Cherreads

Chapter 372 - Tawaran Seorang Ayah

Langit H2700 akhirnya benar-benar tenang.

Sisa-sisa embun es terakhir menguap dari udara, meninggalkan hanya cahaya kota dan suara sirene jauh yang mulai mereda. Warga yang tadi dievakuasi perlahan kembali, tak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.

Storm berdiri di atap gedung tertinggi distrik barat.

Armor, aura, pedang—semuanya telah hilang.

Ia kembali menjadi seorang pemuda biasa… setidaknya dari luar.

Napstylea dan Jester berdiri beberapa meter di belakangnya.

"Tuan Rem telah membuat Tetua APH turun langsung," gumam Napstylea pelan.

"Itu bukan pertanda kecil."

Jester menyeringai.

"Artinya ratingmu naik, Tuan Rem."

Storm tidak menanggapi.

Tatapannya kosong menatap kota.

Lalu—

Suara langkah sepatu formal terdengar dari belakang.

Tenang.

Mantap.

Tidak tergesa.

Ketiganya menoleh.

Seorang pria paruh baya berdiri di pintu akses atap gedung. Jas gelapnya rapi meski angin malam berhembus cukup kencang. Tatapannya tajam namun tidak memusuhi.

Napstylea sedikit terkejut.

"Dia…?"

Jester hanya memiringkan kepala, mengamati.

Robert berjalan mendekat hingga berdiri beberapa meter dari Storm.

Untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara.

"Apa kau terluka?" tanya Robert akhirnya.

Storm menggeleng pelan.

"Tidak serius."

Robert mengangguk tipis.

Ia tidak menanyakan tentang Domain yang hancur.

Tidak bertanya tentang APH.

Tidak mempertanyakan kekuatan Ice Emperor atau kehancuran dimensi.

Sebaliknya, ia berkata dengan nada tenang—

"Aku bisa membersihkan namamu."

Storm menoleh sedikit.

Robert melanjutkan.

"Di Aksrega United, aku masih memiliki pengaruh yang cukup. Jika kau mau, aku bisa berbicara dengan dewan pusat. Bahkan dengan beberapa Tetua APH."

Napstylea dan Jester saling pandang.

Robert menatap Storm lurus.

"Mereka menganggap entitas di dalam dirimu sebagai ancaman. Tapi ancaman bisa diklasifikasikan. Bisa diregulasi."

"Kau tidak perlu diburu."

Angin malam berdesir pelan.

Storm terdiam cukup lama.

Ia tahu maksud Robert.

Perlindungan politik.

Status resmi.

Pengawasan terkendali.

Tidak lagi dianggap entitas liar.

Robert menambahkan dengan suara lebih rendah—

"Sebulan lagi kau akan bertunangan dengan Arabels. Jika situasi ini terus berlanjut… hidupnya juga bisa terancam oleh keputusan politik."

Kata-kata itu tidak mengancam.

Hanya fakta.

Storm memejamkan mata sebentar.

Di dalam dirinya, Velora terdiam.

Grivver pun tidak bersuara.

Keheningan batin yang jarang terjadi.

Lalu Storm membuka matanya kembali.

"Terima kasih," katanya pelan.

Robert menunggu.

"Tapi tidak."

Jawaban itu tegas.

Robert tidak langsung bereaksi.

Storm melanjutkan.

"Kalau aku menerima bantuan itu… aku akan diawasi. Dibatasi. Diikat dengan peraturan."

"Dan saat entitas lain datang… mereka akan ragu untuk melepaskanku."

Jester menyeringai tipis.

"Tuan Rem tidak suka dikandang."

Storm menatap kota lagi.

"Kalau APH atau Aksrega menganggapku bahaya… biarkan mereka membuktikannya."

"Aku lebih memilih bertarung… daripada ditahan hanya karena sesuatu di dalam diriku."

Robert mengamati ekspresi Storm.

Tidak ada kesombongan.

Tidak ada amarah.

Hanya keputusan yang sudah matang.

"Kau sadar rupanya," ucap Robert perlahan,

"Semakin lama ini berjalan, semakin besar kekuatan yang akan turun untuk menangkapmu."

Storm mengangguk.

"Aku tahu."

"Dan kau tetap memilih jalan ini?"

"Ya."

Keheningan kembali menyelimuti atap gedung.

Akhirnya Robert menghela napas pelan.

"Baiklah."

Ia tidak memaksa.

Tidak marah.

Justru ada sedikit… rasa hormat di sorot matanya.

"Kalau begitu," lanjutnya,

"Aku tidak akan membersihkan namamu."

Napstylea sedikit tegang mendengar itu.

Namun Robert menambahkan—

"Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu diserang dari belakang."

Storm menoleh.

Robert menatapnya lurus.

"Selama kau tidak menyakiti dunia ini… aku tidak akan berdiri di pihak yang memburumu."

Angin malam berhembus.

Storm menundukkan kepala sedikit.

"Itu sudah cukup."

Robert berbalik perlahan menuju pintu atap.

Sebelum pergi, ia berhenti sebentar.

"Jangan mati sebelum pertunangan itu," katanya tanpa menoleh.

Lalu ia turun.

Pintu tertutup pelan.

Jester bersiul pelan.

"Calon mertua yang menarik."

Napstylea menatap Storm.

"Apa Tuan Rem yakin dengan keputusanmu?"

Storm menatap langit.

Retakan bekas Domain sudah hilang.

Namun ia tahu—

Banyak mata kini memperhatikannya.

"Kalau mereka ingin menguji apakah aku ancaman…" gumamnya pelan,

"Maka biarkan mereka datang."

Di dalam dirinya, kekuatan-kekuatan yang tidur kembali berdenyut pelan.

More Chapters