Maya nggak bisa nahan lagi.
Beberapa hari dia cuma jadi penonton. Liat Rafi sama Nadira makin sering bareng. Liat cara Rafi mulai terbiasa ketawa tanpa beban.
Dan itu yang paling bikin sakit.
Karena dulu… senyum itu cuma muncul waktu bareng dia.
Sore itu, Maya nunggu Rafi di depan gerbang. Bukan kebetulan. Bukan lewat.
Nunggu.
Rafi keluar bareng Nadira. Lagi bahas sesuatu, ketawa kecil. Terus Rafi liat Maya.
Langkahnya berhenti.
Nadira sadar. "Aku duluan ya."
Rafi sempat mau nahan, tapi Nadira cuma senyum tipis. Dia ngerti.
Sekarang tinggal mereka berdua.
Dan rasanya berat.
"Kamu sengaja nunggu?" Rafi tanya.
"Iya."
Angin sore lewat pelan. Suasana nggak seramai biasanya.
Maya tarik napas dalam. "Aku nggak mau muter-muter lagi."
Rafi diam.
"Aku nggak nyaman liat kamu sama Nadira karena… aku suka kamu."
Akhirnya keluar.
Nggak dramatis. Nggak teriak. Tapi cukup buat bikin dunia Rafi kayak berhenti sebentar.
"Aku baru sadar waktu kamu nggak ada," Maya lanjut, suaranya mulai goyah. "Waktu kamu nggak lagi nunggu aku. Waktu kamu nggak lagi ada di samping aku. Aku kira itu biasa. Ternyata nggak."
Rafi nggak langsung jawab.
Karena bagian dari dirinya… masih nunggu kalimat itu dari dulu.
Dari lama banget.
"Kenapa baru sekarang, May?" suaranya pelan.
Maya nunduk. "Karena aku bodoh."
Jawaban yang jujur.
Dan itu bikin makin sakit.
Rafi tutup mata sebentar.
Kalau ini beberapa bulan lalu…
dia bakal seneng setengah mati.
Bakal langsung bilang iya tanpa mikir.
Tapi sekarang rasanya beda.
"Aku pernah nunggu kamu," katanya pelan. "Lama. Banget."
Maya angguk, air matanya jatuh.
"Tiap kamu cerita soal cowok lain, aku pura-pura kuat. Tiap kamu nggak balas perasaan aku, aku bilang ke diri sendiri mungkin besok kamu sadar."
Suara Rafi mulai berat.
"Tapi waktu kamu sadar… aku udah capek."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi rasanya kayak dihantam keras.
Maya maju satu langkah. "Kita bisa mulai lagi."
Rafi senyum tipis. Senyum yang bukan bahagia.
"Mulai lagi dari mana?"
Sunyi.
"Aku bukan orang yang sama lagi, May."
Itu bukan marah. Bukan dendam. Cuma fakta.
"Aku nggak mau kamu milih aku cuma karena takut kehilangan."
"Aku nggak—"
"Kamu cemburu waktu liat aku sama Nadira. Tapi sebelum itu? Kamu nggak pernah takut kehilangan aku."
Dan Maya nggak bisa bantah.
Karena itu benar.
Di kejauhan, Nadira berdiri sendirian di ujung trotoar. Nggak nguping. Nggak ikut campur.
Tapi dia tau.
Dia tau momen itu datang.
Dan dia juga tau… hasilnya bisa aja bikin dia kalah.
Tangannya dingin. Tapi dia nggak lari.
Karena kalau Rafi milih Maya, dia bakal mundur. Sesakit apa pun.
"Kamu masih suka aku?" Maya nanya lirih.
Rafi terdiam cukup lama.
"Perasaan nggak bisa mati secepat itu," jawabnya jujur. "Tapi bukan berarti dia masih sama."
Maya ngerasa dadanya runtuh.
"Sekarang aku lagi belajar milih diri aku sendiri," Rafi lanjut. "Dan Nadira… dia ada waktu aku lagi jatuh."
Itu bukan pengakuan cinta.
Tapi cukup buat bikin Maya ngerti.
Dia telat.
Beberapa langkah.
Dan jarak sekecil itu sekarang terasa nggak terjangkau.
Maya akhirnya mundur.
Nggak ada adegan lari. Nggak ada teriak.
Cuma air mata yang nggak berhenti.
"Oke," katanya pelan. "Aku ngerti."
Tapi jelas dia nggak bener-bener ngerti.
Karena kalau ngerti, nggak akan sesakit itu.
Rafi liat Maya pergi.
Dan bagian kecil di hatinya ikut nyeri.
Karena meskipun dia capek, meskipun dia pindah…
Maya tetap bagian dari ceritanya.
Tapi nggak semua yang jadi bagian dari cerita… harus jadi akhir.
Rafi jalan ke arah Nadira.
Nadira nggak tanya apa-apa.
"Maaf lama," Rafi bilang.
"Gapapa."
Beberapa detik mereka cuma saling liat.
"Aku nggak janji aku udah sembuh total," Rafi bilang pelan. "Tapi aku mau coba. Beneran."
Nadira nggak langsung senyum lebar. Dia cuma angguk kecil.
"Aku nggak butuh kamu sempurna. Aku cuma butuh kamu jujur."
Dan untuk pertama kalinya, Rafi ngerasa dia nggak lagi ngejar.
Dia milih.
Di sisi lain, Maya duduk sendirian di kamarnya.
Sekarang dia tau rasanya nunggu.
Sekarang dia tau rasanya berharap seseorang nengok.
Dan yang paling menyakitkan…
Sekarang dia ada di posisi yang dulu ditempati Rafi.
Bedanya, Rafi pernah bertahan.
Sedangkan dia… mungkin cuma bisa menyesal.
