Chapter 3 - Kota Mingzhu
Pada keesokan harinya, suasananya sangat damai. Lian Yuexin sudah bangun dengan keadaan rambutnya yang agak berantakan, wajahnya basah oleh air dingin.
Di halaman, ibunya Mei Ruyin sedang menjemur kacang yang baru dipanen, sementara ayahnya sudah menyiapkan peralatan untuk membuat ukiran baru.
“Xin‘er, hari ini kamu ikut Ayah ke kota,” ucap ayahnya tiba-tiba sambil mengangkat balok kayu besar.
“Ke kota?” Lian Yuexin mengangkat alis, matanya berbinar. “Untuk apa, Ayah?”
“Kita akan menjual beberapa ukiran kayu dan hasil panen. Lagipula, sesekali kau perlu melihat dunia luar desa. Kau tidak ingin hanya mengenal sungai dan bukit, bukan?” Lian Haoyu tersenyum tipis kepada putrinya.
Lian Yuexin yang mendengar itu terdiam sejenak, lalu dia mengangguk dengan penuh semangat. “Baik, Ayah! Aku akan ikut pergi ke kota.”
Setelah itu, mereka sarapan terlebih dahulu. Ibunya memasak makanan kesukaan Lian Yuexin, bubur kacang hangat dan sayuran rebus sederhana di atas meja.
“Xin‘er, makanlah yang banyak. Kau butuh tenaga untuk perjalanan ke kota,” ibunya menyerahkan mangkuk bubur sambil tersenyum lembut.
Lian Yuexin mengambil sendok dan mulai menyantap makanan dengan lahap. “Ibu, buburnya sangat enak hari ini. Rasanya lebih manis!”
Mei Ruyin tertawa kecil, “Itu karena ibu memasukkan madu.”
Lian Haoyu yang duduk di seberang hanya mengangguk sambil tersenyum. “Kalau kau suka, berarti usaha ibumu tidak sia-sia.”
Setelah sarapan, mereka menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ada beberapa patung kayu berukuran kecil, peralatan rumah tangga dari kayu yang halus, juga beberapa keranjang bambu berisi kacang dan sayuran.
Saat sedang menyiapkan barang-barang, terdengar suara langkah kaki. Su Linyao dan Han Meiyun berlari kecil ke halaman rumah Lian Yuexin.
“Xin‘er! apakah kau akan ke kota?” Su Linyao bertanya dengan nada iri.
“Benarkah?! Ahhh, betapa beruntungnya dirimu. Aku bahkan belum pernah keluar desa, paling hanya sampai ladang saja di belakang bukit,” tambah Han Meiyun sambil menunjukkan ekspresi manyun.
Lian Yuexin tertawa melihat temannya, “Kalau begitu lain kali kalian ikut denganku. Kita bertiga akan melihat dunia luar desa.”
Ketiga gadis itu saling berpandangan. Untuk sesaat, mata mereka penuh dengan imajinasi tentang jalan-jalan kota, keramaian pasar, dan mungkin.... pemandangan yang lebih indah.
Saat semuanya sudah siap, Lian Yuexin duduk di samping ayahnya. Saat kereta kayu sederhana yang ditarik kuda mulai bergerak, Su Linyao dan Han Meiyun berlari kecil, mereka melambaikan tangan dengan wajah berseri-seri.
“Xin‘er! Jangan lupa bawa sesuatu dari kota untuk kami!” teriak Han Meiyun dengan suara lantang.
Su Linyao menambahkan, “Kalau ada barang bagus atau pakaian indah, bawakan juga!”
Lian Yuexin tertawa sambil melambaikan tangan balasan. “Baik! Kalau aku menemukan sesuatu, aku akan membawakannya untuk kalian!”
Kereta itu terus melaju, meninggalkan suara tawa mereka, debu beterbangan dari jalan desa.
Perjalanan menuju kota memakan waktu 2 hari. Jalan setapak yang sempit melewati ladang luas, lalu hutan kecil.
Di tengah perjalanan, Lian Yuexin menatap sekeliling dengan mata berbinar. “Ayah, lihatlah! Gunung itu sangat besar!”
Lian Haoyu melirik putrinya, lalu tersenyum. “Xin‘er, desa kita hanyalah desa kecil. Suatu hari nanti kau akan menjelajahi seluruh dunia, dan akan melihat banyak hal indah yang tak terbayangkan.”
“Benar, aku akan menjelajahi dunia suatu hari nanti. Pasti banyak hal menakjubkan di luar sana...” wajah Lian Yuexin menunjukkan ekspresi gembira, dia saat ini sangat senang.
Kereta mereka terus melaju di atas tanah, melewati perbukitan yang ditumbuhi pohon liar dan semak belukar.
Saat matahari sudah hampir terbenam, mereka berhenti sejenak di tepi sungai. Lian Yuexin melompat turun, wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Ayah, lihat.... airnya jernih sekali!” serunya dengan gembira, dia menunduk dan mencelupkan tangannya. Air sungai itu terasa sangat dingin.
Lian Haoyu hanya menggeleng kecil, “Xin‘er, jangan bermain terlalu lama. Kita masih harus melanjutkan perjalanan.”
“Baik, Ayah.” Lian Yuexin mengisi kantung air mereka.
Malam pertama, mereka bermalam di sebuah gubuk sederhana milik kenalan lama ayahnya. Orang itu lelaki tua, bernama Paman Zhao. Dia tinggal sendirian, rambutnya sudah memutih, namun matanya masih tajam.
“Haoyu! Sudah lama sekali kau tidak berkunjung,” sambutnya ramah.
“Ya, kali ini aku membawa putriku, Lian Yuexin,” jawab Lian Haoyu sambil menunjuk ke arah putrinya.
Mata lelaki tua itu menatap Lian Yuexin lama, lalu dia tersenyum samar. “Gadis kecil yang sangat cantik. Aku yakin kau akan melihat banyak hal suatu saat nanti.”
Lian Yuexin hanya mengangguk polos sambil menyunggingkan senyum.
Malam itu, mereka makan bersama dengan sup sayuran hangat dan roti kering.
Saat Lian Yuexin duduk di dekat api unggun, dia menatap ke arah langit yang penuh bintang.
“Ayah... bintang-bintang di sini lebih banyak dari yang kulihat di desa,” matanya berbinar saat melihat keindahan di langit.
“Xin‘er,” Ayahnya berkata dengan nada tenang, “dunia yang luas ini, di setiap tempat yang berbeda, kau akan melihat bintang-bintang dengan cara yang berbeda juga. Semakin jauh kau melangkah, semakin banyak hal yang akan kau temui.”
Lian Yuexin menatap ayahnya lama, lalu tersenyum lembut. “Hahh... aku pasti akan melakukan itu semua.”
Keesokan paginya, Lian Yuexin masih tidur di balik selimutnya. Di luar ayahnya sudah bangun lebih awal dan sedang mempersiapkan barang-barang sebelum melanjutkan perjalanan.
“Xin‘er, bangunlah. Sarapan sudah siap,” ayahnya memanggil dari luar.
Lian Yuexin segera bangkit, mengikat rambutnya yang masih sedikit berantakan, lalu melangkah keluar.
Di meja makan, Paman Zhao telah menyiapkan roti hangat dan teh herbal. Lian Yuexin menyantap sarapannya dengan lahap, sesekali menatap keluar jendela.
Setelah makan, mereka menyiapkan kereta. Lian Yuexin duduk di samping ayahnya, menatap jalan setapak yang berkelok di depan mereka. Hati kecilnya berdebar tidak sabar sampai di kota.
Lian Yuexin sesekali melihat ke arah pepohonan dan semak belukar. Pohon-pohon tinggi dan dedaunan yang berdesir tertiup angin lembut.
“Ayah, butuh berapa lama lagi sampai ke kota?”
“1 hari perjalanan, Xin‘er.”
Sepanjang hari, mereka melewati hutan lebat dan padang rumput yang luas. Sesekali mereka bertemu dengan pedagang kain di jalan. Lian Yuexin selalu menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
Menjelang sore, mereka berhenti di sebuah lapangan kecil di kaki bukit untuk beristirahat. Lian Yuexin berlari ke tengah lapangan, merasakan rumput yang basah menyentuh kakinya.
“Ini sangat menyenangkan, aku sangat menyukainya!” suaranya penuh kesenangan.
Sore itu, mereka bermalam di sebuah penginapan gubuk kecil di pinggir hutan. Pemiliknya seorang wanita paruh baya, dia menyambut mereka dengan hangat.
Setelah makan malam, Lian Yuexin duduk di dekat jendela, menatap langit dan menunggu bintang-bintang muncul.
Saat malam semakin larut, bintang bintang mulai bermunculan. Lian Yuexin menatapnya dengan mata berbinar.
Di sampingnya, ayahnya duduk dengan tenang. “Xin‘er, besok kita akan sampai di kota Mingzhu. Ingatlah, kota besar itu sangat ramai, kita harus berhati-hati dan memperhatikan sekeliling,” ucapnya dengan nada lembut tapi tegas.
Lian Yuexin mengangguk kecil, hatinya campur aduk antara rasa antusias dan penasaran. “Aku akan hati-hati, ayah.”
Wanita pemilik penginapan menengok dari dapur, tersenyum melihat gadis kecil yang begitu terpaku pada bintang-bintang. “Anak muda ini tampak sangat penasaran. Seperti ingin menelan dunia dengan matanya sendiri,” gumamnya pelan, kemudian kembali sibuk.
Tak lama setelah itu, Lian Yuexin berbaring di tempat tidurnya. Dengan senyum tipis di bibirnya, Lian Yuexin menutup mata, memutuskan untuk tidur sampai besok hari tiba.
Sinar matahari yang lembut menyapu kamar, membangunkan Lian Yuexin perlahan. Ia membuka matanya perlahan dan tersenyum.
Hari ini adalah hari terakhir perjalanan menuju kota Mingzhu. Ayahnya sudah berada di samping kereta, memeriksa tali dan roda agar tidak ada yang longgar.
“Xin‘er, sarapan dulu. Perjalanan kita masih cukup panjang,” ucap Lian Haoyu sambil menyerahkan mangkuk sup.
Lian Yuexin menyantap sarapannya dengan lahap, sambil sesekali menatap keluar.
Setelah sarapan, mereka melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak. Di sisi kanan dan kiri dipenuhi hutan lebat, suara burung berkicau dan angin menggerakkan dedaunan.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di sebuah sungai kecil. Airnya berkilau di bawah sinar matahari, Lian Yuexin berhenti sejenak menatap air itu.
“Apa kau senang melihat semua ini?” tanya ayahnya sambil tersenyum.
“Sangat, ayah. Semua ini begitu indah di mataku,” jawab Lian Yuexin, matanya berbinar penuh kekaguman.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga sore. Sepanjang jalan, Lian Yuexin tak berhenti menunjuk hal-hal yang menarik perhatiannya.
Menjelang senja, mereka hampir sampai di kota Mingzhu. Lian Yuexin duduk di samping ayahnya, menatap ke kejauhan. Kota Mingzhu terlihat ramai dari kejauhan, dengan bangunan-bangunan tinggi, banyak rumah makan, paviliun, atau toko pandai besi. Matanya berbinar, penuh dengan rasa tak sabar dan kagum.
“Ayah, lihat! Kota itu sangat besar... dan kelihatan sangat ramai!” serunya pelan, tapi penuh kegembiraan.
“Benar, Xin‘er. Kota Mingzhu memang kota besar. Banyak pedagang, banyak orang yang datang dari desa-desa lain.” jawab Lian Haoyu sambil menatap putrinya.
Kuda terus memacu kereta melewati jalan setapak yang lebih lebar, dan perlahan memasuki gerbang kota. Gerbang besar itu dihiasi dengan ukiran naga dan simbol-simbol kota Mingzhu. Para penjaga gerbang menatap mereka dengan tatapan curiga, namun melihat ayahnya yang membawa barang dagangan, mereka mengangguk singkat dan membiarkan mereka masuk.
Begitu masuk ke dalam kota, hiruk-pikuk segera menyergap. Pedagang berteriak menjual dagangan, kuda dan kereta lain bergerak di jalan utama.
Lian Yuexin menahan napas sejenak. “Ayah... kota ini... sungguh berbeda. Semua begitu ramai dan berwarna,” gumamnya pelan, matanya mengikuti setiap orang yang berlalu, pedagang yang menata dagangannya, dan anak-anak yang berlarian dengan suara riang.
Lian Haoyu menatap putirnya. “Ingat, Xin‘er, jangan terlalu jauh dari kereta. Kita akan mencari pasar yang sesuai untuk menjual ukiran dan hasil panen kita.”
Lian Yuexin mengangguk, dia melangkah perlahan di samping ayahnya, dia juga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Di kejauhan, mereka melihat sebuah pasar yang luas. Pedagang menata dagangan mereka. Beberapa orang menawar dengan suara keras, menimbulkan gelombang percakapan yang ramai. Lian Yuexin menatap ayahnya yang tersenyum tipis.
”Xin‘er, kita harus tetap hati-hati. Hari ini kau akan melihat bagaimana kota besar bekerja,” kata Lian Haoyu sambil menuntun kereta ke tengah keramaian.
Mereka berhenti di sebuah lapak kecil yang dijaga seorang pedagang tua. Lian Haoyu menurunkan beberapa ukiran kayu dan keranjang berisi kacang serta sayuran.
Pedagang tua itu menatap barang-barang mereka, mengangkat alis dan tersenyum. “Haoyu! Sudah lama kau tidak membawa dagangan ke sini,” sapanya ramah. “Ah, dan kau membawa putrimu yang cantik sekali!”
Lian Yuexin tersenyum malu-malu, menunduk sebentar. “Terima kasih, paman.”
Lian Yuexin mengamati, melihat seorang pedagang kain menawar dengan seorang pembeli yang tegas.
“Xin er, kalau kau ingin, setelah dagangan laku kita bisa berjalan sebentar di sekitar pasar,” kaya Lian Haoyu menatap putrinya. “Tapi tetap dekat dengan ayah, ya.”
Mata Lian Yuexin berbinar. ”Baik. Ayah! Aku ingin melihat semuanya dari dekat!”
Ayahnya hanya tersenyum melihat tingkah putrinya. Lian Yuexin terus memperhatikan setiap interaksi saat orang-orang mulai menawar harga ukiran dan sayuran mereka.
