Zero mengeluarkan bola kecil dari dalam tasnya.
"Main gak?"
Javier melirik bola itu sekilas.
"Tentu."
Tanpa memedulikan satu kelas—
mereka langsung mulai bermain lempar bola kecil di dalam kelas seperti anak SD.
BUK!
"GOAL! SIUUUU!"
Zero langsung berselebrasi berlebihan sambil mengangkat tangan ke atas.
"AHAHAHA!"
"Menang lagi!"
Javier hanya duduk santai dengan wajah datar.
"Latihan dulu sana, Javier."
"Lima tahun lagi baru lawan gue."
Javier menopang dagunya malas.
"Kau aja yang latihan."
"Hm?"
"Lebih baik aku makan tidur daripada latihan bola."
"Itu bukan hobiku."
Zero langsung memasang ekspresi heran.
"EEE?"
"Mau hobi atau bukan tetap latihan lah, bego."
"Mana ada orang nunggu hobi dulu baru belajar dasar."
"Kebegoanmu unik."
Javier menarik napas panjang.
"Aku menyesal mengenalmu."
"Sudah terlambat."
"Lanjut lagi?"
"Boleh."
Namun sebelum mereka mulai bermain lagi—
BRAAK!
Pintu kelas terbuka kasar.
Suasana kelas langsung hening.
Alex datang bersama tiga anak buahnya.
Tatapan seluruh kelas langsung berubah tegang.
Zero menghentikan bola di tangannya lalu melihat ke arah mereka dengan santai.
"Kau Zero?"
"Iya."
"Ada keperluan apa?"
Alex menatap Zero beberapa detik.
"Apa kau tahu kenapa aku cari kau?"
"Gak tahu."
Zero menyandar santai ke kursinya.
"Dan gue gak peduli."
Suasana langsung sunyi beberapa detik.
Alex sedikit mengernyit.
Jawaban itu berbeda dari yang ia bayangkan.
Biasanya orang akan takut.
Atau gugup.
Tapi Zero malah terlihat bosan.
Alex menatap tajam.
"Aku kasih kau lima detik buat ke sini."
"Kalau tidak aku—"
"Yah yah yah…"
Zero melambaikan tangan malas.
"Kalau tidak nyenye ini lah itu lah."
"Kalau ngomong cepat lah bego."
"Gue berdiri dua menit cuma dengar curhatan lu."
Beberapa murid langsung menahan tawa.
Javier bahkan ikut menambahkan sambil menahan senyum.
"Curhat kayak cewek."
urat di dahi Alex langsung muncul.
Anak buah Alex maju marah.
"Kurang ajar lu!"
Alex langsung menunjuk Zero dan Javier.
"Hajar mereka."
Dua anak buah Alex langsung menyerang Javier terlebih dahulu.
Sementara satu lagi maju ke arah Zero.
Javier menghindari pukulan lawannya dengan santai.
Gerakannya ringan.
Cepat.
Seolah sudah terbiasa.
"Kau lambat."
"Hah?!"
Javier mengambil penggaris besi di dekat meja.
SWOOSH!
BUK!
Penggaris itu langsung menyapu rambut lawannya.
Dan—
sebagian rambutnya langsung habis.
Botak sebelah.
Kelas langsung hening.
Cowok itu memegang kepalanya dengan gemetar.
"R-RAMBUT GUE?!"
"RAMBUT KEREN GUE!"
Ia langsung kabur keluar kelas karena malu.
Saat ia melihat Alex—
Alex hanya memasang ekspresi campuran jijik, heran, dan tidak percaya.
Javier langsung menunjuk cowok itu.
"Itu salah sendiri."
Sementara itu—
di sisi lain kelas—
Zero justru bertarung dengan cara paling tidak normal.
PTUIH!
Ia meludahi muka lawannya.
"MAJU LAGI GUE LUDAHIN LU!"
Zero mulai mengumpulkan ludah lagi di mulutnya.
Melihat itu—
dua anak buah Alex langsung mundur jijik.
"ANJING JIJIK BANGET!"
"WOI DIA MAU NGELUDAH LAGI!"
Mereka langsung lari ke toilet sambil membersihkan muka dan rambut mereka.
Satu kelas langsung chaos.
Beberapa murid ketawa.
Beberapa malah jijik.
Sementara Alex…
sudah benar-benar marah.
"Cukup."
Ia maju sendiri.
Tubuhnya langsung memasang kuda-kuda boxing.
Tatapannya serius.
BUK! BUK! BUK!
Alex menyerang Zero bertubi-tubi.
Cepat.
Keras.
Namun—
Zero menghindari semuanya dengan santai.
Kepalanya bergerak sedikit demi sedikit.
Seolah serangan Alex terlalu lambat baginya.
Alex makin kesal.
"DIAM!"
BUK!
Pukulan terakhir Alex melesat ke wajah Zero—
namun Zero hanya memiringkan kepalanya sedikit.
Tinju itu meleset tipis.
Zero tersenyum kecil.
"…Sekarang giliranku?"
Untuk pertama kalinya—
Alex merasakan bahaya.
Zero perlahan memasang kuda-kuda yang sama persis seperti Alex.
Dan detik berikutnya—
BUK!
Pukulannya melesat sangat cepat.
Alex mencoba menahan—
namun Zero langsung menunduk dari serangan balasan.
BUK!
Tinju Zero menghantam dagu Alex.
BUK!
Lalu perut kirinya.
Alex terdorong keras sampai membentur pintu kelas.
Satu kelas langsung terdiam.
Zero melangkah pelan mendekat.
Aura santainya hilang.
Tatapannya berubah serius.
Alex mencoba menyerang lagi—
namun Zero lebih cepat.
BUK!
Pukulan keras menghantam wajah Alex.
Darah langsung keluar dari hidung dan mulutnya.
Alex mulai goyah.
Namun Zero sadar…
kalau pertarungan ini mulai terlalu jauh.
"…Sial."
Zero langsung mengubah arah pukulannya.
BUK!
Ia menghantam perut Alex cukup keras hingga tubuhnya langsung lemas dan pingsan.
Suasana kelas benar-benar sunyi.
Semua murid membeku.
Zero langsung menangkap tubuh Alex sebelum jatuh.
Ekspresinya berubah panik.
"WOI!"
Ia menoleh ke Javier.
"TELFON AMBULANS CEPAT!"
Javier langsung mengambil HP tanpa banyak bicara.
Zero membuka pintu kelas.
"PINGGIR!"
Semua murid langsung memberi jalan.
Zero menekan luka Alex dengan kain sambil menahan darahnya.
"…Sial."
"Gue terlalu keras."
Suara ambulans mulai terdengar dari luar sekolah.
Tanpa berpikir panjang—
Zero langsung menggendong Alex.
Lalu—
BRUK!
Ia melompat dari lantai dua sekolah.
DUAK!
Tubuhnya mendarat keras di bawah.
Dua petugas ambulans langsung membelalakkan mata.
"KAU MANUSIA?!"
Namun Zero tidak peduli.
"PAK!"
"Teman saya tolong cepat!"
Melihat darah di wajah Alex—
petugas langsung membawa Alex masuk ke ambulans.
Zero berdiri diam beberapa detik sambil melihat ambulans pergi.
Ekspresinya terlihat menyesal.
"…Gue cuma mau bikin dia pingsan."
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Tapi insting bertarung gue kebablasan."
Beberapa menit kemudian…
Zero kembali ke kelas.
Lorong sekolah masih ramai oleh murid yang penasaran.
"WOI."
Tatapan Zero langsung tajam.
"Bubar."
"Di sini gak ada film."
Semua murid langsung minggir.
Zero membuka pintu kelas lalu masuk seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hiiih…"
Ia duduk di kursinya sambil tersenyum kecil lelah.
"Capek juga."
Javier melihatnya beberapa detik.
"Lu gak kasihan?"
"Kasihan lah."
Zero menyandarkan kepala ke kursi.
"Tapi dia duluan yang nyerang."
"Kalau ada orang nyerang gue…"
"…gue tetap lawan."
Ia menatap langit-langit kelas.
"Sebenarnya gue cuma mau bikin dia pingsan."
"Tapi pas bertarung…"
"…tubuh gue gerak sendiri."
Javier terdiam sebentar.
Lalu menghela napas kecil.
"…monster."
