Cherreads

Chapter 3 - Chapter 3 — Gedung di Balik Bayangan

Mobil hitam yang membawa Arka melaju menembus jalanan Jakarta yang mulai sepi.

Lampu kota memantul di kaca mobil seperti garis-garis cahaya yang bergerak cepat.

Arka masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Armor futuristik.

Laboratorium rahasia.

Dan seorang jenderal yang mengatakan bahwa ia telah menemukan Project Garuda.

Akhirnya mobil berhenti di kawasan Thamrin, pusat bisnis Jakarta.

Di depan mereka berdiri sebuah gedung perkantoran modern.

Mayjen Okta keluar dari mobil.

Arka mengikuti dari belakang.

Di depan gedung terpampang sebuah papan nama perusahaan.

PT GITA WAHANA MANDIRI

Arka membaca tulisan itu dengan bingung.

“Perusahaan IT?”

Mayjen Okta berjalan masuk ke dalam gedung.

“Dari luar memang terlihat seperti itu.”

Mereka masuk ke lobi.

Beberapa pegawai masih bekerja di depan komputer.

Suasana terlihat seperti kantor teknologi biasa.

Lift terbuka.

Mereka masuk.

Mayjen Okta menekan tombol lantai 9.

Beberapa detik kemudian pintu lift terbuka.

Di depan mereka terlihat kantor modern dengan desain minimalis.

Beberapa staf terlihat sibuk dengan laptop dan layar monitor besar.

Arka mengerutkan kening.

“Ini benar-benar perusahaan.”

Mayjen Okta berjalan menyusuri lorong kantor.

“PT Gita Wahana Mandiri adalah kedok yang sangat baik.”

Arka menoleh.

“Kedok?”

Mayjen Okta berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke kota.

“Semua orang melihat perusahaan teknologi.”

Ia berkata tenang.

“Tapi hanya sedikit yang tahu bahwa perusahaan ini juga mendukung operasi rahasia negara.”

Arka mulai merasa dunia di sekelilingnya berubah.

Mayjen Okta menoleh.

“Namun tempat yang sebenarnya bukan di sini.”

Beberapa menit kemudian mereka kembali ke mobil.

Mobil itu kembali melaju menuju wilayah Kemayoran.

Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, mereka berhenti di depan gedung lain.

Gedung itu tidak semewah gedung sebelumnya, tetapi terlihat sangat aktif.

Di depan tertulis:

GEDUNG PELNI

Mereka masuk dan langsung menuju lift.

Mayjen Okta menekan tombol lantai 6.

Lift berhenti.

Pintu terbuka.

Begitu keluar, Arka langsung merasakan perbedaan.

Lorong itu dipenuhi pintu dengan sistem akses digital.

Beberapa kamera keamanan terlihat di langit-langit.

Mayjen Okta menempelkan kartu aksesnya.

Sebuah pintu logam terbuka.

Di balik pintu itu terdapat ruang teknologi besar.

Deretan server tinggi berdiri rapi seperti menara besi.

Lampu biru dari ribuan perangkat berkedip di seluruh ruangan.

Suara pendingin server berdengung lembut.

Arka terdiam.

“Ini…”

Mayjen Okta berkata singkat.

“Mini data center.”

Arka berjalan pelan di antara lorong server.

“Ini jauh lebih besar dari laboratorium kampus.”

Mayjen Okta tersenyum tipis.

“Semua sistem digital Project Garuda dipantau dari sini.”

Di ujung ruangan terlihat seorang pria berdiri di depan layar besar.

Ia mengenakan kaos hitam sederhana dan celana kasual.

Kacamata tipis menempel di wajahnya.

Pria itu terlihat sangat fokus mengetik sesuatu di tablet.

Mayjen Okta berkata pendek.

“Doni.”

Pria itu menoleh.

Tatapannya tenang dan tajam.

Ia memandang Arka beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Jadi ini orangnya.”

Arka sedikit bingung.

“Orangnya?”

Doni berjalan mendekat.

Gerakannya santai.

Namun aura pria itu terasa sangat berbeda.

“Kamu Arka, kan?”

Arka mengangguk.

“Iya.”

Doni menunjuk layar besar di belakangnya.

Di layar itu terlihat grafik sistem Garuda.

Salah satu indikator berkedip.

SYSTEM RESPONSE DETECTED

Doni berkata dengan nada tenang.

“Selama lima tahun sistem Garuda tidak pernah merespon siapa pun.”

Ia menatap Arka lebih dalam.

“Tapi ketika kamu masuk ke fasilitas tadi malam…”

Doni mengetuk layar tablet.

“AI Garuda langsung aktif.”

Arka merasa tenggorokannya kering.

“Pak… saya hanya mahasiswa.”

Doni tersenyum.

“Kadang justru orang seperti itu yang dipilih oleh sejarah.”

Ia menunjuk sebuah pintu logam di ujung ruangan server.

Pintu itu tampak berbeda dari yang lain.

Di atasnya terdapat sebuah lambang.

Seekor Garuda hitam dengan angka 08 di tengahnya.

Di bawah lambang itu tertulis satu kalimat.

BERGERAK DALAM DIAM

Doni berkata pelan.

“Di balik pintu itu adalah ruang koordinasi.”

Arka menatapnya.

“Koordinasi apa?”

Mayjen Okta menjawab.

“Koordinasi operasi rahasia.”

Doni membuka pintu logam tersebut.

Ruangan di dalamnya dipenuhi layar monitoring dan sistem komunikasi canggih.

Di tengah dinding terdapat logo besar yang sama.

Garuda hitam dengan angka 08.

Doni berkata dengan tenang.

“Selamat datang di pusat teknologi…”

“Tim Senyap 08.”

Arka belum menyadari…

bahwa sejak malam itu, hidupnya telah berubah selamanya.

More Chapters