli.
"Dua orang menjual ponsel di sini, kan?" tanya Kaivan. Nadanya dingin dan langsung.
Pria itu mengangkat alis. Senyum miring muncul di wajahnya.
"Oh, kamu mau beli ponsel itu? Dua juta rupiah. Kondisinya bagus, sepadan dengan harganya."
Kaivan mengabaikan tawaran itu.
"Ada ponsel rusak? Yang mati total. Tidak bisa dipakai sama sekali."
Penjaga toko itu berkedip, curiga.
"Buat apa kamu mau yang rusak?" Namun karena Kaivan tidak menjawab, ia akhirnya menghela napas. "Seratus ribu satu."
Tanpa ragu, Kaivan meletakkan setumpuk uang tebal di meja.
"Aku ambil ponsel yang dijual dua orang itu. Tambahkan seratus unit ponsel rusak. Aku ambil hari Sabtu."
Mata pria itu melebar melihat uang di depannya. Setelah jeda tegang, ia mengangguk perlahan.
"Baiklah... setuju."
Di luar, Isabel mengikuti Kaivan dengan wajah penuh kebingungan.
"Kenapa kamu membeli seratus ponsel rusak?" tanyanya, angin malam menyusup melalui jaketnya.
Kaivan hanya tersenyum tipis.
"Untuk hobiku," katanya ringan, nadanya sulit ditebak.
Saat mereka kembali ke motor, Kaivan menyerahkan ponsel Isabel. Wajah gadis itu langsung dipenuhi kelegaan, seolah beban berat akhirnya terangkat.
"Telepon keluargamu," kata Kaivan lembut. "Bilang kamu baik-baik saja."
Isabel mengangguk dan menurut. Setelah itu ia kembali naik ke motor bersama Kaivan. Perjalanan kali ini tetap sunyi, tetapi tidak terasa dingin. Ada ketenangan aneh di antara mereka.
Setelah beberapa saat, Isabel berbicara pelan.
"Kaivan... terima kasih."
Kaivan meliriknya sebentar. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
"Dengan senang hati."
Isabel terkikik, berusaha mencairkan suasana.
"Kamu suka padaku, ya? Maksudku, aku kan imut. Kulitku juga mulus, tidak ada jerawat sama sekali."
