Cherreads

Akulah Sang NPC

Kang_Wahid_4188
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
157
Views
Synopsis
Sinopsis Akulah Sang NPC Rama, pembunuh bayaran kelas satu, mati dikhianati. Kini ia terjebak dalam tubuh Li Daiwang—seorang figuran pengecut di novel Kebangkitan Sang Jendral. Satu misi: Tetap hidup sampai cerita tamat. Satu aturan: Jangan pernah terlibat. Tapi takdir berkata lain. Semakin ia berpura-pura lemah, semakin dalam ia terseret ke pusaran intrik istana. Pangeran yang haus kuasa. Jenderal yang difitnah. Dan para wanita bangsawan yang seharusnya bukan miliknya—kini mulai menoleh ke arahnya. Di dunia di mana alur cerita sudah tertulis... Mampukah seorang figuran mengubah akhirnya?
VIEW MORE

Chapter 1 - BAB 1 : Terjebak dalam Novel

Eps 1 : Kelahiran Kembali Sang Bayangan

Hujan deras mengguyur malam itu, membasahi aspal kota yang berkilauan seperti permata basah. Di balik tumpukan peti kemas di pelabuhan gelap, terdengar suara napas berat bercampur rasa sakit.

Rama, sosok yang dikenal dunia bawah tanah sebagai "Shadow of Evil"—saat ini sedang berbaring bersandar pada tumpukan karung.

Di dadanya, ada lubang peluru yang masih mengucurkan darah segar. Wajahnya yang dingin dan tajam kini dipenuhi ekspresi tak percaya. Di hadapannya berdiri sosok yang selama ini ia anggap saudara seperjuangan, orang yang ia percayai sepenuh hati.

"Maaf, Rama. Target kali ini terlalu mahal harganya. Dan kau... kau sudah terlalu hebat, membuatku merasa terancam," ujar teman itu dengan senyum sinis, diikuti suara langkah kaki yang menjauh meninggalkan Rama sekarat.

Rama mencengkeram dadanya erat-erat. 'Dikhianati... oleh orang yang paling kupercaya. Lucu sekali. Sepanjang hidupku aku memanipulasi kematian orang lain dengan membaca niat jahat dimatanya, tapi akhirnya aku mati karena tak mampu memahami niat busuk dalam mata seorang saudara'.

Pandangannya mulai kabur, suara hujan seolah menjauh, hingga akhirnya kegelapan total menyelimuti kesadarannya.

"Arghh!"

Rama tersentak bangkit, kakinya otomatis menendang ke belakang dan tubuhnya berguling menjauh dari posisi semula dalam satu gerakan cair dan terlatih. Udara yang ia hirup terasa berbeda—lebih tipis, berdebu, dan membawa aroma tanah basah bercampur dupa.

Dalam hitungan detik, matanya yang tajam mulai memindai seluruh ruangan dengan kecepatan dan ketelitian yang tidak wajar. Ini bukan lagi insting orang awam, ini adalah kebiasaan hidup mati yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Ruangan seluas 3x4 meter. Dinding tanah dengan ketebalan standar, tidak bisa ditembus peluru tapi cukup kuat untuk menahan benturan fisik. Di sudut kiri atas, ada lampu minyak yang menyala remang.

"Sumber cahaya tunggal. Ini menciptakan dua titik buta besar di sisi kanan dan belakang pintu. Sangat rawan untuk penyergapan," batinnya berputar cepat.

Matanya beralih ke atap.

"Langit-langit kayu berkualitas rendah. Papan-papan tua, sudah lapuk. Estimasi: butuh maksimal tiga tendangan keras untuk membuat lubang cukup besar untuk lewat. Jalur evakuasi alternatif pertama."

Kemudian pandangannya jatuh ke lantai dan struktur bangunan.

"Jendela di sebelah timur, jarak ke tanah di luar sekitar 3 meter. Tanah lembab, pendaratan aman. Tapi posisinya menghadap jalan utama. Risiko terlihat tinggi. Pintu utama di depanku, jarak 2,5 meter. Akses tercepat, tapi juga paling mungkin dijaga."

Bukannya kontainer pelabuhan, ia kini berada di sebuah ruangan kecil yang sederhana dengan dinding tanah dan lantai kayu yang sudah usang. Pakaian yang dikenakannya pun bukan jaket taktis hitam kebanggaannya, melainkan seragam katun berwarna abu-abu yang longgar dan terlihat murahan.

Dengan refleks seorang pembunuh ulung, Rama langsung meraba pinggang dan punggungnya mencari senjata, namun kosong melompong. Tubuhnya... terasa asing. Lebih kurus, lebih lemah, dan otot-ototnya tidak sekeras tubuh aslinya. Namun, insting tajamnya belum hilang. Ia langsung waspada, mengamati sekeliling mencari potensi bahaya.

"Apa ini? Di mana aku?" gumamnya pelan. Suaranya pun terdengar berbeda.

Saat ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum mati, tiba-tiba rasa pusing yang hebat menyerang kepalanya. Seolah ada ribuan informasi yang dipaksa masuk ke dalam otaknya. Gambar-gambar, nama-nama, dan alur cerita mengalir deras di benaknya.

Secara tiba-tiba, sebuah sampul buku yang sudah agak usang melayang di imajinasinya. Tulisan emas yang besar terpampang jelas di sana:

"KEBANGKITAN SANG JENDERAL"

Rama tertegun. Judul itu... dia ingat! Itu adalah novel sejarah berbalut intrik politik yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Novel yang ceritanya berpusat pada perebutan kekuasaan, di mana tokoh antagonisnya, Pangeran Murong Ze, sempat menguasai segalanya sebelum akhirnya dikalahkan oleh sang tokoh utama, Gu Changfeng.

"Tunggu... jadi aku sekarang ada di dalam cerita itu?" batinnya mulai gelisah namun tetap terkontrol.

Informasi tentang tubuh yang ia tempati pun bermunculan. Nama pemilik tubuh ini adalah Li Daiwang, seorang prajurit rendahan di Istana Kerajaan Dataran Timur. Sosok yang namanya hampir tidak pernah disebut dalam cerita asli kecuali sebagai latar belakang atau pengisi kerumunan. Sebuah NPC murni yang nasibnya bisa berakhir tragis kapan saja jika terseret konflik tokoh utama.

"Li Daiwang... prajurit rendahan? Hah, dari pembunuh bayaran kelas kakap turun pangkat jadi 'orang tak penting'?" Rama mencibir dalam hati, meski wajahnya tetap datar.

Ia bangkit berdiri, menatap bayangannya di sebuah baskom air kayu di sudut ruangan. Wajah di sana terlihat muda, polos, dan lembut, sangat bertolak belakang dengan wajah dingin dan bopeng bekas luka pertempuran yang biasa ia miliki.

"Tapi untunglah..." pikirnya lagi. "Kalau aku ini tokoh yang tidak penting, berarti aku tidak akan jadi sasaran pembunuhan kan? Selama aku tetap diam dan tidak menonjolkan diri, aku bisa bertahan hidup di dunia aneh ini."

Sebagai seseorang yang pernah mati karena dikhianati, prioritas utamanya sekarang jelas: Bertahan hidup.

Langit tiba-tiba bergemuruh.

Seketika, aliran hangat menjalar di sekujur tubuhnya, menyisakan pengetahuan mendetail tentang aturan kerajaan, hierarki jabatan, dan wajah-wajah tokoh penting dalam novel itu muncul di kepalanya. [Wawasan Dasar].

kepala nya kembali berdenyut kencang.

Rama menghela napas panjang, lalu mengepalkan tangannya. Tatapan matanya yang tadinya bingung perlahan berubah kembali menjadi tajam dan penuh perhitungan.

"Baiklah... Permainan baru dimulai. Mulai hari ini, aku bukan lagi Rama si pembunuh bayaran. Aku adalah Li Daiwang... seorang prajurit rendahan yang akan bertahan hidup, apa pun caranya."

Di luar jendela kecil kamarnya, terdengar suara lonceng malam dari arah istana, menandakan bahwa roda nasib di Kerajaan Dataran Timur terus berputar, dan sosok "tak penting" ini baru saja bangkit untuk mengubah alurnya.

****

Eps 2 : Topeng Sang Figuran

Kriiiek.

Suara pintu kayu yang berdecit memecah kesunyian.

Tubuh Rama menegang. Telapak tangannya otomatis terbuka, siap mencekik atau menangkis. Lututnya sedikit menekuk, bobot tubuh bergeser ke kaki belakang—posisi ideal untuk melesat maju atau menghindar ke samping.

Butuh satu detik penuh bagi otaknya untuk mengingatkan: Kau bukan Shadow of Evil lagi. Kau Li Daiwang. Prajurit. Rendahan. Lemah.

Ia memaksa bahunya turun. Melunakkan tatapannya. Menjadi tak berbahaya.

"Li Daiwang! Masih juga melamun di situ? Cepat bersiap! Sebentar lagi giliran kita jaga di Aula Utama. Jenderal Gu Changfeng baru saja kembali dari ekspedisi. Kau mau kepalamu digantung di tiang gerbang karena terlambat menyambutnya?!"

Wajah itu. Postur itu. [Wawasan Dasar] bekerja lebih cepat dari kesadarannya.

Zhang Hu. Sersan. Kasar. Bukan musuh.

Ancaman: Rendah. Tapi bisa menyulitkan kalau dicurigai.

Cukup. Untuk menghadapi orang seperti ini, informasi sebatas itu sudah lebih dari cukup.

Bahu turun. Kepala menunduk. Lutut rapat.

Dalam satu tarikan napas, postur pembunuh bayaran itu lenyap, digantikan sosok kikuk yang bahkan tak berani menatap mata atasannya.

"I-iya, Komandan Zhang." Suaranya bergetar, tipis. "S-saya segera siap. Maaf... tadi agak pusing."

KRAK.

Pintu tertutup. Langkah kaki menjauh.

Satu... dua... tiga.

Di hitungan ketiga, topeng itu rontok. Wajah ketakutan Li Daiwang menguap, menyisakan rahang yang mengeras dan mata yang kembali dingin seperti baja.

'Jika semua orang di istana ini semudah dia untuk dibaca... mungkin bertahan hidup tidak akan sesulit yang kukira.' Batinnya.

Lemari kayu kecil di sudut ruangan. Isinya menyedihkan—seragam cadangan yang sudah luntur di bagian siku, ikat pinggang kulit yang mengelupas, dan sepasang sepatu usang dengan sol yang hampir jebol.

Jadi begini standar hidup prajurit rendahan.

Ia mulai mengenakannya. Gerakannya cepat dan efisien—terbiasa memasang tactical gear dalam kondisi gelap dan waktu terbatas. Tapi kali ini ia sengaja memperlambat sedikit. Memastikan tidak ada gerakan yang terlalu luwes. Terlalu terlatih. Terlalu... mematikan.

Lambat. Kikuk. Seperti orang biasa yang baru bangun tidur.

Saat mengencangkan ikat pinggang, ia merasakan pinggangnya yang dulu berotot kini nyaris tanpa lemak maupun daging.

Tubuh ini butuh asupan. Otot tipis begini tidak akan selamat dari satu serangan pisau pun.

Ia melempar pandangan terakhir ke seluruh ruangan.

Keamanan: Nol.

Kunci: Tidak ada.

Privasi: Hampir tidak ada.

Kesimpulan: Jangan simpan apa pun yang penting di sini.

Tapi setidaknya... posisi ini menempatkannya di dekat pusat kekuasaan. Dekat dengan informasi. Dan yang terpenting: dekat dengan tokoh-tokoh yang harus ia hindari.

Ironis. Tempat paling berbahaya justru jadi tempat paling aman untuk bersembunyi.

Sebelum menyentuh gagang pintu, ia berhenti.

Menarik napas dalam. Mengembuskannya perlahan.

Di dalam dadanya, Shadow of Evil masih meraung ingin keluar. Ingin mengendus ancaman. Ingin bersiap membunuh.

Tapi di permukaan kulitnya, Li Daiwang harus tetap gemetar.

Satu tarikan napas untuk membunuh dirimu sendiri. Cukup.

Ia membuka pintu. Wajahnya kembali menjadi kanvas kosong seorang prajurit rendahan yang penakut.

"Oke." Suaranya nyaris tak terdengar. "Aula Utama. Pusat panggung. Tempat para aktor utama berkumpul."

Ia melangkah keluar.

Di kejauhan, Istana Kerajaan Dataran Timur menjulang megah diterpa cahaya fajar. Atap-atap emasnya berkilauan, menjanjikan kemuliaan bagi siapa pun yang berhasil menaklukkannya.

Tapi bagi Rama—yang kini hanyalah Li Daiwang sang figuran—istana itu bukan panggung untuk bersinar.

Itu adalah panggung untuk bertahan hidup.

Semoga hari ini Gu Changfeng sedang tidak ingin membantai prajurit rendahan hanya karena salah lihat.

Ia mengikuti langkah Zhang Hu menuju Aula Utama, menyembunyikan sepasang mata pembunuh di balik wajah seorang pengecut.

****

Eps 3 : Ujian Pertama di Aula Naga

Langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor istana. Dinding-dinding batu berukir naga dan burung phoenix menjulang di kiri-kanan, menjebak langkah siapa pun yang berjalan di antaranya dalam rasa kagum sekaligus takut.

Semakin mendekati Aula Utama, keramaian semakin terasa. Para pejabat tinggi berbaris rapi—jubah sutra berwarna-warni, topi bersayap, dan ikat pinggang giok yang berkilau di bawah cahaya lentera. Mereka adalah orang-orang yang menggerakkan Kerajaan Dataran Timur.

Dan di belakang mereka semua, berjalan seorang prajurit rendahan bernama Li Daiwang. Tak terlihat. Tak penting. Persis seperti yang ia inginkan.

Rama mengikuti di belakang Zhang Hu. Kepala menunduk dalam. Rambutnya yang acak-acakan sengaja ia biarkan menutupi sebagian wajah.

Tapi di balik helai rambut itu, matanya bekerja liar. Memindai. Mengenali. Menganalisis.

Pejabat Kementerian Ritus. Menteri Keuangan. Perdana Menteri Xiao Yuan.

Wajah-wajah itu berkelebat di benaknya, cocok dengan data dari [Wawasan Dasar].

Lalu ia memandang naik ke atas.

Pandangannya terhenti seketika.

Di atas singgasana setingkat lebih tinggi dari lantai aula, duduk seorang wanita dalam gaun naga hitam keemasan. Posturnya tegak sempurna. Wajahnya tenang, tapi matanya—sepasang mata itu bergerak lambat menyapu ruangan seperti elang yang mengawasi mangsanya dari ketinggian.

Wei Qingwan. Maharani Kerajaan Dataran Timur.

[Wawasan Dasar] memberinya informasi lengkap tentang wanita ini. Tapi tidak perlu data untuk tahu satu hal sederhana: wanita itu berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari pedang mana pun di ruangan ini.

Di sisinya, Kasim Hong Dehai berdiri dengan mata yang sama waspadanya. Dua pasang mata. Satu ancaman.

'Tokoh utama wanita. Cantik. Mematikan. Satu langkah salah, dan kepalaku akan menghiasi tiang gerbang sebelum matahari terbenam.'

Suara genderang besar bergemuruh. Bisik-bisik di ruangan mati seketika.

"JENDERAL GU CHANGFENG DAN PASUKANNYA TELAH TIBA!"

Pintu utama yang menjulang setinggi tiga orang itu terbuka lebar.

Sesosok pria jangkung melangkah masuk. Baju zirah peraknya masih berdebu—tanda ia baru saja turun dari medan perang. Aura kemenangan memancar dari setiap langkahnya. Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan tatapan matanya menusuk seperti ujung tombak.

Di pinggangnya, pedang besar tergantung dalam posisi setengah terhunus. Seolah ia baru saja menggunakannya, atau siap menggunakannya kapan saja.

Gu Changfeng. Tokoh utama. Pahlawan besar Dataran Timur.

'Dan orang yang paling harus kuhindari sepanjang cerita ini.'

Tapi saat melewati barisan prajurit rendahan, langkah Gu Changfeng tiba-tiba terhenti.

Matanya—sepasang mata elang yang telah melihat ribuan pertempuran—menatap tajam ke satu titik. Lebih tepatnya... ke lantai di belakang Rama.

"Berhenti."

Satu kata. Tidak keras. Tapi seluruh aula seketika membeku. Bahkan genderang yang tadi bergemuruh kini diam seribu bahasa.

Jantung Rama berdegup. Sekali. Dua kali. Terlalu cepat.

Tenang. Kendalikan napas.

Ia tidak berbalik. Tidak boleh berbalik. Prajurit rendahan yang penakut tidak akan berani menatap mata sang jenderal. Tapi telinganya menangkap suara itu—gesekan halus logam di atas lantai batu. Tepat di belakang tumitnya.

Apa itu?

Perlahan, sangat perlahan, ia menurunkan pandangannya tanpa menggerakkan kepala. Matanya melirik ke bawah, melewati bahunya sendiri.

Di sana. Tergeletak di atas lantai. Sebuah pisau lempar runcing dengan gagang berukir naga emas.

Benda itu tidak ada sedetik yang lalu.

'Jebakan. Atau... kelalaian yang hampir mustahil terjadi di istana seketat ini. Tidak peduli. Yang penting: benda itu ada di dekatku. Dan di dunia politik istana, berada di dekat barang bukti sama dengan mengaku bersalah.'

Zhang Hu di sampingnya menegang. Wajahnya yang tadi merah karena panas, kini berubah pucat. "S-siapa?!" suaranya bergetar. "Siapa di antara kalian yang—"

Tapi Gu Changfeng sudah melangkah maju. Langkahnya berat. Terukur. Setiap injakan sepatu perangnya menggema di lantai batu.

Ia berhenti tepat satu meter dari barisan prajurit rendahan. Matanya menyapu mereka satu per satu. Lalu berhenti di pisau itu.

"Pisau itu." Suaranya rendah, tapi setiap orang di aula mendengarnya. "Milikku. Hilang saat aku turun dari kuda tadi."

Ia mendongak. Tatapannya kini mengunci barisan prajurit di depannya.

"Jadi... siapa di antara kalian yang berani menyentuh milik Gu Changfeng?"

Seluruh pandangan tertuju pada barisan prajurit rendahan itu. Para pejabat. Para pengawal. Kasim Hong Dehai. Bahkan Maharani Wei Qingwan menyipitkan matanya dari atas singgasana.

Dan pisau itu... masih tergeletak tepat di belakang kaki Rama.

'Posisi terjepit.'

Keringat dingin menetes di pelipisnya. Tapi di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lama tertidur mulai bergerak. Bukan panik. Bukan takut.

Itu adalah ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah ratusan kali menghadapi kematian.

'Kalau aku diam, aku tersangka. Kalau aku bereaksi berlebihan, aku mencurigakan.'

Matanya melirik ke bawah sekali lagi. Ke pisau itu. Ke gagang berukir naga. Ke sudut kemiringannya di lantai.

'Tapi... sudut jatuhnya tidak masuk akal. Pisau seberat ini tidak mungkin jatuh dalam posisi itu kecuali... seseorang menjatuhkannya dari arah kananku. Bukan dari belakang.'

Dan dalam sekejap, ia tahu apa yang harus dilakukan.

Perlahan—sangat perlahan, seolah tubuhnya gemetar ketakutan—Rama mulai membungkuk. Tangannya terulur ke arah lantai.

Bukan untuk mengambil pisau itu.

Tapi untuk sesuatu yang lain.

'Ujian pertama. Jangan gagal.'

****

Eps 4 : Tatapan yang Mengetahui

Jemarinya gemetar—sengaja dibuat gemetar—saat ia membungkuk. Semua mata di ruangan itu mengikutinya. Menunggu.

Tangannya tidak menyentuh pisau itu.

Sebaliknya, jari-jarinya menjangkau ke samping, menyentuh sebutir kerikil kecil yang tergeletak di dekat tumit sepatunya. Mungkin terbawa angin dari halaman luar, atau jatuh dari sol sepatu seseorang. Tidak penting dari mana asalnya. Yang penting: benda itu ada di sana, dan ia bisa menggunakannya.

"K-khhm... ma... maaf, Tuan Besar..."

Suaranya keluar bergetar. Pecah. Seperti orang yang hampir menangis karena takut.

Ia menunduk semakin dalam. Dahinya nyaris menyentuh lutut. Posisi sempurna untuk menyembunyikan gerakan tangannya dari pandangan langsung Gu Changfeng.

Jemarinya yang bergetar—kali ini karena konsentrasi, bukan akting—melepaskan kerikil itu.

TING!

Suara kecil yang nyaris tak terdengar di aula seluas ini. Tapi cukup untuk membuat kerikil itu memantul sekali. Dua kali.

Dan pada pantulan kedua, ia menyenggol gagang pisau berukir naga itu.

Klik.

Pisau itu bergeser. Hanya sejengkal. Hanya beberapa derajat. Tapi cukup untuk mengubah sudut arahnya—dari yang semula menunjuk ke belakang Rama, kini menunjuk ke arah kanan.

Sempurna.

Rama membiarkan tubuhnya semakin gemetar. Menambahkan isak tangis kecil di tenggorokannya.

Bagi siapa pun yang melihatnya sekarang, ia hanyalah prajurit rendahan yang hampir mengompol karena ketakutan. Bukan seseorang yang baru saja mengubah arah investigasi dengan sebutir batu.

"Ma... maafkan saya! S-saya tadi tidak sengaja... menendang batu..." Rengeknya pelan. Suaranya pecah di ujung kalimat.

Air mata bahkan mulai menggenang di pelupuk matanya. Akting yang hampir terlalu sempurna.

'Bagus. Menangislah sedikit. Itu lebih meyakinkan.'

Di balik topeng ketakutan itu, pikirannya bekerja dengan kejernihan yang kontras.

'Sudutnya sudah berubah. Sekarang pisau itu menunjuk ke kanan. Bukan ke belakangku. Siapa pun yang melihatnya sekarang—entah itu Jenderal Gu atau Maharani—akan menyimpulkan bahwa benda itu datang dari barisan sebelah kanan.'

'Dan aku... hanyalah prajurit bodoh yang kebetulan berdiri di tempat yang salah.'

Gu Changfeng menyipitkan mata.

Ada sesuatu yang mengganggu instingnya. Posisi pisau itu... apakah tadi seperti itu? Ia tidak yakin. Terlalu banyak yang terjadi sekaligus. Terlalu banyak mata yang menunggu reaksinya.

Matanya beralih ke sosok prajurit yang gemetar di depannya. Wajah pucat pasi. Air mata di pelupuk mata. Tubuh yang bergetar seperti daun diterpa angin.

'Hanya prajurit bodoh yang ketakutan,' pikirnya. 'Bukan ancaman.'

"Angkat," perintahnya dingin.

Rama mendongak sedikit. "H-hah? S-saya?"

"Kau. Angkat pisau itu dan berikan padaku." Nada suara Gu Changfeng datar. Tidak bisa ditawar. "Atau kau ingin dituduh menyembunyikan barang bukti?"

'Sial.'

Di dalam hati, Rama mengumpat. Menyentuh pisau itu berarti meninggalkan jejak. Sidik jari. Serat kain. Apa pun. Jika nanti ada racun di gagangnya dan ia mati mendadak... atau jika pisau itu ternyata dicuri dan sidik jarinya ditemukan...

Tapi ia tidak punya pilihan. Menolak sama dengan mengaku bersalah.

'Tidak ada jalan lain. Ambil risikonya.'

Tangannya terulur. Gemetar—kali ini setengah akting, setengah sungguhan.

Pisau itu tajam. Berbahaya. Satu sentuhan salah, dan ia bisa melukai dirinya sendiri.

Jemarinya menyentuh gagang berukir naga itu.

Dan saat itulah ia melihatnya.

Sehelai benang. Merah tua. Tersangkut di sela-sela ukiran naga di pangkal gagang.

Benang sutra. Halus. Mengkilap di bawah cahaya lentera.

'Ini bukan benang dari kain prajurit rendahan.'

Matanya bergerak cepat tanpa menggerakkan kepala. Merekam. Menganalisis.

'Sutra merah tua. Kualitas tinggi. Hanya bangsawan atau pejabat tinggi yang memakai ini.'

'Dan dari arah pisau sekarang... orang itu berdiri di barisan kanan. Urutan ketiga dari ujung.'

Ia menyimpan informasi itu dalam-dalam. Bukan untuk digunakan sekarang. Tapi untuk nanti. Jika ia butuh kartu untuk dimainkan.

Dengan napas tertahan, Rama mengangkat pisau itu dengan kedua tangan. Posisi sempurna—gagang menghadap Gu Changfeng, mata pisau menjauh dari tubuhnya sendiri.

Dan tanpa sengaja... atau sangat sengaja... ia memiringkan gagang itu sedikit. Cukup untuk membuat benang merah di sana terlihat jelas di bawah cahaya lentera.

"Ini... milikmu, Tuan." Suaranya nyaris berbisik.

Gu Changfeng menyambar pisau itu. Gerakannya cepat, tegas, seperti segala hal lain yang ia lakukan.

Ia memeriksanya sekilas—dan berhenti.

Matanya menangkap benang merah itu. Kerut di dahinya semakin dalam. Ia memiringkan pisau, memastikan warnanya di bawah cahaya.

Lalu, perlahan, kepalanya menoleh ke kanan. Ke arah barisan prajurit yang kini berada di posisi yang ditunjuk oleh sudut pisau.

"Siapa yang berdiri di posisi itu?" tanya Gu Changfeng.

Zhang Hu buru-buru memeriksa daftar dan formasi barisan. "Itu... Li Wei, Jenderal. Urutan ketiga dari ujung."

Seorang prajurit melangkah maju. Wajahnya sudah sepucat mayat. "S-saya, Tuan!"

Gu Changfeng mendekat. Matanya menatap lengan baju Li Wei—dan di sana, di bagian dalam lengannya, terlihat jelas serat benang yang putus. Warna merah tua. Persis sama dengan yang tersangkut di pisau.

"Kau yang menjatuhkan pisau ini?" Suara Gu Changfeng rendah. Berbahaya.

"T-tidak! Demi langit, saya tidak tahu apa-apa!" Li Wei jatuh berlutut. "Saya hanya berdiri diam! Saya bahkan tidak menyadari ada benang yang putus!"

Rama mengamati dari belakang. Wajahnya masih penuh ketakutan palsu.

'Dia mungkin tidak bersalah,' pikirnya. 'Atau mungkin bersalah dan sedang berakting. Tidak penting. Yang penting: dia bukan aku.'

Rama diam di tempat. Tidak bergerak. Tidak bernapas terlalu keras.

'Selesai. Kecurigaan sudah pindah. Aku aman.'

Gu Changfeng mendengus. "Bawa dia untuk diperiksa lebih lanjut. Barang milikku tidak mungkin jatuh sendiri."

Dua pengawal maju dan menyeret Li Wei yang masih meronta dan memohon.

Lalu Gu Changfeng berbalik.

Dan menatap Rama.

Tatapan itu. Tuhan, tatapan itu.

Bulu kuduk Rama berdiri. Ini bukan tatapan seorang jenderal yang melihat prajurit rendahan. Ini tatapan seorang pemangsa yang mengamati sesuatu yang... menarik.

"Kau." Suara Gu Changfeng memecah keheningan. "Prajurit yang tadi mengambilkan pisau itu. Siapa namamu?"

'Sial. Kenapa dia menanyaiku? Apa ada yang salah?'

Jantung Rama berdegup. Sekali. Dua kali. Terlalu cepat.

'Tenang. Kendalikan. Ini hanya pertanyaan biasa.'

Ia menunduk lebih dalam. "Li Dai... Daiwang, Tuan."

Suaranya sengaja dibuat terputus-putus. Seperti orang yang gugup bukan karena menyembunyikan sesuatu, tapi karena tidak terbiasa diajak bicara oleh orang sepenting Gu Changfeng.

Gu Changfeng diam sejenak. Terlalu lama.

"Hm." Akhirnya ia mendengus. "Kau agak ceroboh. Tapi setidaknya tahu sopan santun."

Ia berbalik, tapi sebelum melangkah, ia menambahkan tanpa menoleh: "Jaga sikapmu, Li Daiwang."

'Dia menyebut namaku.'

Itu bukan hal baik. Orang seperti Gu Changfeng tidak mengingat nama prajurit rendahan kecuali... ada alasan.

Gu Changfeng berbalik dan melangkah menuju singgasana. Insiden kecil itu selesai. Setidaknya

Zhang Hu menghela napas panjang—seperti orang yang baru saja selamat dari hukuman mati. Sikunya menyenggol lengan Rama. Keras.

"Beruntung kau tidak kena masalah, dasar bodoh!" bisiknya. Tapi nada suaranya lebih lega daripada marah. "Awas kau lain kali! Jangan sampai bikin malu reguku!".

Rama mengangguk patuh. "I-iya, Komandan. Maaf..."

Zhang Hu mendengus dan berbalik, kembali mengatur barisan.Dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu dimulai, Rama mengembuskan napas panjang.

'Aman. Untuk sekarang.'

Tapi saat ia melirik ke arah singgasana, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berdesir.

Maharani Wei Qingwan tidak melihat ke arah Gu Changfeng yang sedang memberi hormat.

Ia melihat ke arahnya.

Hanya sekilas. Kemudian matanya beralih.

Tapi cukup. Cukup untuk membuat Rama tahu satu hal yang mengerikan:

'Maharani melihat semuanya. Gerakanku tadi... dia tahu.'

Jantungnya kembali berdegup kencang.

'Ini belum selesai. Ini baru permulaan.'

****

Eps 5 : Tali Takdir Sang Figuran

Suasana di Aula Utama perlahan kembali khidmat. Penghormatan dilanjutkan. Pejabat bergantian memberi salam pada Gu Changfeng. Maharani kembali duduk tegak di singgasananya.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi Rama tahu lebih baik. Tangannya masih sedikit gemetar—kali ini bukan akting, melainkan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya surut. Bayangan sepasang mata Maharani itu terus berputar di kepalanya. Tatapan yang melihat terlalu banyak. Terlalu tepat.

'Dia tahu. Atau setidaknya mencurigai sesuatu.'

Ia hanya menunduk diam di barisan. Membiarkan napasnya berhembus pelan. Menghitung dalam hati. Satu... dua... tiga...

'Tenang. Masih hidup. Itu yang penting.'

Giliran jaga usai.

Begitu kaki melangkah melewati gerbang istana, Rama merasakan perbedaan yang langsung. Udara di sini—panas, berdebu, bercampur bau keringat dan kuda—terasa seperti kebebasan. Bukan udara di dalam aula tadi. Udara yang terasa berat. Penuh racun tak kasat mata bernama intrik.

Matahari siang tepat di atas kepala. Menyengat kulit. Tapi Rama tidak peduli.

'Lebih baik terbakar matahari daripada terbakar tatapan Maharani.'

Zhang Hu berjalan di depan. Mulutnya masih menggerutu, tapi nada suaranya sudah turun beberapa oktaf dari sebelumnya.

"Beruntung sekali nasibmu hari ini, bocah bodoh." Ia melirik ke belakang sekilas. "Awas kalau besok-besok bikin ulah lagi. Tidak akan ada yang menolongmu. Aku sendiri yang akan menjewer telingamu sampai putus."

"I-iya, Komandan. Saya mengerti."

Rama menunduk. Suaranya takut-takut. Topeng keduanya sudah terpasang sempurna.

Tapi di dalam, pikirannya masih berputar pada satu hal: sepasang mata Maharani yang melihat terlalu banyak.

Asrama prajurit. Koridor sempit. Pintu kayu lapuk di ujung.

Rama melangkah masuk. Menutup pintu. Mengunci—meski kunci itu lebih berfungsi sebagai hiasan daripada pengaman.

Lalu... bahunya runtuh.

Bukan hanya bahu. Seluruh postur tubuhnya berubah. Dari sosok meringkuk penuh ketakutan, menjadi tegak namun lelah. Seperti aktor yang baru saja menyelesaikan pertunjukan terberat dalam hidupnya.

Ia bersandar di pintu. Menghembuskan napas panjang—napas yang rasanya sudah ia tahan sejak di Aula Utama tadi.

"Akhirnya... selamat juga."

Matanya menatap kosong ke jendela kayu yang setengah tertutup. Sinar matahari masuk melalui celah-celahnya, menciptakan garis-garis cahaya di lantai tanah.

Tiba-tiba—

Pandangannya mengabur. Ruangan sempit itu berputar. Tidak, bukan ruangannya yang berputar. Kesadarannya yang terhisap.

Rasa berat di kepala muncul lagi. Kali ini jauh lebih kuat. Seperti ada tangan raksasa yang mencengkeram batok kepalanya dan menariknya keluar dari tubuh.

Ia ingin bergerak. Tidak bisa. Ingin berteriak. Tidak ada suara.

'Apa ini—?!'

Dan kemudian... kegelapan.

Lalu... cahaya.

Rama mendapati dirinya berdiri... di atas awan

Tidak ada lagi kamar berdebu. Tidak ada lantai tanah. Hanya hamparan kabut putih tipis yang melayang di bawah kakinya, padat namun lembut seperti kapas raksasa. Di kejauhan, langit memancarkan cahaya keemasan lembut—bukan matahari, tapi sesuatu yang lebih... purba.

Dan di tengah hamparan itu, duduk sesosok kakek tua.

Jubahnya putih bersih, terbuat dari bahan yang tidak bisa dikenali Rama—bukan katun, bukan sutra, bukan apa pun yang pernah ia lihat. Rambut dan janggutnya panjang, seputih salju. Tapi matanya... matanya berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.

Ia tersenyum lebar. Terlalu lebar.

"Ha ha ha! Bagus! Bagus sekali!"

Suara itu menggelegar, bergema di seluruh penjuru alam aneh ini. Tapi anehnya, tidak terasa mengancam. Lebih seperti... kakek yang baru melihat cucunya memenangkan lomba lari.

"Aku sudah melihat ribuan figuran dalam ribuan cerita. Tapi tidak ada yang semenarik kamu! Seorang pembunuh bayaran yang berusaha mati-matian menjadi tidak terlihat? Ironis! Jenius! Aku suka!"

Ia menepuk-nepuk lututnya sendiri, tertawa kecil.

"Karena kau berhasil melewati bab pertama dengan sangat apik..."

Kakek itu mengulurkan tangannya. Keriput, tapi kokoh. Seperti pohon tua yang akarnya mencengkeram bumi selama seribu tahun.

Udara di hadapannya bergetar. Bukan bergetar karena panas—tapi bergetar karena sesuatu sedang dilahirkan ke dalam realitas ini.

Tiga kotak kecil muncul. Masing-masing sebesar telapak tangan. Melayang tanpa ditopang apa pun.

Yang pertama memancarkan cahaya keemasan—hangat, seperti janji kemuliaan.

Yang kedua keperakan—dingin, seperti bulan purnama di malam tak berawan.

Yang ketiga... ungu pekat. Misterius. Seperti langit tepat sebelum badai.

"Ambillah! Hadiah apresiasiku!" Kakek itu menunjuk ketiganya dengan mata berbinar.

Rama tidak bergerak.

Instingnya—yang sudah terasah oleh puluhan tahun hidup di bayang-bayang kematian—langsung menjerit. Jangan sentuh. Jangan percaya. Tidak ada hadiah gratis di dunia ini.

Ia menatap ketiga kotak itu. Lalu menatap kakek itu. Matanya menyipit.

"Apa ini?" Suaranya datar. Dingin. Bukan suara Li Daiwang yang penakut. Ini suara Shadow of Evil.

Kakek itu malah tersenyum lebih lebar. Lalu ia tertawa kecil. Bukan tertawa mengejek. Lebih seperti... geli.

"Curiga. Bagus. Berarti kau tidak bodoh." Ia menggelengkan kepala pelan. "Baiklah, biar kujelaskan dengan bahasa yang kaumengerti. Di duniamu dulu, ada yang namanya starter pack, bukan? Bundel paket pemula untuk pendatang baru?"

Ia menunjuk ketiga kotak itu.

"Ini versiku."

Lalu ia menatap Rama lebih dalam. Senyumnya melebar—dan di balik senyum itu, ada sesuatu yang lain. Kilatan jahil. Seperti kucing yang baru saja menangkap tikus dan akan memainkannya sebelum dimakan.

"Bagus. Sang pembunuh memang hebat. Lanjutkan aksimu itu." Suaranya turun setengah oktaf. "Aku sudah sangat bosan dengan karakter-karakter yang mudah ditebak. Kau... berbeda."

Tanpa menunggu jawaban Rama, ketiga kotak itu melayang mendekat dan terbuka sendiri di hadapan dada Rama.

Dari kotak pertama yang bercahaya emas dan kotak kedua yang bercahaya perak, cahayanya memancar masuk menembus tubuhnya. Seketika, aliran hangat menjalar dari kepala hingga ke ujung jari-jarinya, membawa dua jenis pengetahuan dan kemampuan baru yang tiba-tiba begitu saja mengakar di dalam otak dan tubuhnya.

1. [Pembaca Wajah] :

Sebuah kemampuan yang memungkinkannya menangkap ekspresi mikro—gerakan otot wajah sekecil apa pun yang tidak disadari orang lain. Kedipan mata yang terlalu cepat. Kedutan di sudut bibir. Perubahan warna wajah sedetik saja. Semuanya kini punya arti.

'Dengan ini... aku bisa membaca kebohongan sebelum orang itu selesai mengucapkannya.'

Ironis. Dulu ia mati karena tidak bisa membaca niat busuk di mata seorang saudara. Sekarang ia diberi kemampuan untuk membaca wajah siapa pun.

'Terlambat. Tapi tetap berguna.' Ia mengangguk pelan.

2. [Sentuhan Ringan]:

Kemampuan ujung jari yang menjadi jauh lebih sensitif dan presisi. Tekstur apa pun yang disentuhnya bisa terasa detail, dan gerakan tangannya menjadi sangat luwes serta ringan seolah tidak menyentuh apa-apa. Bagi orang biasa, ini cuma kemampuan jari yang "rajin" atau "teliti". Tapi bagi Rama yang dulunya ahli senjata dan penyusup, ini adalah dasar utama untuk mencuri kunci, memeriksa barang, atau bahkan mematikan seseorang tanpa suara.

Dan dari kotak ketiga—yang bercahaya ungu pekat—sebuah benda jatuh. Bukan cahaya yang masuk ke tubuhnya. Tapi benda nyata. Padat. Berat.

Ia mendarat ringan di telapak tangan kiri Rama.

Sebuah kalung. Liontin batu giok berbentuk tetesan air mata. Merah darah. Jernih. Memantulkan cahaya keemasan di sekitarnya menjadi kilauan merah yang menghipnotis.

Rantai emasnya halus tapi berat. Kualitas terbaik. Hanya layak untuk satu orang di seluruh Kerajaan Dataran Timur

[Wawasan Dasar] langsung memberinya nama benda ini sebelum ia sempat bertanya: Kalung Giok Darah. Pusaka Maharani Wei Qingwan. Selalu dikenakan di lehernya. Tidak pernah dilepas.

Rama mengerutkan kening. Ia membolak-balik kalung itu. Tidak ada sihir. Tidak ada racun. Hanya batu giok biasa. Sangat mahal, tapi biasa.

'Ini... kenapa diberikan padaku?'

'Aku laki-laki. Prajurit rendahan. Tidak bisa memakai. Tidak bisa menjual. Tidak bisa menggunakan.'

'Ini bukan hadiah. Ini bom waktu.'

Di alam antara sadar dan tidak, Kakek Tua itu tersenyum. Kali ini bukan senyum ramah. Tapi senyum licik. Senyum seorang dalang yang baru saja memasang tali pada wayangnya.

Bisikannya menyelinap ke telinga Rama. Lembut. Tapi jelas.

Suara itu menghilang sejenak. Lalu kembali dengan nada riang yang mengerikan:

"Gunakan dengan bijak, Nak. Sampai jumpa di bab selanjutnya..."

Suara itu menjauh. Pemandangan kabut dan langit keemasan berputar. Menghisap dirinya kembali kekenyataan—

HAH—

Rama tersentak. Punggungnya masih menempel di pintu kamar. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ruangan itu masih sama. Sempit. Berdebu. Bau tanah dan kayu lapuk.

'Mimpi? Atau—'

Ia menengadahkan tangan kirinya.

Dan di sana... berkilauan di bawah cahaya remang... kalung giok merah itu. Nyata. Padat. Berat.

'...Bukan mimpi.'

Rama tertegun.

Matanya berkedip. Otaknya mencoba memproses. Tapi tangannya sudah bergerak lebih cepat dari pikirannya. Menyembunyikan kalung itu di balik pakaiannya. Merasakan batu giok dingin itu menempel di kulit dada. Tepat di atas jantungnya.

'Terasa seperti es. Atau seperti mata pisau yang belum ditusukkan.'

'Bundel Paket Pemula... Tantangan Tambahan... Hadiah Ganda...'

Rama mencerna kata-kata itu. Lalu tersenyum—bukan senyum bahagia, tapi senyum kecut seorang yang baru menyadari ia telah masuk perangkap sambil diberi hadiah.

'Dua alat mematikan... dan satu barang bukti kejahatan.'

'Si Kakek Dewa ini. Sadis. Tapi murah hati.'

Ia berjalan menuju baskom air di sudut ruangan. Menatap bayangannya sendiri.

Wajah yang sama seperti tadi pagi. Tapi tatapan di matanya... sudah berubah. Lebih tajam. Lebih waspada. Lebih... hidup.

'Maharani melihat gerakanku tadi. Dan sekarang aku menyimpan kalungnya.'

Ia menyentuh dadanya, merasakan batu giok dingin di balik pakaian.

'Hebat, Rama. Baru hari pertama, dan kau sudah memegang nyawamu sendiri di ujung pedang.'

Ia menghela napas. Lalu tersenyum lagi. Kali ini... senyum seorang pembunuh yang menerima tantangan.

'Tapi kalau ini permainan... baiklah.'

'Akan kupastikan aku yang jadi pemenangnya.'

Hari pertama sebagai Li Daiwang telah berlalu.

Pertarungan sesungguhnya... baru saja dimulai.

*****