TOK TOK!
"Permisi ... se-lamat siang..." Ucap seorang wanita, bola matanya menghadap ke lantai sebuah apartemen, kepalanya menunduk seakan-akan di atas langit ada laut tanpa graviton.
Jakunnya bergerak ke bawah, kembali lagi ke atas ... tempat jakun itu berasal. Air ludah melumuri mulutnya.
Suara gesekannya terdengar.
TOK TOK
"Per-misi ... maaf..."
Pintu terdorong tanpa energi satu joule pun.
"Ada apa, Nak?"
Wanita jakun di depan pintu terdiam sejenak, pupil matanya menyusut layaknya cucian
"Eh ... Anu ... apakah ... H-h-h-anz..."
"Hmm ... ya?" Wanita di depan masih menghentakkan kakinya satu ... tidak dua ... eh ... ia masih melakukannya ... apakah ia masih ingin menyembunyikan bonekanya?
"Heh, anu..."
"Ohh, kau mencari pemilik lama kamar ini ya?"
"Heh ... i-ya bunda."
"Tapi maaf ... aku tidak tahu di mana lelaki itu berada ... tapi, tunggu dulu sebentar ya ... akan ku ambilkan sesuatu."
Wanita itu kembali, tangannya yang berlekuk-lekuk seperti ombak pantai menggenggam sebuah kulit pohon.
"Ini ya ... maaf ... aku sedang buru-buru ... semoga kamu ketemu sama gebetanmu ya!"
DOR!
Bulan itu berwarna merah, seperti pipi manusia.
Serpihan daging hijau kembali ke asalnya dengan kecepatan 201 cm/s. Wanita ... eh ... pria di hadapannya terpaku pada kulit manusia di hadapannya.
Satu persatu tangannya yang putih nan lembut ... menarik ... mendorong ... lembaran kulit manusia putih itu ... dengan lengannya.
"K-k-kertas ini..."
CPU memerintahkan sebuah lengan kehidupan ... lengan itu melepaskan energinya, meroket di antara para makhluk-makhluk virtual.
Sampai pada waktunya ... roket itu mendarat di atas planet merah penuh kristal ... yang dilapisi ... dua lapis ... atmosfer sutra biru.
Terdapat bekas darah murni di atas irisan kulit.
"Dari: Ibu—"
"Halo."
Di belakang wanita itu, terdapat manusia purba dengan bentuk paling aneh.
Wanita itu menyingkir dari hadapan si daging hijau.
"Eh ... jak–"
Manusia aneh itu menutupi mulutnya dengan sayap gosongnya.
"Hampir saja...
Ehmm ... anu ... maaf kak ... mau nyari teman sekelas kakak ya?"
"Ehmmm ... i-iya o-om."
Manusia purba itu termenung tanpa syarat.
"Aku ... apa yang seharusnya kulakukan ... di saat seperti ini? Mas Tully?"
Kenapa hujan bisa turun di dalam ruangan? Siapkan bejana! Oi, Zero...
"Anu, om?"
-
-
"Di mana aku?"
Seorang makhluk purba terbangun di sebuah kamar tua.
"Halo!"
Anak laki-laki itu berjalan ke arah pintu.
Sebuah pintu muda dengan kepala anak zebra berkulit penyu. Penyu yang berjalan dengan dua kaki, tetapi terkadang kami berjalan dengan cangkangnya.
Cangkang penyu itu terbuka.
Sebuah daratan asing, langit yang bergerak, atau laut yang tertidur.
Pria itu tersenyum, menutup mata, dan menurunkan pandangan.
Anak muda itu berjalan.
Menuju sebuah mimpi.
Mimpi yang menurutnya mustahil untuk diingat kembali.
Mimpi yang sulit untuk digapai.
Sebuah seragam antariksa yang telah koyak terkubur di bawah laut.
Pria itu sampai di tepi.
Ia hanya duduk, menunggu seragam kosmo itu berjalan menghampirinya.
-
-
"Ngantuk ah."
Pria muda itu tertidur. Menimpa ribuan rumput hijau yang baru terbangun dari tidurnya.
"Sazha! Sazha!"
Anak laki-laki itu menadahkan kedua telapak tangan berkerutnya sebagai bantal.
Matanya tertutup, cahaya langit di sana cukup terang.
Anak muda itu masih menunggu benda itu berjalan ke arahnya.
"Oi! Monyet!"
"Huh? Huh?"
Pria itu terbangun.
Rambutnya seperti bonsai yang belum pernah dicukur.
Mata layaknya panda yang sudah berumur.
Dan hatinya kotor bagaikan sumur.
"Kau? Mas Tully?"
"Kau? Sampah masyarakat?"
Tangan Sazha terlulur ke arah ikan bermulut panjang yang terdiam di atas permukaan air.
Telapak tangan dan mulut mereka saling menggenggam satu sama lain.
"Tunggu sebentar."
"Hmmm..."
"Ikan macam apa yang punya mulut sepanjang ini?"
"Oh iya, makhluk mana yang ingin membunuh spesiesnya sendiri?"
"Tunggu ... aku serius ... kau ini ... makhluk apa?"
"Eh."
Hanya ada satu bintang.
"Aku ingin menjadi—" ucap seorang anak laki-laki.
"Kau ingin menjadi segalanya di saat kecil."
Suara ini...
"Kak Sazha apa kau masih hidup?"
-
-
Monster itu terbangun.
Kini ia masih manusia.
"Apa bedanya dengan monster?"
Anak laki-laki itu masih bertanya.
"Monster punya hati?"
Sazha terpaksa menjawab.
"Kenapa? Bukannya hati itu dimiliki oleh setiap makhluk?"
"Eee—
Salah! Jawabannya ... mereka semua tidak punya hati."
"Owh aku mengerti, karena mereka punyanya ati bukan hati, kan?"
-
"Karena semua yang kau tanyakan ada di sini...
—Bukan ... di sini."
"Sini mana om? Aku kan gak bisa melihat."
"Maksudku di sini ... di bibir hitammu. Dan berhentilah membuang uangmu untuk membuat asap sehat."
"Ha? Om ini waras kan?"
"Kalau aku waras ... aku bakal ngomong sama diriku sendiri seperti ini."
"Jadi, apakah k—"
"—kau masih hidup Kak Sazha?"
"Te-tentu saja masih hidup ... aku akan terus hidup sampai— ia kembali."
"Aku ingin membuat sebuah cerita."
"Ini bukan suara Sazha."
"Sebuah cerita di mana kita bermimpi aneh."
"Sebuah cerita di mana aku dan mimpi bisa saling terhubung."
"Sebuah cerita di mana aku bisa hidup tenang di desa terpencil sambil baca koran tentang ultraman."
"Itu baru yang namanya sampah peradaban."
-
-
"Hans?"
Seorang wanita tua baru saja terbangun.
Di sana tercium aroma obat yang kuat.
"Hans? Nak? Tolong ambil air Ibu."
Wanita itu memanggil seorang anak.
Seorang anak yang pernah menjadi monster.
-
-
"Aku hidup?" ucap seorang mantan polisi.
Di hadapannya terdapat sebuah mesin.
Di layar terdapat sebuah huruf digital bertuliskan
"JACKPOT!!!"
Seluruh manusia buangan yang ada di tempat itu terkejut.
Mereka datang mengelilingi makhluk yang baru saja mengatakan kata keramat tersebut.
"Aku menang! Aku menang! Sial ... dalam hidup ini aku akhirnya menang! HAHAHA!"
"Kau ... kok bisa?"
"Bang ... ajarkan aku caranya!"
"Om ... ajarkan aku juga!"
"Ajarkan aku juga!"
"Saya juga!"
"Aku juga!"
"Nak! Tolong ajarkan om juga."
"Heh ... apa boleh buat kalian semua ini."
Pria kaya itu menutup mata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Para sampah harus saling mendorong satu sama lain ... Baiklah aku akan membuat kalian semua kaya mendadak!"
"Anu– aku hanya punya sepuluh juta ... masih kurang satu juta."
"Hah? Sejak kapan ilmu judi dihargai jutaan?"
"Eh ... tapi biasanya orang-orang harus membayar dahulu baru mendapatkan ilmu-nya?"
"Owh ... betul juga si sampah ini."
"Baiklah ... untuk setiap sampah atau monyet akan ku hargai ... dua juta ... akan kuubah kalian dari sampah masyarakat menjadi emas masyarakat!"
Pria muda itu tersenyum ramah.
"Ingat kalian semua! Di dunia ini tidak ada yang gratis! Bahkan untuk berjabat tangan dengan seseorang saja ... kita harus membayar!"
"Aku mau!"
"Aku juga."
"Aku ingin keluar dari hidup busuk ini!"
"Saya juga!"
"Aku juga mau!"
-
"Aku kembali, Hana!" ~ Zen
-
-
"Permisi..."
Dua orang pria berseragam abu memasuki sebuah ruangan.
Ruangan itu beraroma obat.
Terlihat seorang perawat juga bersama mereka.
"Permisi ... Ibu Hans. Ada yang ingin mereka bicarakan sebentar. Mohon untuk tetap tenang ya bu."
"Ya..."
Ibu Hans memandang ke tempat lain, ke arah langit.
"Jadi ... ehem ... anu— hmmm."
Seorang pria dengan bintang yang lebih sedikit memukul bokong pria yang bersamanya.
Pria itu pun melihat ke belakang.
"Bu ... anak ibu ditembak anggota kami."
Pria dengan bintang dua di bahu kanannya sudah tak tahan.
Wajah wanita di hadapan mereka mengerut sejenak.
"Yah ... tamat dong."
"Ee..."
"Anu ... bu, jadi di sini saya selaku pimpinan ... berse— bersedia ... bersedia...
Apa ya? Hehe."
Pria tua itu tersenyum ke arah bawahannya.
"Bos..."
Pria muda di sampingnya menutup mata menahan sebuah rasa.
"Kenapa? Kenapa? Dunia sekejam ini?" ucap polisi pemberani itu.
"Anu— bu ... jadi ... ANAK INI AKAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUANYA!"
"H-hah ... b-bos ... apa yang kau katakan—"
"Ya ... aku ingin kalian berdua mati," ucap wanita lansia itu.
"Ini kenapa jadi tegang begini lah ... cepetanlah aku mau kencan nih," ucap seorang wanita dengan masker putih.
-
-
"Aku ... mati?"
"Ya ... aku ingin kalian berdua mati."
"Hah..."
"Akhirnya aku bisa bertemu adikku..."
"Hei, Qono!"
Wajah pria bulat itu mulai berkeringat.
Pria muda di sampingnya hanya termenung, ia senyum-senyum sendiri sambil menatap plafon putih di hadapannya.
"Aku— ma-ti?"
"Mati ... mati ... mati..."
"Bos ... senang bisa bertemu denganmu."
Mereka berdua saling bertatap-tatapan, butiran garam menyerbukkan mata mereka.
"Baik ibu ... saya akan segera bertanggung jawab."
Mereka berdua perlahan keluar dari ruangan itu.
Pria muda berhenti sejenak sebelum benar-benar hilang.
Ia tersenyum ke arah wanita tua itu.
"Terima kasih, Bu!"
-
Kedua pria berseragam abu itu perlahan lenyap dari mata Ibu Hans.
Wanita lansia itu menghela napasnya dalam-dalam.
"Haahhhh..."
Ibu...
