Kaivan membeku. "Kau… bisa membacanya juga?" Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. Sampai sekarang, hanya dia yang mampu memahami tulisan aneh di dalam Tome itu.
Isabel tersenyum tipis, sedikit menggoda, matanya menyipit nakal. "Tentu saja. Aku tidak buta huruf, tahu."
Kaivan menutup Tome itu perlahan lalu memasukkannya kembali ke dalam tasnya. Dalam diam ia berpikir, mungkinkah Isabel memiliki hubungan dengan kekuatan Tome? Namun sekarang bukan waktunya bertanya. Menemukan ponsel gadis itu lebih penting.
Bangunan hijau di depan mereka terlihat rapuh dan terlupakan. Dindingnya retak, catnya mengelupas, dan pintunya menggantung longgar pada engsel yang hampir lepas. Lampu kecil di luar berkedip redup seperti napas terakhir sebuah nyala api. Udara berbau kayu lembap dan debu.
Kaivan memberi isyarat agar Isabel tetap berada di belakangnya. Ia mendorong pintu itu. Bunyi berderit panjang dan tajam menggema di lorong sempit yang terasa menyesakkan. Lampu redup menggantung di langit langit rendah, bergoyang perlahan. Dari kejauhan terdengar bisikan samar yang seolah mengaduk ketegangan di udara.
Selangkah demi selangkah, Kaivan bergerak maju dengan hati hati, matanya menyapu setiap sudut. Isabel mengikuti dekat di belakangnya, langkahnya ringan namun tegang. Setiap detik terasa memanjang. Lorong itu semakin sempit, seakan menelan mereka perlahan. Kaivan menahan napas, jantungnya berdetak keras. Saat ia melirik Isabel, wajah gadis itu tampak tenang, tetapi matanya waspada dan tajam.
"Hei," bisik Isabel pelan. "Kau yakin ini tidak berbahaya?"
Kaivan menoleh ke belakang. "Tenang saja. Tidak akan seburuk itu," jawabnya dengan suara tenang namun melindungi.
Isabel tersenyum kecil lalu mengangkat bahu, sadar akan risikonya namun tetap mengikuti.
Di bawah langit gelap, angin berembus di antara jalan sempit, membawa hawa dingin yang menyusup ke balik jaket mereka. Mereka berhenti di depan sebuah rumah kos tua. Pintunya kusam dimakan waktu, dikelilingi daun kering yang bergesekan pelan dalam kesunyian. Kaivan mendekat dan menempelkan telinganya ke pintu kayu itu, sementara Isabel menahan rasa penasarannya.
Dari dalam terdengar suara seorang pria, rendah dan mengejek. "Astaga, gadis di stasiun tadi benar benar bodoh! Cantik sih, tapi tidak ada pikiran sama sekali di kepalanya."
Isabel berbisik cerah, hampir terdengar senang. "Kau dengar? Dia bilang aku cantik!" Suaranya membawa kegembiraan polos seperti anak kecil yang baru dipuji.
Kaivan mengembuskan napas tajam. Rasa kesal jelas terlihat di wajahnya. Ketika dari dalam terdengar bentakan, "Siapa di luar sana?!" ia menatap Isabel dengan ekspresi datar.
"Haaah…" Ia menghela napas panjang, lalu melangkah maju. Suaranya tenang tetapi tegas. "Buka pintunya. Kita perlu bicara."
Terdengar bunyi kunci berderak, klak. Namun bukannya terbuka, pintu itu justru dikunci lebih rapat.
Kaivan tidak ragu. Matanya menatap engsel berkarat di sisi pintu. Dari balik jaketnya ia mengeluarkan karambit berantai, bilahnya memantulkan cahaya redup. Dengan gerakan yang presisi dan mengalir, ia bergerak cepat dan hampir tanpa suara. Senjata itu terlihat bukan sekadar pisau, melainkan seperti bagian dari dirinya sendiri.
Isabel membeku di belakangnya, mata terbuka lebar antara takut dan kagum. "Kau… kau membawa pisau?" bisiknya dengan suara gemetar.
Kaivan tidak langsung menjawab. Senyum tipis muncul di bibirnya, sementara matanya tetap fokus. Satu per satu engsel berkarat itu terlepas dengan bunyi logam yang nyaring. Ketika sekrup terakhir longgar, ia mendorong pintu itu terbuka, memperlihatkan dunia di baliknya.
Ruangan kecil itu terasa pengap. Cahaya kuning redup dari lampu gantung memantul pada dinding yang kotor. Di dalamnya ada dua orang yang membeku di tempat, seorang pria dengan wajah licik dan seorang wanita muda yang gemetar di sudut ruangan. Udara dipenuhi bau lembap yang menekan setiap napas.
Kaivan melangkah masuk tanpa ragu. Tubuhnya tegak, karambit masih berada di tangannya. Tatapannya langsung mengarah pada pria itu. "Di mana ponsel gadis ini?" tanyanya dingin dan datar. Ia mengangguk sedikit ke arah Isabel, lalu ke wanita yang memeluk dirinya di sudut.
Pria itu mencoba tersenyum, menutupi kegelisahannya. "Ponsel? Aku tidak tahu apa apa tentang itu…"
Namun Isabel maju sebelum pria itu selesai bicara. Suaranya tegas dan yakin. "Dia! Wanita itu yang meminjam ponselku."
Mata Kaivan beralih kepadanya. Tetapi sebelum ia sempat bergerak, pria itu lebih dulu bertindak. Dengan senyum palsu yang semakin lebar, ia merangkul bahu Kaivan seolah bersikap ramah.
"Dengar ya, kawan," katanya dengan nada licin. "Ponselnya sudah hilang. Pintunya juga sudah rusak. Anggap saja impas, bagaimana?"
Lalu Kaivan merasakannya. Tekanan dingin di sisi tubuhnya. Sebilah pisau kecil dan tajam.
Bisikan pria itu menyentuh telinganya, lembut namun penuh ancaman.
"Jangan membuat ini jadi lebih sulit dari yang seharusnya."
Kaivan bereaksi seketika. Dalam satu gerakan cepat yang hampir tak terlihat, ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya keras, lalu merebut pisau tersebut. Bilah itu terlepas dan kini berada di tangan Kaivan.
Pria itu bahkan belum sempat menarik napas ketika Kaivan memutar tubuhnya, melepaskan diri dari rangkulan, lalu menendang perutnya dengan gerakan terukur dan tepat. Benturan itu membuat pria itu terpental ke belakang dan menabrak wanita yang ketakutan di sudut. Keduanya jatuh bersama, wajah mereka pucat diliputi panik.
Kaivan berdiri tegak. Ia memutar pisau di antara jarinya seperti memutar pena. Gerakannya tenang dan terukur, namun terasa menakutkan.
"Kita buat ini sederhana," katanya dengan suara dingin namun penuh kendali.
Pisau itu berhenti berputar di genggaman tangannya.
"Ponselnya. Serahkan sekarang. Sebelum pisau ini menemukan tempat lain."
Pria itu membeku sambil memegangi perutnya. Wajahnya dipenuhi ketakutan. Wanita di belakangnya gemetar hebat.
"Maaf! Maaf!" teriak wanita itu sambil menangkupkan kedua tangannya. "Ponselnya sudah dijual! Kami hanya punya uangnya saja…"
Kaivan menyipitkan mata, meneliti wajah mereka mencari kebohongan. Ia mengembuskan napas perlahan, menahan amarah yang bergejolak di balik ketenangannya.
Ruangan itu tenggelam dalam diam.
Di belakangnya, Isabel berdiri kaku, wajahnya terjebak antara lega dan sedih.
"Dijual? Secepat itu?" ulang Kaivan dengan suara rendah yang penuh ketidakpercayaan.
Ia melangkah mendekat. Lantai kayu berderit di bawah setiap langkahnya. Suara kecil itu terasa seperti palu yang memukul kesunyian.
Dengan tangan gemetar, wanita itu merogoh tas lusuhnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah kusut. Wajahnya dipenuhi keringat.
"Ini… ini uang dari hasil menjualnya," bisiknya dengan suara pecah. "Tolong jangan sakiti kami."
Kaivan mengambil uang itu tanpa ekspresi. Ia menghitungnya cepat dan rapi, jarinya bergerak dengan ketepatan seperti mesin.
Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya.
"Hanya satu juta dua ratus ribu?" katanya datar. Namun berat dalam suaranya membuat wanita itu meringis.
"M maaf… kami menghabiskan tiga ratus ribu untuk makan… dan minum tadi," katanya gugup sambil menundukkan kepala, seolah menunggu hukuman.
Kesunyian kembali menelan ruangan.
Kaivan melipat uang itu perlahan. Setiap gerakannya terasa sengaja dan pasti.
Isabel masih berdiri diam. Mata lebarnya memantulkan keheningan berat yang memenuhi ruangan.
"Di mana kalian menjualnya?" tanya Kaivan.
Suaranya tetap tenang, tetapi tatapannya tajam seperti bilah pisau. Tidak ada teriakan, tidak ada kemarahan. Hanya ancaman sunyi yang terasa lebih menekan daripada teriakan.
Wanita itu semakin menyusut di sudut, tidak berani menatap matanya.
Akhirnya ia berbisik gemetar, "Kopo Sayati… toko ponsel yang buka sepanjang malam." Suaranya sangat pelan, seolah berharap kegelapan akan menelan kata katanya.
Kaivan mendengarnya dengan jelas.
Wajahnya tetap dingin dan tak terbaca.
Detik berikutnya terasa panjang sebelum ia bergerak.
Cepat seperti bayangan.
Ia mengambil kembali pisau yang tadi sempat direbut darinya. Dalam satu gerakan mulus, pisau itu melesat ke arah dinding.
Bunyi logam menghantam beton terdengar nyaring.
Pisau itu tertancap di dinding hanya beberapa inci dari kepala pria tersebut.
Ruangan itu membeku.
Seolah waktu sendiri berhenti bergerak.
