Krisis eksistensi adalah penyakit yang lebih mematikan daripada tersedak sendok perak.
Setelah menyaksikan seekor katak bersepatu bot yang menentang gravitasi dengan dua helai bulu elang, Ss merasa kewarasannya mulai menguap seperti embun di atas aspal selai kacang. Dunianya semakin tidak masuk akal, namun ada satu hukum alam yang tetap absolut bahkan di Papua Zz: perut yang lapar tidak bisa diberi makan dengan filsafat.
Ss menyeret kakinya menyusuri jalanan kota hingga ia tiba di depan sebuah kompleks perumahan ultraluks bernama Echidna Real Estate. Di papan iklannya, harga satu unit rumah terpampang dengan angka yang fantastis: 33 butir nasi.
Bagi entitas biasa, itu mungkin harga yang konyol. Namun bagi Ss, nilai tukar satu butir nasi di sini setara dengan satu unit Lalaborjini keluaran terbaru yang mengkilap.
"Gila... ini perumahan untuk sultan atau untuk koloni semut?" gumam Ss sinis. Ia menatap gerbang emas itu, di mana seekor landak semut dengan kacamata hitam aviator berjaga dengan ekspresi sekeras batu kali.
Karier di Atas Kerupuk Alot
Terdesak oleh kemiskinan yang mencekik, Ss akhirnya menyerah pada sistem. Ia melamar pekerjaan di Pabrik Ikan Mas Minyak. Nasib membawanya menjadi staf administrasi di bagian yang sangat spesifik: "Penyisikan Baut".
Gajinya? Sebuah angka penghinaan: 0,25 butir nasi per bulan.
Secara matematis, Ss baru bisa memiliki rumah impiannya setelah bekerja selama 132 bulan tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa berkedip sedikit pun. Sebuah rencana masa depan yang sangat realistis untuk seseorang yang identitasnya hanya terdiri dari dua huruf.
Suatu sore, kerinduan melanda. Ss berniat menelepon markas lamanya di stratosfer. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di ruang komunikasi, matanya nyaris melompat keluar. Tidak ada kabel tembaga, tidak ada fiber optik berkelajuan cahaya. Di atas meja panjang, berderet katak-katak yang duduk manis dengan kabel yang dicolokkan langsung ke lubang hidung mereka.
"Berapa biaya telepon ke luar angkasa?" tanya Ss pada resepsionis tupai yang sibuk mengikir kuku tajamnya.
"0,25 butir nasi per panggilan, Bos," jawab si tupai tanpa menoleh.
BRAK!
Ss menggebrak meja kerja yang ternyata terbuat dari lembaran kerupuk alot. "Sialan! Gaji sebulan cuma habis buat 'halo-halo' doang? Lebih baik aku naik bus!"
Transportasi yang Menentang Maut
Halte bus di Papua Zz adalah sebuah ujian nyali. Bus di sini bukanlah kendaraan bermesin, melainkan sebatang Pohon Kelapa yang sudah melengkung 89 derajat, tampak hampir patah karena beban hidup. Di atas batangnya, kursi-kursi kayu diikat sembarangan dengan pita kado berwarna merah muda.
Harga tiketnya adalah 0,10 butir nasi. Ss naik dengan perasaan was-was yang luar biasa, khawatir jika pohon itu mendadak kehilangan elastisitasnya dan melentingkannya kembali ke ketinggian 230 km ke luar angkasa.
Bus kelapa itu akhirnya berhenti di depan sebuah warung remang-remang bernama Warung Fufu. Pemiliknya adalah seekor Echidna bernama Ecd, yang tampaknya memiliki hobi kuliner yang menyimpang: ia lebih suka mengunyah tisu toilet daripada melayani pelanggan.
"Kalau mau pesan, harus lewat aplikasi daring! Kami tidak melayani pembelian luring karena kami malas ditatap oleh non-spesies aneh sepertimu," ketus Ecd sambil menyeka sisa-sisa tisu di sudut mulutnya.
"Tolonglah, Ecd. Lambung saya sudah mulai mencerna dirinya sendiri," rayu Ss memelas. "Berapa harga Nasi Fufu-nya?"
Ecd menatap Ss dengan pandangan diskriminatif, dari ujung kepala hingga ujung kaki. "0,15 butir nasi saja. Spesial untukmu yang bentuknya menyerupai sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, aku beri pengecualian bayar luring. Tapi awas, jangan menjilat piringnya."
Sendawa Filosofis
Ss makan dengan beringas. Nasi Fufu itu memiliki tekstur yang ajaib—campuran antara karet penghapus dan sari pati awan yang padat. Begitu sendawa terakhirnya bergema di seantero warung, Ss kembali terdiam. Ia menatap meja dengan tatapan kosong yang sangat dalam, seolah sedang melihat lubang hitam di dasar semesta.
Sebuah pertanyaan filosofis baru muncul dari bibirnya:
"Hmm... Tempat apa yang sempit, memiliki alat untuk menyedot ke bawah, dan berakhir di sebuah tempat penampung yang biasanya berbau?"
Ecd berhenti mengunyah tisu toiletnya. Ia menatap Ss dengan tatapan ngeri yang tak tertahankan.
