Cherreads

Chapter 8 - ​Bab 7: Langkah di Atas Abu

Uap panas menyembur dari pipa-pipa besi yang berkarat di sepanjang gang sempit Distrik Dermaga, menciptakan tirai putih yang menyamarkan pandangan. Di sini, udara terasa berat, membawa rasa logam dan garam laut yang membusuk. Arlan Vane berdiri mematung di balik bayangan sebuah tangki air raksasa, napasnya diatur sedemikian rupa hingga nyaris tak terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri.

​Ia mengenakan mantel panjang berbahan linen kasar yang sudah luntur warnanya menjadi abu-abu kecokelatan—warna yang sempurna untuk menghilang di tengah kumuhnya distrik bawah. Di kepalanya, sebuah topi flat cap ditarik rendah, menyembunyikan rambut birunya yang kusam agar tidak memantulkan cahaya lampu gas yang sesekali berkedip di ujung jalan.

​Arlan tidak sedang terburu-buru. Baginya, terburu-buru adalah tiket sekali jalan menuju liang lahat.

​Tangan kanannya, yang kasar dan penuh kapalan karena latihan ribuan kali setiap hari, bertumpu ringan pada sabuk kulitnya, dekat dengan posisi pedang pendeknya. Ia tidak menyentuh gagang senjata itu; instingnya yang terlatih dari tahun-tahun bekerja sebagai tentara bayaran kelas bawah di Silver Compass memberitahunya bahwa gerakan sekecil apa pun bisa memicu deteksi dari mereka yang memiliki indra tajam.

​Tugasnya malam ini hanyalah sebuah kontrak kecil: mencari tahu ke mana perginya peti-peti kayu bertanda khusus yang menghilang dari pelabuhan utama dua hari lalu. Kliennya hanya memberikan satu petunjuk samar—sebuah kode angka yang tergores di dinding gudang yang terbakar.

​Arlan merayap maju. Langkah kakinya menggunakan teknik Silent Tread yang ia sempurnakan melalui kerja keras, bukan bakat. Setiap langkahnya mendarat dengan bagian luar telapak kaki terlebih dahulu, mendistribusikan berat badannya secara perlahan untuk menghindari bunyi sekecil apa pun dari kayu yang lapuk atau kerikil yang bergeser.

​Ia berhenti di sudut sebuah gudang tua yang dinding batanya sudah mulai rontok. Matanya yang tajam mengamati setiap inci area di depannya. Tidak ada lampu jalan di sini. Hanya ada cahaya redup dari jendela-jendela pabrik pengalengan ikan di seberang sungai yang memantul di permukaan air yang berminyak.

​Satu menit... dua menit... sepuluh menit.

​Arlan tetap diam. Ia tidak membiarkan rasa bosan atau pegal di kakinya mengganggu konsentrasinya. Di dunia para pemilik jalur, orang-orang dengan bakat hebat sering kali mati karena mereka terlalu percaya diri dengan kekuatan mereka. Arlan, yang sadar bakatnya hanya "biasa saja", hanya memiliki satu keunggulan: kewaspadaan yang paranoid.

​Tiba-tiba, telinganya menangkap suara percakapan lirih dari balik pintu besi di ujung gang. Suaranya teredam oleh deru mesin uap yang tak pernah berhenti di distrik ini, namun Arlan mampu membedakan nada suara manusia dari kebisingan mekanis.

​"Sektor empat... belum ada tanda-tanda dari pengawas."

​"Cepatkan. Sebelum fajar menyingsing, semuanya harus sudah di bawah tanah."

​Arlan menyipitkan mata. Ia mengeluarkan sebuah cermin kecil yang sudah retak dari sakunya. Dengan sangat hati-hati, ia menjulurkan cermin itu di sudut dinding, memiringkannya sedikit untuk melihat ke arah sumber suara tanpa harus menunjukkan kepalanya.

​Di permukaan cermin yang kusam, ia melihat dua sosok pria berpakaian gelap. Mereka tidak tampak seperti penjahat biasa; cara mereka berdiri dan memegang lentera menunjukkan disiplin militer yang tertanam kuat. Di pinggang mereka, Arlan melihat siluet senjata yang tidak lazim—bukan senapan uap standar, melainkan sesuatu yang lebih ramping dan panjang.

​Jalur Aura? pikir Arlan. Atau hanya penjaga sewaan dengan teknik manual dasar?

​Ia tidak berani menggunakan Auranya untuk memindai mereka. Pada Rank 2 (Flow-Seeker), jangkauan persepsinya masih sangat terbatas, dan menggunakan energi tersebut hanya akan membuat udara di sekitarnya bergetar—sesuatu yang akan langsung disadari oleh pengguna jalur lain yang lebih senior.

​Arlan memilih untuk mengandalkan panca indra alaminya. Ia memperhatikan rute patroli mereka. Mereka bergerak setiap lima menit sekali, membentuk pola segitiga di sekitar pintu masuk rahasia yang tersembunyi di balik tumpukan tong minyak.

​Berhati-hati adalah kunci, Arlan mengingatkan dirinya sendiri.

​Ia mulai memetakan area tersebut di dalam kepalanya. Setiap pipa uap, setiap tumpukan sampah, dan setiap celah di antara bangunan adalah variabel yang harus ia hitung jika ia terpaksa harus melarikan diri. Arlan adalah tipe orang yang selalu menyiapkan tiga rute pelarian sebelum ia memutuskan untuk melangkah maju satu langkah pun.

​Hujan mulai turun perlahan, membawa rintik-rintik dingin yang menusuk kulit. Arlan tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkan air hujan membasahi mantelnya, menggunakan suara rintik yang menghantam atap seng untuk menutupi pergerakan berikutnya.

​Ia merayap menuju sebuah tumpukan kayu di sisi kiri, mendekati pintu masuk yang dijaga itu sejauh mungkin tanpa masuk ke area terang. Dari jarak ini, ia bisa melihat simbol kecil yang terukir di pintu besi tersebut—sebuah simbol yang bukan milik organisasi resmi mana pun yang ia kenal.

Ini adalah sesuatu yang baru. Sesuatu yang tersembunyi di balik lapisan terdalam kota ini.

​Arlan mengeluarkan buku catatan kecilnya, tangannya tetap stabil meski udara malam semakin menggigit. Ia menggambar simbol itu dengan gerakan cepat namun akurat. Tangannya yang kasar bergerak dengan kemahiran yang hanya didapat dari dokumentasi ribuan misi sebelumnya.

​Pekerja keras seperti Arlan tahu bahwa informasi yang detail adalah apa yang membuat seorang tentara bayaran bisa makan esok hari.

​Tiba-tiba, salah satu penjaga berhenti tepat di depan tempat persembunyian Arlan. Jarak mereka hanya terpisah oleh tumpukan kayu setinggi dada. Arlan bisa mencium bau tembakau murah dan keringat dari pria itu.

​Jantung Arlan berdegup sedikit lebih kencang, namun ia langsung menekan emosinya. Ia mengalirkan sedikit Aura ke otot-otot kakinya, bersiap untuk ledakan kecepatan instan jika ia terdeteksi. Pedang pendeknya tetap berada di sarungnya; ia tahu bahwa di tempat sesempit ini, mengeluarkan senjata akan menimbulkan suara gesekan logam yang fatal.

​Penjaga itu meludah ke tanah, bergumam tentang cuaca yang buruk, lalu berbalik kembali ke posisinya.

​Arlan tidak menghela napas lega. Ia menunggu hingga penjaga itu berada sepuluh langkah darinya sebelum ia perlahan-lahan mundur, merayap kembali ke dalam kegelapan total gang tersebut. Investigasinya untuk malam ini sudah cukup. Ia telah menemukan lokasi, pola penjagaan, dan simbol misterius itu. Memaksakan diri lebih jauh hanya akan menjadi tindakan bodoh yang tidak sesuai dengan prinsipnya.

​Saat ia sudah merasa cukup jauh dari zona bahaya, Arlan berdiri tegak dan berjalan dengan langkah yang tampak santai namun tetap waspada menuju distrik yang lebih ramai. Di bawah bayangan sebuah jembatan besar yang bergetar karena kereta uap yang melintas di atasnya, ia berhenti sejenak untuk memeriksa barang-barangnya.

​Semuanya masih ada. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang bergeser.

​Arlan menatap tangannya yang basah oleh hujan. Ia tahu, di dunia ini, ia bukan siapa-siapa. 

Namun, Arlan tidak pernah mengeluh. Bakat biasa saja baginya adalah tantangan, bukan kutukan. Jika ia harus berlatih sepuluh kali lebih keras dari orang lain hanya untuk bertahan hidup, maka ia akan melakukannya tanpa ragu.

"Aku harus menjadi kuat"

More Chapters