Cherreads

Chapter 4 - Batch 3: Mimpi Bola Afrika (Bagian 2)

Ecd menghentikan aktivitas mengunyah tisu toiletnya. Untuk sesaat, suasana warung menjadi sunyi, menyisakan suara kunyahan kertas yang tersangkut di tenggorokannya. Mata kecil sang Echidna menatap Ss dengan binar penuh penghakiman, seolah sedang melihat noda tinta di atas kertas putih yang suci.

​"Tempat sempit, alat penyedot, dan penampung yang beraroma busuk..." Ecd mengulang deskripsi itu dengan nada datar. "Maksudmu adalah Toilet, bukan?"

​Ia menunjuk ke arah sebuah pintu kayu yang miring 45 derajat, seolah-olah hukum gravitasi sedang mencoba membisikkan sesuatu yang buruk pada engselnya.

​"Tapi ingat, di Papua Zz, membuang beban pikiran itu ada harganya," tambah Ecd.

​"Berapa?" tanya Ss. Tangannya menekan perut yang mulai mengeluarkan irama musik techno yang agresif—sebuah tanda bahwa metabolisme tubuh siluetnya sedang memberontak.

​"Hanya 0,5 butir nasi," jawab Ecd. Ia menatap kantong Ss yang kempes dan layu, lalu menghela napas panjang hingga serpihan tisu di mulutnya terbang tertiup angin. "Tapi, spesial untukmu yang bentuknya menantang nalar, aku berikan akses gratis. Anggap saja ini promosi pembukaan pori-pori."

​"Terima kasih," sahut Ss singkat. Ia segera melesat masuk ke dalam ruangan lembap itu sebelum pori-porinya memutuskan untuk membuka diri di tempat yang salah.

​Meditasi di Atas Takhta Keramik

​Di dalam toilet yang sempit itu, Ss sama sekali tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh makhluk biologis normal. Ia justru duduk bersila di atas tutup toilet, bermeditasi dalam diam sambil menatap dinding yang penuh dengan coretan rumus matematika yang semuanya salah kaprah.

​Di tengah keheningan yang pengap itu, Ss bergumam pelan. Suaranya memantul di dinding porselen, menciptakan gema yang menghantui:

​"Jika Toilet adalah sumber kekuatanku, maka apa jadinya eksistensiku tanpanya? Mungkinkah aku hanya akan berakhir menjadi seonggok bubur monyet? Terbuat dari kelapa dan pisang yang dicuci di hamparan laut bersama burung-burung yang kehilangan arah?"

​Ia merenung terlalu dalam. Begitu dalam hingga ia lupa bahwa ia masih berada di Warung Fufu. Empat puluh lima menit berlalu layaknya satu detik di ruang hampa. Di luar, antrean Echidna lainnya mulai tidak sabar. Mereka menggedor-gedor pintu menggunakan duri punggung mereka, menciptakan suara dentuman metalik yang memekakkan telinga.

​Saat Ss akhirnya keluar, Ecd sudah menunggunya dengan tangan bersedekap di depan dada.

​"Hei! Apa yang kau lakukan di dalam sana? Membuang air saja butuh waktu sepanjang umur jagung!" semprot Ecd.

​Ss menatap Ecd dengan tatapan yang jauh lebih cerah, seolah-olah ia baru saja melihat ujung dari alam semesta. "Aku tidak membuang apa pun. Aku hanya merenung selama empat puluh lima menit itu. Izin pamit, pencerahan sudah berada di genggamanku."

​Upacara Bubur di Pesisir Abu

​Ss melanjutkan langkahnya menuju pesisir. Di sana, pasir pantai tidak berwarna putih ataupun hitam, melainkan abu-abu pekat layaknya tumpukan abu rokok dari raksasa yang sedang galau. Kehadirannya disambut oleh kawanan monyet yang tampak sangat sibuk dengan urusan mereka sendiri.

​Pemandangan itu sungguh aneh. Setiap monyet memegang sebatang stik kayu. Namun, stik itu bukan digunakan untuk alat pukul, melainkan untuk digigiti dengan penuh perasaan hingga hancur dan penuh air liur. Setelah stik itu mencapai tingkat "kematangan" yang pas, mereka menggunakannya sebagai telepon genggam untuk menghubungi kerabat mereka di hutan sebelah.

​Di tengah pantai, sebuah ritual transendental sedang berlangsung. Para monyet itu mencampur kelapa parut, potongan pisang, dan air yang diambil langsung dari deburan ombak—lengkap dengan rasa garam dan residu bensin kapal yang autentik. Mereka sedang meracik Bubur Monyet.

​Anehnya, mereka tidak memakannya. Bubur berbusa itu diletakkan di dalam sebuah tempurung kelapa emas dan dibawa dengan khidmat ke hadapan Sang Raja Monyet yang bertakhta di atas ban bekas.

​"Apa itu untuk Sang Raja?" tanya Ss, rasa penasarannya mulai bangkit.

​Ternyata, asumsinya salah besar. Sang Raja Monyet tidak menyentuh makanan itu. Ia justru menyimpannya dengan rapi di dalam sebuah etalase kaca bertuliskan: "Menu Pengunjung".

​Begitu mata Sang Raja menangkap sosok Ss yang berjalan lunglai, ia segera berdiri dan mengangkat tempurung kelapa itu tinggi-tinggi ke arah langit.

​"Hee-hee! (Makanlah ini, Wahai Makhluk Tanpa Bentuk!)" teriak Sang Raja dengan suara parau, menawarkan persembahan bubur pisang-kelapa-air laut itu kepada Ss.

​Ss menatap cairan berbusa di depannya. Ia teringat akan renungannya di atas takhta keramik tadi. Apakah ini takdir yang ia cari? Menjadi bagian dari ekosistem bubur monyet yang tak masuk akal ini?

More Chapters