Angin East Blue bertiup tenang, membawa aroma garam yang perlahan mulai kuanggap sebagai bau rumah. Aku duduk di atas tembok beton yang mengelilingi markas rahasia kami, menatap ke arah halaman kompleks.
Sudah satu bulan sejak aku terbangun di tubuh Sirius D. Arthur dan memanggil sepuluh gadis kecil yang kini sedang berlarian di bawah sana.
Bagi mereka, mereka hanyalah sekumpulan anak yatim piatu korban kapal karam yang kehilangan ingatan. Tapi bagiku, yang masih mengantongi memori utuh dari kehidupanku sebelumnya di Bumi, melihat mereka berkumpul di satu tempat rasanya tidak masuk akal.
Sistem benar-benar meretas hukum dimensi saat aku menggunakan 'Tiket Pemanggilan'. Sepuluh nama yang kupanggil bukanlah gadis sembarangan. Mereka adalah sosok-sosok legendaris dari berbagai dunia anime dan manga.
Mari kuabsen satu per satu monster-monster kecil yang kini memanggilku Kapten ini.
Dari dunia roh Bleach, aku langsung memborong tiga wanita paling mematikan: Unohana Retsu (mantan kriminal terkuat dan Kenpachi pertama), Yoruichi Shihoin (sang Dewi Kilat yang kecepatannya melampaui nalar), dan Rangiku Matsumoto (pendekar pedang abu yang mematikan).
Dari dunia ninja Naruto, ada Tsunade Senju, wanita dengan darah klan legendaris yang memiliki kekuatan fisik penghancur gunung dan ninjutsu medis absolut.
Dari dunia bayangan Spy x Family, aku menarik Yor Forger, sang pembunuh bayaran berjuluk 'Thorn Princess' yang insting membunuhnya sedingin es.
Untuk memastikan stamina dan pertumbuhan fisik kami maksimal selama 16 tahun ke depan, aku memanggil Ikumi Mito dari dunia kuliner Shokugeki no Soma. Pisau dagingnya sama berbahayanya dengan masakannya yang luar biasa.
Di garis belakang, untuk urusan taktik perang, kecerdasan buatan, dan tembakan jarak jauh, ada Vladilena Milize dari dunia distopia militer 86 -Eighty Six-, dipadukan dengan Fujiko Mine, penembak jitu sekaligus wanita paling licik dari dunia Lupin III.
Terakhir, untuk urusan dominasi area dan pengendalian sihir/elemen tingkat tinggi, ada Akeno Himejima sang pendeta petir suci dari High School DxD, serta Meiko Shiraki dari Prison School yang kelak akan mengubah cambuknya menjadi mimpi buruk bagi musuh.
Saat ini, mereka hanyalah sepuluh anak berusia enam tahun yang pipinya bersemu merah karena saling berebut sarapan daging panggang. Tapi 16 tahun dari sekarang? Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia akan kencing di celana begitu melihat armada kami.
"Sistem," gumamku dalam hati, menatap garis horizon lautan. "Waktu pelayaranku... aku sudah menentukannya."
[Mendengarkan, Tuan Rumah.]
"Enam belas tahun dari sekarang. Aku akan berlayar tepat di tahun yang sama saat bocah karet bernama Monkey D. Luffy memulai perjalanannya. Di saat itu, umurku dua puluh dua tahun."
Itu adalah titik kritis di mana seluruh sejarah dunia ini mulai bergejolak. Membiarkan sejarah berjalan semestinya di awal adalah langkah taktis. Tapi saat bel perang Marineford berbunyi nanti, aku akan memastikan dunia tahu bahwa ada Kaisar Kelima yang akan merobek takdir kematian Portgas D. Ace dan Shirohige.
"Arthur! Dagingnya dihabiskan Yoruichi!"
Teriakan melengking Tsunade membuyarkan lamunanku. Aku menunduk dan melihat kekacauan di depan pintu dapur. Yoruichi sedang tertawa mengejek sambil mengunyah daging, sementara Tsunade bersiap menerjangnya. Ikumi hanya bisa memijat pelipisnya sambil memegang spatula kayu raksasa.
Aku tersenyum tipis dan melompat turun. Waktu bermain sudah habis.
Setelah melerai keributan sarapan itu, aku mengumpulkan mereka bersepuluh di halaman tengah. Wajah-wajah mungil itu menatapku dengan rasa ingin tahu.
"Hari ini, masa orientasi kita resmi berakhir," kataku dengan nada serius. "Ikuti aku."
Aku memimpin mereka menyusuri koridor panjang menuju bagian tengah markas. Sebuah pintu baja ganda yang tebal bergeser terbuka. Hawa dingin dari logam langsung menyapa kulit kami.
"Selamat datang di Ruang Persenjataan."
Ruangan itu luas, berdinding kristal biru. Di tengah ruangan, Kapak Emas Raksasa—Hyperion—melayang memancarkan aura panas. Di sekeliling Hyperion, terdapat sepuluh tumpuan batu, dan di atas masing-masing tumpuan, melayang sepuluh senjata yang berbeda.
Gadis-gadis itu menahan napas. Seolah ditarik benang tak kasat mata, mereka melangkah mendekati takdir mereka.
Unohana menyentuh gagang pedang Nodachi miliknya (Minazuki). Matanya yang biasa tenang mendadak berkilat tajam. Yor menatap terpesona pada sepasang Stiletto kembar (Thorn Garden). Fujiko mengambil sepasang pistol hitam (Black Rose), Lena menggenggam tongkat komando taktis (Juggernaut), dan Akeno terpaku pada tongkat pendeta beraura petir (Raiju). Meiko menyentuh cambuk hitam kelam (Ouroboros), Rangiku mengangkat pedang lurusnya (Haineko), Yoruichi memasang sarung tangan cakar besi (Raijin), dan Tsunade memakai sepasang Gauntlet tebal (Katsuyu). Ikumi dengan mantap mengangkat pisau daging raksasanya (Hell Broiler).
"Kalian merasakan ikatan itu?" tanyaku. "Itu adalah senjata supernatural kalian. Senjata yang memiliki kemampuan magis."
"Magis?" Yoruichi memiringkan kepalanya. "Seperti kekuatan buah iblis yang kau ceritakan waktu itu?"
"Mirip," anggukku. "Tapi ada satu masalah besar."
Aku berjalan mendekati Hyperion, mengetuk bilahnya yang tebal. "Saat ini, senjata kalian itu hanyalah besi mati. Benda tumpul. Jika kalian menggunakannya untuk menebas monster di Grand Line, senjata kalian akan patah."
"Kenapa?" Unohana bertanya lembut, jemarinya mengelus Nodachi-nya.
"Karena dunia luar digerakkan oleh satu hukum mutlak: Haki. Kekuatan tekad." Aku menatap mereka tajam. "Kalian harus bisa mengalirkan energi kehidupan kalian, Busoshoku Haki (Persenjataan), ke dalam senjata itu. Tanpa Haki, kemampuan magis senjata kalian tidak akan pernah bangkit. Kalian tidak akan bisa menyentuh manusia api, manusia cahaya, atau menembus kulit yang sekeras baja."
"Lalu, bagaimana cara kita mendapatkan Haki itu, Arthur?" tanya Lena kritis.
"Dengan cara hampir mati," jawabku santai.
Aku berbalik dan berjalan keluar ruangan. "Bawa senjata kalian. Sudah saatnya kalian melihat seberapa tidak bergunanya kita saat ini."
Kubah raksasa berlabel "Ruang Simulasi Tempur" itu menelan kami. Bagian dalamnya kosong melompong, putih bersih tanpa batas.
"Dengar baik-baik," suaraku bergema. "Di dalam ruangan ini, rasa sakit itu 100% nyata. Jika kalian terbunuh di sini, kalian tidak akan mati di dunia nyata. Tapi kalian akan merasakan daging kalian robek dan tulang kalian hancur. Paham?"
Beberapa dari mereka menelan ludah pucat, tapi tidak ada yang mundur.
"Sistem," ucapku dingin. "Munculkan Proyeksi Level 3. Seorang Wakil Laksamana Angkatan Laut yang menguasai Haki Persenjataan dan Rokushiki."
[Memproses Permintaan. Memuat Proyeksi Simulasi. Peringatan: Rasa Sakit Disetel ke 100%.]
Udara terdistorsi. Pasir digital berkumpul, membentuk siluet pria jangkung berjas putih dengan tulisan "Keadilan" di punggungnya. Bayangan hitam itu memancarkan aura intimidasi yang membuat napas kami sesak.
Hawa keberadaan pembunuh sungguhan.
"B-besar sekali..." gumam Akeno bergetar.
"Jangan mundur!" teriakku, menghunuskan pedang kayu latihanku. "Serang dia bersama-sama! Sekarang!"
Yoruichi melesat pertama. Kecepatan bawaannya luar biasa. Ia melompat dan mengayunkan cakar Tekko-nya tepat ke wajah bayangan itu.
Clang!
Bunyi logam beradu nyaring. Cakar Yoruichi ditangkis dengan mudah. Kulit lengan bayangan itu berubah menjadi hitam legam mengkilap.
"Itu Busoshoku Haki!" teriakku.
Bayangan itu bahkan tidak berkedip. Ia mengangkat satu jarinya, membidik perut Yoruichi.
Shigan.
"Gahh!" Yoruichi memuntahkan darah segar saat jari berlapis Haki itu menembus perut kecilnya. Tubuhnya terlempar dan langsung hancur menjadi serpihan cahaya.
Kematian pertama. Hanya butuh dua detik.
"Yoruichi!!" jerit Tsunade murka. Ia melompat maju, meninju dada bayangan itu dengan gauntlet-nya.
Namun bayangan itu menghilang seketika.
Soru.
Tiba-tiba bayangan itu berada di belakang Tsunade dan mengayunkan kakinya. Rankyaku. Bilah angin tajam membelah punggung Tsunade. Ia hancur menjadi piksel cahaya dalam sekejap.
Sisanya membeku. Keputusasaan mencekik kami. Unohana membelalakkan matanya, cengkeramannya pada Nodachi memutih kencang.
Bayangan itu menoleh ke arah kami. Ia tidak repot-repot menggunakan teknik lagi. Ia sekadar melesat ke depan bagai badai hitam.
Pembantaian sepihak terjadi. Yor tertusuk telak, Rangiku terpotong, Lena remuk oleh pukulan, Ikumi terpental hingga lehernya patah. Aku mencoba menangkis tendangannya, namun pedang kayuku hancur, dan rasa sakit yang tak terbayangkan meledak di dadaku saat lutut hitam berlapis Haki menghancurkan tulang rusukku.
Gelap.
"HAAH!"
Aku terbangun dengan napas memburu, melompat duduk secara refleks. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Aku meraba dadaku panik. Utuh. Tidak ada tulang rusuk yang hancur.
Aku menoleh. Sepuluh gadis kecil itu berserakan di atas lantai putih. Mereka terengah-engah, menangis, dan gemetar hebat. Yor meringkuk memeluk lututnya, gemetar tanpa suara. Tsunade memukul lantai sambil terisak frustrasi.
Aku berdiri, kakiku masih bergetar hebat. Aku berjalan ke tengah-tengah mereka.
"Sakit, kan?" tanyaku dengan suara parau.
Mereka mendongak. Ketakutan mendominasi wajah mereka yang basah oleh air mata.
"Itulah yang akan terjadi jika kita nekat keluar dari pulau ini sekarang," kataku tanpa ampun, membiarkan realitas menampar kami semua. "Monster seperti itu ada ribuan di luar sana. Dan di atas monster itu, masih ada iblis-iblis laut yang bisa menghancurkan pulau ini hanya dengan jentikan jari."
Aku menatap Unohana. Ia tidak menangis. Tubuh kecilnya gemetar, namun mata biru tuanya memancarkan kilatan gelap yang mengerikan. Ada seringai kecil, nyaris tak terlihat, di sudut bibirnya. Insting Kenpachi-nya baru saja terbangun oleh bau kematian.
"Kita punya waktu enam belas tahun," suaraku menggema di ruangan putih yang sunyi itu. "Enam belas tahun untuk mati berulang kali di ruangan ini. Enam belas tahun untuk memaksa tubuh kita berevolusi dan membangkitkan Haki."
Aku mengulurkan tanganku ke arah mereka.
"Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kalian bersantai. Aku akan melatih kalian sampai kalian memohon agar tidak dilahirkan ke dunia ini. Apakah kalian siap... kru-ku?"
Tsunade mengusap air matanya dengan kasar. Ia meraih tanganku dan berdiri tegak, rahangnya mengeras. "Jangan remehkan aku, Kapten bodoh!"
Satu per satu, sepuluh gadis kecil itu bangkit. Ketakutan di mata mereka perlahan terbakar habis oleh tekad yang baru lahir.
Di hari itu, di dalam ruangan putih tanpa batas, masa kanak-kanak kami resmi mati. Dan legenda armada bajak laut paling mengerikan di sejarah One Piece... mulai ditempa dengan darah dan rasa sakit.
