Cherreads

Chapter 4 - gang alex

Keesokan paginya…

pintu kelas kembali terbuka.

Dan seperti biasa—

Zero datang terlambat.

"Yo, Javier."

Javier langsung melirik ke arah pintu.

"Telat lagi."

Zero menyeringai santai sambil berjalan masuk.

"Biasalah."

"Kau gak bosan terlambat terus?"

Zero memasukkan tangan ke saku.

"Ya mau gimana lagi. Selalu ada masalah di jalan."

Javier menghela napas kecil.

"Mengapa tidak cari jalan lain?"

Zero langsung berhenti berjalan.

Lalu menatap Javier dengan ekspresi tidak percaya.

"Kau pikir jalan ke sekolah banyak?"

Javier diam.

"Kalau gue lewat jalan lain…"

Zero mengangkat jempol sambil tersenyum santai.

"Gue bisa masuk dapur orang."

Beberapa murid yang mendengar langsung tertawa kecil.

"…Jawabanmu bikin gue malas hidup," kata Javier datar.

"Hehe."

Zero santai saja.

Namun bukannya duduk, ia malah berhenti di dekat pintu sambil memegangnya.

Javier mengangkat alis.

"Mau sampai kapan kau di situ?"

Zero menatap pintu beberapa detik.

"Mau peluk pintu sampai pulang."

"Bagus. Kembangkan kebiasaan itu."

"Kurang ajar."

Satu kelas tertawa kecil melihat mereka.

Zero akhirnya duduk di samping Javier.

"Tadi malam gue cek Kaleo."

Javier melirik.

"Hm?"

"Dia emang berbakat."

"Tapi?"

"Masih belum cukup buat ngalahin gue."

Javier tertawa kecil.

"Egomu sehat."

"Bangsat."

---

Di sisi lain kelas…

Beberapa murid mulai memperhatikan mereka.

"Mereka ribut terus ya."

"Iya, padahal bukan anak populer."

"Cowok ganteng juga bukan."

Salah satu cewek melirik ke arah Queen.

"Jangan-jangan mereka caper depan Queen."

Yang lain tertawa kecil.

"Ya iyalah. Queen kan cewek populer di kelas."

"Mungkin mereka cuma pengen perhatian."

Queen melirik sekilas ke arah Zero dan Javier.

"…Aku rasa enggak."

"Mereka kayaknya memang aneh aja."

---

Pelajaran dimulai

Guru masuk ke kelas.

"Selamat pagi anak-anak."

"Hari ini kita belajar tentang sel tubuh."

Zero langsung menguap.

"Haaah… lama banget…"

Javier melirik.

"Baru juga mulai."

"Laper gue."

Guru mulai menjelaskan.

Suasana kelas cukup tenang…

sampai—

Zero tiba-tiba bergumam pelan, tapi terdengar:

"Sel tubuh…"

"Hm…"

Javier mulai curiga.

"Kenapa?"

"Menurut gue…"

Zero menunjuk papan tulis.

"…itu cocok buat nama makanan."

Javier langsung memejamkan mata.

"Ya Tuhan…"

Guru berhenti menulis.

"Siapa tadi yang bicara?"

Kelas langsung sunyi.

Zero perlahan menunjuk Javier.

"Dia, Bu."

"WOI!"

Satu kelas langsung tertawa.

Javier menatap Zero dengan wajah tidak percaya.

"Kau manusia terburuk yang pernah aku kenal."

"Salah lu duduk dekat gue."

Guru berjalan mendekat.

"Zero."

"Iya Bu…"

"Apa hubungan sel tubuh dan makanan?"

Zero langsung berdiri percaya diri.

"Karena biar estetis."

"Hm?"

"Dan juga terdengar keren begitu lah kira kira."

Kelas hening.

Lalu—

"HAHAHAHA!"

Guru tertawa kecil menahan tawanya.

Javier menutup wajahnya.

"…Aku ingin pindah sekolah."

Guru memijat pelipisnya.

"…Duduk."

"Siap, Bu."

Namun saat Zero ingin duduk—

ia langsung menunjuk Javier.

"Dia yang menyuruh ku berbicara, Bu."

Javier langsung menatap Zero tajam.

"mantap kembangkan kebiasaan mu kotor ini."

"Kita teman."

"Justru karena itu aku kecewa."

Kelas kembali dipenuhi tawa.

---

Setelah pelajaran

Guru akhirnya berkata:

"Kalian berdua nanti ke ruang guru."

Zero langsung panik pura-pura.

"Hah?! Jangan, Bu!"

Javier langsung ikut bermain drama.

"jangan makan kami,kami masih muda."

Beberapa murid kembali tertawa.

Bahkan guru ikut tersenyum kecil.

"Sudah. Cepat nanti datang."

"Iya, Bu…"

Guru pun keluar kelas.

Zero langsung melihat Javier.

"Bego lu."

"Lah yang mulai siapa?"

"Lu gak nolongin gue."

"Aku menjaga masa depanku."

"lu beban."

"Teman cerdas."

Mereka pun berjalan keluar kelas menuju ruang guru.

---

Di dalam kelas…

Beberapa murid masih membicarakan mereka.

"Serius deh…"

"Mereka malu gak sih?"

"Lucu banget tadi."

"Javier mukanya pasrah banget."

Queen hanya diam sambil menutup bukunya.

"…Mereka memang aneh."

Salah satu cewek tertawa kecil.

"Kalau aku sih, mereka cocok jadi badut kelas."

Cewek lain ikut tertawa.

"Atau babu Evelyn."

Evelyn tersenyum kecil sambil memainkan rambutnya.

"Mungkin cocok juga."

Namun…

di sudut kelas lain—

ada seseorang yang diam sejak tadi.

Jojo.

Ia melihat ke arah pintu tempat Zero dan Javier pergi.

Entah kenapa…

ia merasa dua orang itu mirip dengannya.

Sering dibicarakan di belakang.

Dianggap aneh.

Dan dijadikan bahan tertawaan.

Namun bedanya—

Zero dan Javier terlihat tidak peduli.

Sementara dirinya…

selalu takut.

Jojo menunduk pelan.

Kalau Alex melihat mereka berdua…

mungkin mereka juga akan dijadikan mainan baru.

Memikirkan itu membuat Jojo sedikit gelisah.

Semoga saja mereka tidak bertemu Alex.

Namun—

BRAAK!

Pintu kelas tiba-tiba terbuka kasar.

Suasana kelas langsung hening.

Alex masuk ke dalam kelas dengan pakaian sedikit berantakan.

Ada luka kecil di wajah dan tangannya, seolah baru selesai bertarung.

Tatapannya tenang…

tapi membuat suasana kelas langsung terasa berat.

Beberapa murid langsung menunduk takut.

Alex berjalan santai sambil memasukkan tangan ke saku.

Lalu berhenti tepat di depan Jojo.

"Hei."

Jojo langsung tegang.

"I-Iya…"

Alex menunjuk kursi di depannya.

"Turun."

Jojo perlahan menunduk lalu berlutut tanpa berani membantah.

Alex duduk santai di punggungnya seolah itu hal biasa.

"Bagus."

Kelas hanya diam.

Tak ada yang berani membantu.

Alex menatap Jojo beberapa detik.

"Kau kelihatan bahagia akhir-akhir ini."

Tubuh Jojo langsung menegang.

"Tidak…"

Alex menyipitkan mata.

"Tapi wajahmu kayak nyembunyiin sesuatu."

"Aku tidak bahagia…"

BUK!

Alex memukul kepala Jojo pelan namun kasar.

"Jangan bohong."

Jojo menggigit bibirnya menahan malu.

Alex lalu mengangkat salah satu kakinya.

"Kalau kau bersihin bawah sepatu gue pake lidah…"

"Gue gak bakal bully lu selama tiga hari."

Kelas makin sunyi.

Jojo gemetar kecil.

Namun sebelum Jojo bergerak—

mata Alex tiba-tiba tertuju pada sebuah tas di dekat bangku.

Ada bungkus keripik menyembul keluar.

Alex mengambilnya perlahan.

"Aneh."

Ia membaca nama di tas itu.

"Zero?"

Evelyn tersenyum kecil sambil menyilangkan tangan.

"Anak ribut itu."

"Yang sering bikin kelas rame."

Teman-temannya ikut tertawa kecil.

"Yang satunya lagi Javier."

Alex duduk santai di atas meja.

"Mereka berani?"

Evelyn mengangkat bahu.

"Bukan berani."

"Lebih ke gak sadar diri."

Beberapa murid ikut tertawa.

Namun Jojo justru diam.

Entah kenapa…

ia merasa Alex salah menilai mereka.

Alex melirik ke arah Jojo.

"Kau kenal mereka?"

Jojo sedikit ragu sebelum menjawab.

"…Tidak dekat."

"Tapi?"

"Mereka… berbeda."

Alex tersenyum tipis.

"Berbeda?"

"Semua orang bilang begitu sebelum dipukul."

Suasana kelas langsung sunyi lagi.

Evelyn memainkan rambutnya pelan sambil tersenyum.

"Kalau aku sih penasaran."

"Hm?"

"Biasanya orang yang terlalu santai itu…"

"Antara memang bodoh…"

"…atau sebenarnya berbahaya."

Alex tertawa kecil.

"Kalau berbahaya…"

"Berarti lebih menarik lagi."

Evelyn menunjuk bangku kosong Zero.

"Kenapa gak dijadiin mainan baru aja?"

"Jojo udah terlalu lama."

Alex tersenyum tipis.

"Menarik."

"Di mana mereka?"

"Tadi ke ruang guru."

Alex langsung berdiri.

"Ayo cari."

Geng Alex pun keluar kelas.

Sementara Jojo hanya diam menunduk.

Entah kenapa…

ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.

---

Sementara itu…

di lantai tiga sekolah…

Zero dan Javier baru saja turun dari ruang guru.

"Jadi…"

"Kita dipanggil cuma buat disuruh jangan ribut lagi?"

"Iya."

"Bu guru buang-buang waktu gue."

"Kau yang mulai."

"Detail kecil."

Mereka mulai berjalan turun tangga.

"Balik kelas aja?"

"Oke."

"Tapi habis itu main bola kertas."

"Di kelas?"

"Iya."

"Kau memang gak takut mati."

"Santai."

Sesampainya di depan kelas—

semua murid langsung melihat mereka.

Javier mengerutkan dahi.

"…Kenapa mereka lihat kita begitu?"

Zero mengangkat bahu.

"Mungkin karena kita ganteng."

"Tidak mungkin."

"Sakit hati gue."

Namun tanpa memedulikan siapa pun—

Zero mengambil kertas dan lem dari mejanya.

Lalu mulai menulis sesuatu dengan serius.

Javier melirik penasaran.

"Apa itu?"

Zero menyeringai kecil.

"Peraturan baru."

Ia berjalan menuju pintu kelas lalu menempelkan kertas itu tepat di tengah pintu.

Tulisan besar di sana berbunyi:

"MASUK HARUS SOPAN JIKA TIDAK PENTING DILARANG MASUK."

Javier membaca tulisan itu beberapa detik.

"…Kau pikir ini markas yakuza?"

"Minimal kelas kita punya aturan."

"Itu bukan aturan."

"Itu ancaman."

Beberapa murid langsung menahan tawa melihat tingkah mereka.

Sementara itu…

di ujung lorong sekolah—

Alex dan gengnya mulai berjalan mendekati kelas 10 E.

More Chapters