Debu-debu mikro menari di dalam sorot cahaya matahari yang pucat, yang menyusup melalui jendela tinggi Perpustakaan Umum Lorgar. Di ruangan luas yang dipenuhi aroma kertas tua, tinta yang mengering, dan pengawet buku yang tajam, Arlan Vane duduk di sudut yang paling terpencil. Di depannya, tumpukan buku tebal mengenai "Sejarah Simbolisme Komersial" dan "Ensiklopedia Heraldik Kerajaan" terbuka berantakan.
Arlan mengembuskan napas panjang, sebuah kepulan uap tipis muncul di udara pagi yang dingin. Jemarinya yang kasar membalik halaman terakhir dari buku kelima yang ia periksa sejak tiga jam yang lalu.
Kosong.
Simbol yang ia temukan di gudang dermaga semalam—dua garis melengkung yang saling mengunci dengan satu titik di tengahnya—tidak tercatat di mana pun. Ia telah mencari di bagian lambang keluarga bangsawan, tanda dagang perusahaan mesin uap, hingga simbol-simbol keagamaan ortodoks. Tidak ada jejak.
Jika sesuatu tidak ada di perpustakaan umum sebesar ini, hanya ada dua kemungkinan, pikir Arlan sambil menutup buku dengan suara 'debukan' yang pelan. Pertama, itu adalah simbol yang terlalu baru hingga belum dicatat. Kedua, itu adalah simbol yang sengaja dihapus dari sejarah publik.
Instingnya yang tajam cenderung memilih kemungkinan kedua. Lorgar adalah kota yang dibangun di atas rahasia industri; apa pun yang tidak ingin diketahui oleh otoritas kerajaan biasanya akan segera "dihilangkan" dari rak-rak buku resmi. Arlan merasakan denyut halus di pelipisnya, sebuah tanda peringatan bahwa rasa ingin tahu ini mungkin akan membawanya ke wilayah yang tidak seharusnya ia injak.
Ia mengembalikan buku-buku itu ke rak dengan rapi—sebuah kebiasaan disiplin yang tidak pernah ia tinggalkan. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia menarik topi flat cap-nya lebih rendah dan melangkah keluar dari perpustakaan.
Dunia di luar sana segera menyambutnya dengan bising yang memekakkan telinga. Lorgar tidak pernah diam. Suara uap yang menyembur dari pipa-pipa distribusi, dentang logam yang beradu di pabrik baja, dan teriakan para kusir kereta uap menciptakan simfoni industri yang menyesakkan. Arlan berjalan menembus kabut asap yang berwarna kekuningan, langkahnya mantap menuju ke arah yang lebih kumuh, menjauh dari kemegahan Distrik Tengah.
Tujuannya adalah Distrik 'Gully', sebuah lembah beton di mana cahaya matahari jarang mencapai tanah karena tertutup oleh jembatan-jembatan pipa uap raksasa yang melintang di atasnya. Di sana, di antara dinding-dinding bata yang berlumut dan bau air selokan yang menusuk, berdirilah sebuah bangunan tua dengan papan nama kayu yang sudah lapuk: Rumah Harapan Saint Jude.
Ini adalah panti asuhan tempat Arlan dibesarkan. Sebuah tempat yang tidak memberikan kemewahan, namun memberikan atap bagi mereka yang dibuang oleh roda gigi kemajuan kota.
Saat ia mendekat, beberapa anak kecil dengan wajah yang cemong oleh debu batu bara sedang bermain dengan bola kain yang sudah robek. Mereka berhenti sejenak, menatap pria dengan mantel abu-abu itu dengan pandangan waspada, sebelum akhirnya kembali ke permainan mereka. Arlan tidak tersenyum; ekspresinya tetap datar, namun matanya memancarkan kelembutan yang jarang ia tunjukkan di markas Silver Compass.
"Arlan? Kau kembali lagi, Nak?"
Seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi muncul dari balik pintu kayu yang berderit. Itu adalah Ibu Elara, pengurus panti yang telah melihat ratusan anak datang dan pergi dari tempat ini.
"Ibu Elara," Arlan menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat. "Hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja di sini."
Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan bungkusan kecil berisi 10 koin perak—sepertiga dari hasil misinya semalam. Baginya, uang ini adalah kelangsungan hidup anak-anak itu. Bagi anak-anak itu, 10 koin perak berarti roti hangat dan susu untuk satu minggu ke depan.
"Terima kasih, Arlan. Kau selalu terlalu baik," Elara mendesah, menerima koin itu dengan tangan yang gemetar. "Masuklah. Air panas baru saja mendidih."
Arlan mengikuti wanita itu ke dalam ruang makan yang sederhana. Duduk di kursi kayu yang keras, pikirannya melayang kembali ke tujuh tahun yang lalu. Di panti asuhan inilah, di gang sempit di samping bangunan ini, takdirnya berubah.
Saat itu, Arlan hanyalah seorang pemuda berumur lima belas tahun yang bekerja sebagai kuli angkut di pasar. Suatu malam, ia menemukan seorang pria paruh baya yang terluka parah, bersandar di tumpukan sampah dengan luka robek di perutnya. Pria itu bukan penjahat, namun ia dikejar oleh sesuatu yang Arlan tidak bisa lihat di dalam kegelapan.
Alih-alih melarikan diri, Arlan yang saat itu hanya memiliki keberanian orang bodoh, memutuskan untuk menyembunyikan pria itu di gudang bawah tanah panti asuhan selama tiga hari. Ia mencuri obat-obatan dan makanan dari dapur panti demi menyelamatkan nyawa orang asing itu.
Pria itu ternyata adalah seorang pengguna Jalur Aura Rank 1 yang sudah tua dan sekarat, seorang pengawal bayaran yang dikhianati oleh majikannya sendiri. Sebagai ucapan terima kasih sebelum akhirnya ia meninggal karena infeksinya, pria itu memberikan sebuah buku catatan kecil yang sudah ternoda darah—sebuah manual dasar untuk Teknik Arus Tenang.
"Dunia ini tidak adil bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan, Nak," pria itu pernah berbisik di sela napas terakhirnya. "Jalur Aura bukan tentang keajaiban, tapi tentang bagaimana kau memeras setiap tetes potensi dari daging dan darahmu sendiri. Kau tidak punya bakat besar, tapi matamu... matamu memiliki kesabaran."
Arlan tersadar dari lamunannya saat Ibu Elara meletakkan secangkir teh panas di depannya.
Ia menatap tangannya sendiri yang memegang cangkir. Bakat "biasa saja" yang ia miliki memang sebuah kenyataan yang pahit. Ia ingat betapa sulitnya ia berusaha membangkitkan Aura pertamanya. Di saat orang-orang berbakat mungkin hanya butuh waktu sebulan, Arlan butuh waktu satu tahun penuh latihan fisik yang menyiksa hanya untuk merasakan aliran energi hangat di bawah kulitnya.
Ia mencapai Rank 2 (Flow-Seeker) melalui repetisi ribuan kali setiap hari selama bertahun-tahun. Bagi Arlan, kekuatannya bukan berasal dari anugerah dewi, melainkan dari sisa-sisa keberuntungan yang ia tempa dengan rasa sakit.
"Arlan, kau tampak lebih banyak berpikir hari ini," ucap Ibu Elara pelan sambil memperhatikan ekspresi Arlan. "Apakah pekerjaanmu di kota semakin sulit?"
"Dunia sedang berubah, Ibu," jawab Arlan diplomatis. Ia tidak ingin menceritakan tentang sindikat penyelundupan atau simbol misterius yang ia temukan. "Mesin-mesin semakin cepat, dan orang-orang semakin terburu-buru. Terkadang aku merasa kita semua hanya menunggu untuk digantikan oleh baja."
"Tapi kau bukan baja, Arlan. Kau punya hati," Elara tersenyum tipis. "Jangan pernah biarkan kota ini mencuri itu darimu."
Arlan terdiam. Ia meminum tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar ke dadanya. Di luar panti asuhan, Lorgar terus menderu, sebuah monster mekanis yang siap menelan siapa saja yang lemah. Ia tahu bahwa ia tidak bisa selamanya menjadi "pelindung" panti asuhan ini hanya dengan menjadi Rank 2 biasa.
Rasa haus akan informasi mengenai simbol itu kembali muncul. Jika perpustakaan umum tidak memilikinya, berarti ia harus mencari di tempat lain. Mungkin di pasar gelap, atau mungkin... melalui kontak-kontak lama Silver Compass yang lebih berisiko.
Arlan berdiri, mengenakan kembali topinya. "Aku harus pergi, Ibu. Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di pelabuhan."
"Berhati-hatilah, Arlan. Kabut hari ini terasa lebih dingin dari biasanya."
Arlan mengangguk pelan. Saat ia melangkah keluar dari panti asuhan, ia menatap ke langit Lorgar. Awan asap hitam dari pabrik-pabrik besar menutupi cahaya matahari, menciptakan bayangan yang statis di atas kota.
Pikirannya kembali ke simbol itu. Garis melengkung yang mengunci. Ada sesuatu di dalam simbol itu yang terasa... purba. Bukan mekanis seperti Lorgar, bukan juga formal seperti Gereja. Sesuatu yang terasa seperti kabut yang ia hirup sekarang.
Tanpa disadari, langkah kakinya tidak lagi membawanya kembali ke kontrakannya, melainkan menuju ke Distrik Utara, tempat di mana toko-toko barang antik dan buku-buku terlarang sering kali berpindah tangan di balik pintu tertutup.
Arlan berjalan masuk ke dalam gang-gang yang lebih gelap, sosoknya perlahan menghilang, menyatu dengan bayangan kota yang dingin.
