Udara di depan Istana Kekaisaran terasa berat.
Angin pagi yang biasanya tenang kini seperti ikut membawa ketegangan.
---
Di kejauhan, suara langkah pasukan terdengar mendekat.
Tepat seperti perintah Kaisar Zhou Chengqian.
Pengawal Kekaisaran bergerak.
---
Shen Lanxi berdiri di sisi aula.
Matanya tenang, namun pikirannya bekerja cepat.
---
Ini adalah momen yang ia tunggu.
Pertemuan langsung antara kaisar dan Pangeran Zhennan.
---
Tak lama kemudian…
Sosok Zhou Ruyuan muncul diiringi beberapa pengawal.
Wajahnya dingin, namun penuh ketidaksenangan.
---
"Yang Mulia memanggilku hanya karena urusan wanita?"
Suaranya tenang, tapi jelas mengandung penghinaan.
---
Kaisar tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap tajam.
"Ulangi perkataanmu."
---
Suasana langsung membeku.
---
Shen Lanxi menunduk sedikit, menyembunyikan ekspresinya.
Namun matanya tetap dingin.
---
Zhou Ruyuan melangkah maju.
"Yang Mulia, aku baru kembali dari medan perang."
"Apakah benar aku harus dipermalukan hanya karena seorang wanita?"
---
"Dia hanya istri yang tidak memahami posisinya."
---
Kalimat itu membuat udara semakin dingin.
---
Beberapa pejabat langsung menahan napas.
Ini sudah melewati batas.
---
Kaisar akhirnya berdiri.
Langkahnya pelan, tapi setiap langkah membawa tekanan besar.
---
"Zhou Ruyuan."
"Kau tahu di mana kau berada?"
---
Pangeran Zhennan tidak mundur.
"Di istana."
"Tapi bukan berarti aku harus tunduk pada semua tuduhan tidak masuk akal."
---
Shen Lanxi akhirnya mengangkat wajahnya.
Matanya langsung bertemu dengan Zhou Ruyuan.
---
Saat itu juga, suasana berubah.
---
"Tidak masuk akal?"
Suara Shen Lanxi pelan, tapi jelas.
---
"Apa benar semalam kau tidak berada di kamar selir?"
---
Zhou Ruyuan menyipitkan mata.
"Apa itu urusanmu?"
---
"Sejak kapan istri harus mengatur suami?"
---
Satu kalimat itu seperti pisau.
---
Shen Lanxi tidak tersentak.
Sebaliknya…
Ia tersenyum kecil.
---
"Ternyata benar."
"Pangeran Zhennan tidak pernah menganggap pernikahan ini ada."
---
Kaisar menatap keduanya dengan tajam.
"Cukup."
---
Suara itu menggema di aula.
---
"Zhou Ruyuan."
"Apakah kau mengakui atau menolak tuduhan ini?"
---
Pangeran Zhennan terdiam sesaat.
Lalu menjawab datar.
"Tidak ada yang perlu diakui."
---
"Kalau dia tidak puas, maka biarkan dia pergi."
---
Hening.
---
Shen Lanxi menutup matanya sebentar.
Bukan karena sakit hati.
Tapi karena… rencana sudah tepat sasaran.
---
Ia membuka mata kembali.
"Yang Mulia."
"Aku tetap meminta perceraian."
---
Kaisar menatapnya lama.
Lalu ke Zhou Ruyuan.
---
Akhirnya ia berkata pelan.
"Kalau begitu…"
"Kita akhiri ini hari ini juga."
---
Zhou Ruyuan menyipitkan mata.
"Perceraian?"
"Baik."
---
"Tapi jangan salahkan aku jika keluarga Shen jatuh lebih dalam."
---
Shen Lanxi menunduk.
Suaranya pelan tapi jelas.
---
"Kalau keluarga Shen jatuh…"
"Pastikan kau yang ikut jatuh bersamanya."
---
Untuk pertama kalinya…
Zhou Ruyuan menatapnya lebih lama.
---
Dan merasakan sesuatu yang tidak biasa.
---
Malam yang dulu ia anggap sepele…
Ternyata sudah berubah menjadi awal dari bencana yang lebih besar.
