Cherreads

Chapter 5 - BAB 5 — Hukuman Langit

Langit… tidak lagi diam.

Awan hitam berputar semakin cepat, membentuk pusaran raksasa yang menelan cahaya di atas kota Seoul. Kilatan petir menyambar tanpa pola, memecah langit dengan suara menggelegar yang membuat dada bergetar.

Udara dipenuhi tekanan.

Bukan sekadar energi.

Tapi… otoritas.

Di tengah jalan yang hancur, di antara reruntuhan mobil dan bangunan yang retak, Kang Tae Hyun berdiri tanpa bergerak.

Namun sesuatu di sekelilingnya telah berubah.

Petir.

Bukan lagi kilatan kecil.

Kini, aliran listrik halus menjalar di udara, berdesis pelan seperti bisikan makhluk hidup. Rambut Tae Hyun sedikit terangkat oleh energi yang mengelilinginya, sementara tanah di bawah kakinya perlahan retak, tidak mampu menahan tekanan yang tak terlihat.

Di belakangnya—

Bayangan itu semakin jelas.

Seekor naga.

Panjang. Agung. Terbuat dari cahaya petir yang berdenyut.

Tubuhnya melingkar di langit, samar namun nyata. Setiap gerakannya membuat awan berputar lebih cepat, setiap napasnya menghadirkan kilatan yang membelah langit.

Para Hunter yang masih sadar hanya bisa menatap.

Mata mereka melebar.

Tubuh mereka membeku.

"Itu… bukan skill…"

"Itu… bukan sihir…"

Suara mereka bergetar.

"Itu… makhluk…"

Di sisi lain—

Monster itu mundur.

Satu langkah.

Lalu satu lagi.

Instingnya berteriak.

Bahaya.

Namun tidak ada jalan mundur.

Ia meraung.

GRAAAAAAAAAAHHHH!!!

Energi merah meledak dari tubuhnya, membakar udara di sekitarnya. Retakan di tubuhnya semakin terbuka, memuntahkan cahaya merah seperti lava yang mengalir dari dalam.

Tanah di bawahnya hancur.

Aspal terangkat.

Udara bergetar hebat.

Monster itu menyerang.

Dengan seluruh kekuatannya.

Langkahnya menghancurkan bumi.

Tinju raksasanya menghantam udara—

Namun—

WHOOOM!!

Tae Hyun sudah tidak ada di sana.

Dia muncul di atas monster.

Untuk sesaat—

Waktu seperti melambat.

Angin berhenti.

Debu menggantung di udara.

Suara menghilang.

Hanya ada satu hal—

Petir.

Tae Hyun mengangkat tangannya.

Perlahan.

Petir berkumpul.

Bukan lagi percikan kecil.

Tapi arus yang padat.

Berat.

Mematikan.

Di langit—

Naga itu bergerak.

Kepalanya menunduk.

Matanya… terbuka.

Dan untuk pertama kalinya—

Dunia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Seolah langit itu sendiri…

Menghakimi.

Tae Hyun menatap monster di bawahnya.

Ekspresinya dingin.

Tanpa emosi.

"…ini berakhir di sini."

Tangannya turun.

KRRRRZZZZTTTTT—!!!

Petir menyambar.

Bukan satu.

Tapi puluhan.

Seluruh langit runtuh dalam kilatan cahaya.

BOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMM!!!!

Ledakan itu menelan segalanya.

Cahaya menyilaukan.

Suara menggelegar.

Gelombang kejut menyapu seluruh area, menghancurkan sisa-sisa bangunan, memecahkan kaca hingga radius ratusan meter.

Para Hunter terlempar.

Namun tidak ada yang bisa berpaling.

Mereka melihat.

Di pusat ledakan—

Tae Hyun berdiri.

Dan di depannya—

Monster itu.

Tubuhnya hangus.

Retakan memenuhi seluruh tubuhnya.

Energi merah yang sebelumnya mengalir kini melemah, seperti api yang kehabisan bahan bakar.

Namun—

Masih berdiri.

Masih hidup.

Untuk sesaat—

Sunyi.

Lalu—

Monster itu bergerak.

Perlahan.

Lemah.

Namun tetap mencoba menyerang.

Tangannya terangkat.

Menuju Tae Hyun.

Seolah menolak mati.

Tae Hyun menatapnya.

Tanpa bergerak.

"…keras kepala."

Dia melangkah maju.

Pelan.

Setiap langkahnya membuat tanah retak.

Petir masih berdesis di sekitarnya.

Dia berhenti tepat di depan monster.

Jarak mereka… hanya satu langkah.

Monster itu mencoba menyerang.

Namun—

Tae Hyun sudah bergerak lebih dulu.

Tangannya masuk ke dalam celah retakan di dada monster.

CRACK.

Tubuh monster itu membeku.

Matanya melebar.

Untuk pertama kalinya—

Ia benar-benar tidak bisa bergerak.

Tae Hyun merasakan sesuatu.

Di dalam tubuh makhluk itu—

Sebuah inti.

Padat.

Penuh energi.

Sumber kehidupannya.

Dia menggenggamnya.

Monster itu meraung.

Namun suara itu terputus.

CRRRRRRRRACK!!!

Tae Hyun menarik tangannya keluar.

Bersama—

Inti itu.

Bola energi merah berdenyut di tangannya.

Tubuh monster itu… berhenti.

Retakan menyebar ke seluruh tubuhnya.

Lalu—

HANCUR.

Tubuhnya pecah menjadi serpihan, berubah menjadi debu hitam yang terbawa angin.

Sunyi.

Langit perlahan tenang.

Awan mulai mereda.

Petir menghilang.

Naga itu…

Menghilang.

Seolah tidak pernah ada.

Tae Hyun berdiri diam.

Petir di sekitarnya padam.

Napasnya berat.

Tubuhnya terasa panas dari dalam.

Batas hampir terlewati.

Dia menatap tangannya.

Inti merah itu… masih berdenyut.

Namun perlahan—

Hancur.

Menjadi partikel cahaya.

Menghilang.

Tae Hyun menghela napas pelan.

Lalu—

Berbalik.

Para Hunter masih terpaku.

Tidak ada yang berani bicara.

Tidak ada yang berani mendekat.

Salah satu dari mereka berbisik—

"…apa dia…"

Yang lain menjawab dengan suara gemetar—

"…monster…?"

Tae Hyun hanya berjalan melewati mereka.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Langkahnya tenang.

Ekspresinya kembali santai.

Seperti mahasiswa biasa.

Namun—

Tidak ada yang melihatnya seperti itu lagi.

Di kejauhan—

Sirine mulai terdengar.

Tim bantuan datang.

Helikopter berputar di langit.

Namun semuanya sudah selesai.

Atau—

Begitu yang mereka pikirkan.

Di tempat lain.

Jauh dari kota.

Seorang pria berdiri di depan jendela.

Tatapannya mengarah ke langit.

Matanya menyipit.

"…akhirnya bergerak juga."

Di belakangnya—

Beberapa boneka berdiri diam.

Aura dingin memenuhi ruangan.

Dan di sisi lain kota—

Seorang pria tua tertawa pelan.

"Hahaha… jadi sudah sampai tahap itu…"

Matanya berbinar.

"…menarik."

Sementara itu—

Di sebuah rumah sederhana—

Seorang wanita menghentikan aktivitasnya.

Matanya sedikit melembut.

"…anak itu…"

Kembali ke jalanan.

Tae Hyun berhenti sejenak.

Menatap langit yang kini kembali tenang.

"…merepotkan."

Dia memasukkan tangannya ke saku.

Dan berjalan pergi.

Seolah semua yang terjadi…

Hanya gangguan kecil.

Namun di dunia yang dikuasai sistem—

Sesuatu baru saja terjadi.

Sesuatu yang tidak tercatat.

Tidak terdeteksi.

Dan tidak bisa dijelaskan.

Sebuah anomali.

Yang berdiri…

Di luar sistem.

~~~•

More Chapters