Cherreads

Chapter 9 - Bab 9: Arsitektur Langit di Tanah Fana

Malam di Metropolis biasanya selalu bising oleh dengung jutaan mesin, namun di sekitar bukit yang menaungi Villa Nomor Sembilan, atmosfer mendadak menjadi sangat sunyi. Kesunyian itu bukan karena tidak ada suara, melainkan karena udara di sana telah menjadi begitu padat oleh tekanan energi yang tidak stabil. Di taman belakang villa yang luas, Lin Jian nampak seperti pria yang sudah tidak tidur selama satu tahun. Rambutnya berantakan, matanya merah padam, dan jari-jarinya berlumuran campuran bubuk batu giok dan cairan konduktor super.

Di hadapannya, terdapat sebuah pemandangan yang akan membuat ilmuwan paling jenius di Bio-Gene sekalipun jatuh pingsan karena syok. Tujuh buah pilar perak yang terbuat dari titanium-karbon—sisa jarahan dari laboratorium Delta—berdiri melingkar. Namun, pilar-pilar itu tidak lagi berbentuk logam kaku. Di bawah pengaruh energi Ling Feng, permukaan pilar itu nampak "bernapas", berdenyut pelan dengan cahaya ungu yang samar.

"Tuan Ling... saya... saya rasa otak saya akan meledak," bisik Lin Jian, suaranya parau. Tangannya yang memegang solder laser bergetar hebat. "Setiap kali saya mencoba menyambungkan sirkuit fiber optik ini ke pilar kedua, frekuensinya langsung melompat ke angka yang tidak masuk akal. Hukum termodinamika mengatakan pilar ini seharusnya sudah meleleh menjadi uap!"

Ling Feng, yang sedari tadi berdiri mematung di atas balkon lantai dua dengan jubah hitamnya yang berkibar pelan ditiup angin malam, akhirnya melompat turun. Ia mendarat tanpa suara, bahkan sehelai rumput pun tidak patah di bawah kakinya.

"Termodinamika adalah hukum bagi mereka yang hanya bisa melihat panas sebagai api," ucap Ling Feng datar, matanya menatap tajam ke arah pilar yang sedang bermasalah. "Kau mencoba mengatur energi ini menggunakan logika linear manusia. Kau memperlakukan Qi seperti air di dalam pipa. Itu salah. Qi adalah kehendak. Ia tidak mengalir karena ada tekanan fisik, ia mengalir karena ada perintah."

Ling Feng mendekati pilar tersebut. Tanpa menyentuhnya, ia hanya mengibaskan jarinya sedikit. Seketika, pilar titanium yang membara panas itu mendingin dalam sekejap, berubah warna menjadi hitam pekat dengan urat-urat emas yang menjalar di permukaannya.

"Lin Jian, lihatlah melampaui materi," perintah Ling Feng, suaranya mengandung getaran kekuatan yang membuat telinga Lin Jian berdenging. "Di duniaku dulu, seorang Master Array tidak membutuhkan kabel atau sirkuit. Mereka menggunakan garis-garis nadi bumi sebagai jalurnya. Namun, karena bumi ini sudah terlalu kotor oleh polusi dan frekuensi radio, kita akan menggunakan kabel-kabel tembaga manusia ini sebagai 'pembuluh darah' buatan."

Ling Feng meletakkan tangannya di atas bahu Lin Jian. Seketika, Lin Jian merasakan sebuah sentakan listrik yang luar biasa masuk ke dalam otaknya. Itu bukan serangan, melainkan sebuah Transfer Kesadaran. Dalam sekejap, pandangan Lin Jian berubah. Ia tidak lagi melihat taman itu sebagai kumpulan pohon dan tanah. Ia melihat dunia dalam bentuk aliran energi yang berwarna-warni. Ia melihat gelombang WiFi dari kota, sinyal satelit dari langit, dan arus listrik dari gardu induk Metropolis semuanya nampak seperti benang-benang kusut yang tidak beraturan.

"Sekarang, rapihkan benang-benang itu," perintah Ling Feng lagi.

Dengan bimbingan energi Ling Feng di dalam tubuhnya, Lin Jian mulai bergerak seperti kesurupan. Ia tidak lagi membutuhkan alat ukur digital. Ia memegang kabel fiber optik berlapis bubuk giok itu dan mulai menenunnya di sela-sela pilar titanium. Setiap sambungan yang ia buat melepaskan percikan energi yang membakar udara, menciptakan bau ozon yang sangat kuat.

Ia sedang membangun [Array Penutup Surgawi]. Sebuah formasi yang di masa depan akan membuat Villa Nomor Sembilan menghilang dari sejarah dunia modern.

Proses ini memakan waktu berjam-jam. Lin Jian harus memahat simbol-simbol kuno di setiap sambungan kabel menggunakan energinya sendiri yang baru saja "dipinjamkan" oleh Ling Feng. Setiap goresan terasa seperti ia sedang mengukir langsung di atas sarafnya sendiri. Rasa sakitnya luar biasa, namun rasa haus akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada di bumi membuatnya terus bertahan.

"Tuan... pilar ketujuh... sudah terhubung," Lin Jian terengah-engah, tubuhnya basah kuyup oleh keringat.

Kini, ketujuh pilar itu mulai berdengung dalam harmoni yang mengerikan. Getarannya begitu kuat hingga kaca-kaca di villa mulai bergetar ritmis. Namun, Ling Feng belum selesai. Ia berjalan menuju pusat formasi, tempat Gagang Pedang Penghancur Bintang masih tertancap diam di tanah.

"Sekarang, saatnya memasang Jantungnya," ucap Ling Feng. "Lin Jian, hubungkan jalur utama dari ketujuh pilar itu langsung ke pangkal gagang pedangku."

Lin Jian memucat. "Tuan, itu bunuh diri! Gagang pedang itu memancarkan energi yang bisa menghancurkan molekul air dalam radius sepuluh meter! Jika saya mendekat, saya akan menguap!"

"Kau adalah murid luar dari Sekte Kaisar-ku sekarang," suara Ling Feng menjadi sangat dingin dan berat. "Seorang muridku tidak akan mati hanya karena sedikit radiasi pedang. Gunakan sirkuit batin yang sudah kutanam di kepalamu. Jadilah konduktor, bukan penghambat."

Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Lin Jian merangkak menuju gagang pedang hitam itu. Ia membawa kabel konduktor raksasa yang sudah ia siapkan. Saat ia berada dalam jarak satu meter, kulitnya mulai terasa perih, rambutnya berdiri karena muatan statis yang luar biasa. Namun, ia terus maju.

Saat tangan Lin Jian menyentuh pangkal gagang pedang, sebuah ledakan energi ungu meledak keluar.

BUMMM!

Seluruh lampu di Distrik Sembilan Metropolis padam seketika. Kota itu gelap gulita selama tiga detik. Namun di dalam Villa Nomor Sembilan, cahaya ungu itu justru semakin memadat. Lin Jian berteriak saat energi murni dari pedang kaisar mengalir melalui tubuhnya, melewati kabel, dan mengisi ketujuh pilar titanium tadi.

"Tahan!" teriak Ling Feng, tangannya terangkat ke langit, memerintah energi yang meluap itu untuk masuk ke dalam pola yang sudah disiapkan.

Perlahan tapi pasti, energi itu mulai stabil. Cahaya ungu yang tadinya liar mulai meredup dan terserap ke dalam tanah. Di monitor portabel milik Lin Jian yang masih tersisa, ribuan baris kode eror menghilang, digantikan oleh satu simbol kuno yang berarti: KEABADIAN.

Ling Feng menarik kembali auranya. Seketika, suasana kembali sunyi. Namun, itu adalah kesunyian yang berbeda. Villa itu kini seolah-olah berada di dimensi yang lain. Sinyal ponsel tidak bisa masuk, satelit Bio-Gene di atas langit hanya akan menangkap gambar hutan kosong yang statis, dan siapa pun yang mencoba memindai area ini dengan radar akan mendapati sistem mereka crash seketika.

Lin Jian tergeletak di tanah, napasnya pendek-pendek, namun senyum kemenangan tersungging di bibirnya. "Kita... kita melakukannya, Tuan. Kita baru saja menekuk realitas di tengah kota modern."

Ling Feng menatap murid barunya itu dengan pandangan yang sedikit lebih lembut. "Kau telah melewati ujian pertama, Lin Jian. Kau tidak hanya bertahan hidup, tapi kau telah menyatukan logikamu dengan hukum alam. Sekarang, villa ini bukan lagi sekadar rumah. Ini adalah gerbang menuju Sekte-ku."

Ling Feng kemudian berjalan menuju batas pagar villa. Ia menyentuh udara kosong di depannya, dan muncul riak air transparan yang memantulkan cahaya bulan. [Array Refleksi Karma] telah aktif.

"Mulai malam ini," ucap Ling Feng dengan nada yang sangat ikonik, "Dunia luar akan menganggap tempat ini sebagai lubang hitam. Bio-Gene akan menghabiskan jutaan dollar untuk mencari kita, tapi mereka tidak akan pernah menemukan kita bahkan jika mereka berdiri tepat di depan gerbang ini. Lin Jian, istirahatlah. Besok, tugasmu adalah menggunakan 'Jantung Array' ini untuk mulai memakan infrastruktur data Bio-Gene. Aku ingin kau menjadi bayangan yang menghantui setiap server mereka."

Lin Jian mencoba berdiri, meski kakinya masih lemas. Ia bersujud dengan khidmat. "Hamba mengerti, Tuan Ling. Mulai hari ini, teknologi mereka adalah mainan saya, dan nyawa mereka adalah milik Anda."

Di kejauhan, lampu-lampu Metropolis mulai menyala kembali, namun tidak ada yang tahu bahwa di bukit Distrik Sembilan, seorang Kaisar telah selesai membangun benteng pertamanya. Sebuah tempat di mana sains bertemu dengan keabadian, dan di mana rencana untuk menghancurkan tatanan dunia fana mulai disusun dengan sangat rapi.

Ling Feng kembali ke balkonnya, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang nampak seperti semut-semut kecil di matanya. "Bio-Gene, kalian bangga dengan peradaban kalian. Mari kita lihat, berapa lama peradaban kalian bisa bertahan saat aku mulai mencabut akarnya."

More Chapters