Dunia simulasi berderit untuk kesekian kalinya. Kali ini, pemandangan berubah drastis menjadi sebuah bar kayu tua yang remang-remang di tepi pantai sebuah pulau tropis. Aroma tembakau dan sisa rum memenuhi udara. Suasananya tenang, namun ketenangan itu terasa seperti sebilah pisau yang siap menusuk dari balik bayangan.
Di tengah bar yang kosong itu, Fujiko Mine berdiri dengan keanggunan seorang femme fatale. Ia mengenakan pakaian kulit ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, namun perhatian utama adalah sepasang pistol hitam di pinggangnya, Black Rose.
"Sistem," suaraku bergema, "Muat Proyeksi: Benn Beckman. Berikan dia tingkat kecerdasan maksimal dan kemampuan menembak yang dia miliki."
[Memproses... Memuat Proyeksi Simulasi: Wakil Kapten Bajak Laut Rambut Merah. Peringatan: Target memiliki IQ tertinggi di East Blue dan Haki Persenjataan yang sangat padat.]
Sesosok pria dengan rambut abu-abu pendek dan bekas luka di wajahnya muncul di ujung bar. Ia mengenakan jubah bermotif spiral dan sedang menyalakan cerutu. Di bahunya, tersampir sebuah senapan flintlock panjang. Ia tidak memancarkan hawa membunuh yang meledak-ledak seperti Kaido, namun kehadirannya membuat udara di bar itu terasa sangat berat.
Benn Beckman menatap Fujiko, lalu mengembuskan asap cerutunya. "Menarik. Seorang gadis dengan pistol cantik. Kau tahu, di laut ini, menarik pelatuk adalah keputusan terakhir yang akan kau ambil sebelum kematian."
Fujiko tertawa kecil, suara tawa yang bisa meluluhkan hati pria mana pun. Namun, jemarinya sudah berada di pelatuk. "Oh, aku sangat setuju. Tapi biasanya, pria-pria di depanku mati sebelum mereka sempat menyadarinya."
BANG!
Fujiko menarik pelatuk tanpa peringatan. Peluru itu melesat, namun bukan peluru biasa. Peluru itu dilapisi Busoshoku Haki tingkat tinggi yang membuat lintasannya tidak terpengaruh oleh angin.
Beckman hanya memiringkan kepalanya sedikit. Peluru itu menyerempet pipinya, namun ia bahkan tidak berkedip. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia mengayunkan senapannya—bukan untuk menembak, tapi untuk memukul peluru kedua yang datang dari sudut yang berbeda.
CLANG!
"Taktik yang bagus," puji Beckman datar. "Menggunakan pantulan peluru pada botol rum untuk menyerang dari titik buta."
Fujiko tidak berhenti. Ia menggunakan Shunpo—versi fisik yang lebih cepat dari Soru—untuk berpindah-pindah di balik meja dan kursi bar. Setiap kali ia bergerak, dua hingga tiga tembakan dilepaskan.
Arena bar itu meledak dalam rentetan tembakan. Namun, Beckman tetap berdiri di posisinya. Ia menggunakan Kenbunshoku Haki (Observasi) untuk membaca lintasan peluru Fujiko. Menariknya, Beckman tidak hanya menghindar; ia menangkis peluru-peluru itu dengan laras senapannya yang dilapisi Haki sekeras berlian.
"Kau membuang-buamg amunisi, Nona," ucap Beckman. Ia akhirnya mengangkat senapannya dan menarik pelatuknya satu kali.
BOOM!
Satu tembakan dari Beckman terasa seperti tembakan meriam. Peluru itu mengejar Fujiko yang sedang menggunakan Shunpo. Fujiko terkejut; peluru Beckman ternyata memiliki Haki yang begitu padat sehingga bisa membelah udara dan mengunci targetnya.
Fujiko berputar di udara, melepaskan tembakan balasan tepat ke arah peluru Beckman.
DUARRR!
Ledakan Haki terjadi di tengah ruangan. Fujiko mendarat di atas meja bar, napasnya sedikit memburu. Ia menyadari satu hal: melawan Beckman bukan tentang siapa yang lebih cepat, tapi siapa yang lebih cerdas menaruh jebakan.
"Arthur-san benar," bisik Fujiko dengan seringai licik. "Pria tua ini punya otak yang encer."
Fujiko mulai melepaskan rentetan tembakan yang terlihat acak ke seluruh penjuru bar. Meja hancur, lampu gantung jatuh, dan dinding kayu bolong-bolong. Beckman tetap tenang, menepis setiap peluru yang mengarah padanya, namun ia mulai menyadari sesuatu.
"Kau tidak sedang menembakku," gumam Beckman.
"Terlambat menyadarinya, Sayang," sahut Fujiko.
Ternyata, peluru-peluru Fujiko yang "meleset" itu adalah peluru khusus yang dilapisi Haki tipe "Sticky". Peluru itu menempel pada kabel-kabel lampu gantung dan botol-botol alkohol yang pecah. Fujiko menarik sebuah benang tipis di tangannya.
"Bankai... Black Rose: Dance of the Lead Thorns!"
Mendadak, seluruh sisa peluru yang menempel di ruangan itu meledak serentak, melepaskan ribuan serpihan logam tajam yang dilapisi Haki Persenjataan tingkat tinggi. Serpihan itu membentuk jaring maut yang menutup seluruh ruang gerak Beckman.
Beckman terbelalak. Ia harus segera melapisi seluruh tubuh dan senapannya dengan Haki hitam pekat untuk menahan badai serpihan itu. Ia terpaksa mundur hingga punggungnya menabrak dinding bar.
Di saat itulah, Fujiko muncul di depan Beckman melalui Shunpo terakhirnya. Pistolnya sudah berada tepat di bawah dagu Beckman.
"Skakmat," bisik Fujiko.
Namun, di saat yang sama, laras senapan panjang Beckman juga sudah mengunci perut Fujiko. Keduanya berdiri diam. Satu tarikan pelatuk, dan mereka berdua akan hancur.
Haki mereka beradu di jarak dekat, menciptakan tekanan udara yang membuat bar simulasi itu mulai retak dan hancur menjadi piksel digital.
Ting!
[Simulasi Dihentikan.] [Analisis Data: Karakter Fujiko Mine mampu menyeimbangkan strategi dan ketepatan dengan Target Wakil Kapten Yonko.] [Hasil Akhir: SERI (Kualifikasi Lulus).]
Pemandangan bar menghilang, kembali ke ruang putih. Fujiko meniup ujung pistolnya dan menyarungkannya dengan gaya menggoda. "Dia benar-benar tipe pria yang tenang. Aku hampir saja kalah jika dia tidak berhenti sejenak untuk memikirkan taktikku."
Aku berjalan mendekat, memberikan tepukan di pundaknya. "Kau luar biasa, Fujiko. Menipu pria dengan IQ tertinggi di laut itu bukan tugas mudah."
Aku menoleh ke arah tiga kru terkuatku: Unohana, Yoruichi, dan Tsunade. Ketiganya berdiri dengan aura yang berbeda. Jika kru lain memancarkan Haki Persenjataan, ketiga wanita ini memancarkan sesuatu yang lebih gelap dan lebih dominan.
Kilatan petir hitam mulai menyambar secara sporadis di sekitar kaki mereka. Itu adalah Haoshoku Haki (Haki Penakluk) yang meluap.
"Sekarang," suaraku menjadi sangat serius, "Ujian bagi para calon Legenda. Kalian akan melawan para Admiral. Dan ingat, gunakan Haki Penakluk kalian. Lilitkan pada senjata kalian seperti yang dilakukan Roger dan Shirohige."
Unohana Retsu hanya tersenyum tipis, namun matanya yang biru tua sudah berubah menjadi sangat gelap. "Laksamana, ya? Aku harap mereka tidak mudah patah."
Aku menoleh ke Sistem. "Sistem! Muat tiga proyeksi sekaligus. Akainu, Aokiji, dan Kizaru. Berikan mereka kekuatan maksimal tanpa ampun!"
Status Karakter (End of Training):
Fujiko Mine: Level Komandan Puncak Yonko (Setara Benn Beckman/Shiryu).
Skill Spesialis: Strategist & Sniper (Akurasi 100% dengan Haki Penetrasi).
Haki: Busoshoku (Tingkat Tinggi), Kenbunshoku (Tingkat Tinggi - Analisis).
