Cherreads

Chapter 9 - Chapter 9 — Bukan Lagi Tempat yang Sama

Maya akhirnya nyari Rafi lagi.

Bukan karena iseng.

Bukan karena kebetulan.

Dia sengaja.

Sore itu kelas udah sepi. Anak-anak lain pada pulang. Rafi lagi duduk sendiri, nyender ke dinding, headset nempel di telinga. Tatapannya kosong, tapi bukan kosong yang rapuh. Lebih ke… tenang.

Tenang yang asing.

"Fi."

Rafi buka headset. "Iya?"

Nggak ada senyum refleks. Nggak ada sorot mata yang langsung hangat. Cuma biasa aja.

Dan itu lebih nyakitin daripada kalau dia marah.

"Kita bisa ngobrol bentar?"

Rafi angguk. "Ngomong aja."

Maya duduk di depan dia. Jaraknya nggak jauh. Tapi rasanya kayak jauh banget.

"Aku ngerasa kamu berubah."

Rafi hampir senyum, tapi nggak jadi.

"Harusnya aku dari dulu berubah."

Kalimat itu bikin dada Maya turun.

"Aku nggak pernah maksud buat nyakitin kamu."

"Aku tau." Suaranya pelan. "Kamu nggak pernah maksud apa-apa. Itu masalahnya."

Maya terdiam.

Rafi lanjut, "Aku selalu ada. Tapi kamu nganggepnya biasa. Kayak udara. Baru kerasa waktu nggak ada."

Maya nunduk. Tangannya dingin.

"Aku kira kamu bakal selalu ada," dia jujur.

"Iya. Dulu aku juga mikir gitu."

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya, Maya ngerasa dia yang lagi ngejar.

"Aku nggak nyaman liat kamu sama Nadira."

Akhirnya keluar juga.

Rafi nggak kaget. Dia cuma liat Maya lama.

"Kenapa?"

"Aku… nggak tau."

"Cemburu?"

Maya nggak jawab. Tapi matanya jawab.

Rafi tarik napas pelan. "May, kamu cemburu karena kehilangan… atau karena nggak mau aku bahagia sama orang lain?"

Itu pertanyaan yang kejam.

Dan Maya nggak siap.

Di sisi lain, Nadira bukan orang bodoh.

Dia bisa ngerasa perubahan kecil dari cara Rafi diem. Dari cara Rafi kadang ngelamun lebih lama.

Sore itu mereka duduk di taman depan sekolah.

"Kamu ketemu Maya tadi?" Nadira nanya.

Rafi kaget sedikit. "Iya."

Nadira senyum kecil. "Kelihatan dari muka kamu."

"Kenapa?"

"Kamu jadi mikir."

Rafi nggak bohong. "Dia bilang nggak nyaman liat aku sama kamu."

Nadira nggak langsung jawab. Dia cuma angkat bahu pelan. "Terus kamu gimana?"

"Aku nggak tau."

Itu jujur.

Karena sebagian dari dia masih sakit.

Sebagian lagi mulai tenang waktu ada Nadira.

"Aku nggak mau jadi pelarian kamu, Raf," Nadira bilang pelan.

Rafi langsung nengok.

"Aku suka kamu. Dari pertama lihat pun aku udah tau aku bakal suka. Tapi aku nggak mau menang cuma karena kamu capek nunggu orang lain."

Kalimat itu nggak keras. Tapi tegas.

Rafi ngerasa dadanya ditekan.

"Aku nggak nganggep kamu pelarian."

"Tapi kamu juga belum sepenuhnya selesai."

Rafi nggak bisa bantah.

Malamnya, Maya nangis.

Bukan nangis heboh.

Cuma air mata yang jatuh tanpa suara.

Dia baru sadar satu hal yang paling bikin sesak:

Rafi nggak lagi liat dia dengan cara yang sama.

Tatapan yang dulu penuh harap itu sekarang datar.

Bukan benci.

Bukan juga cinta.

Cuma… netral.

Dan netral itu lebih dingin dari penolakan.

Maya baru sadar dia kehilangan sesuatu yang nggak pernah dia jaga.

Beberapa hari kemudian, Rafi ambil keputusan kecil.

Dia ngajak Nadira nonton bareng.

Bukan rame-rame. Cuma mereka berdua.

Bukan buat pamer. Bukan buat bikin Maya cemburu.

Tapi karena dia pengen nyobain rasa yang baru.

Dan waktu Nadira ketawa di sampingnya di dalam bioskop yang gelap, Rafi ngerasa aneh.

Bukan deg-degan kayak waktu sama Maya.

Tapi… nyaman.

Tenang.

Nggak harus jadi lebih dari dirinya sendiri.

Besoknya, Maya liat foto itu di story.

Cuma potongan layar bioskop dan tulisan singkat dari Nadira:

"hari yang simpel tapi seneng."

Maya liat nama yang di-tag.

Rafi.

Tangannya gemetar sedikit.

Untuk pertama kalinya, dia ngerasa takut.

Bukan takut kehilangan perhatian.

Tapi takut kehilangan orangnya.

Dan yang lebih nyakitin…

Dia mulai sadar dia mungkin sayang.

Tapi waktu dia sadar…

Rafi udah mulai pindah.

More Chapters