Cherreads

Chapter 12 - BAB 12 - Malam Sebelum Aksi

Malam sebelum masuk tower, hanok keluarga Baek lebih sunyi dari biasanya.

Bukan sunyi yang tidak nyaman — lebih seperti sunyi yang terjadi ketika semua orang dalam satu atap sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan dan yang tersisa hanya kebersamaan yang tidak perlu kata-kata.

Soo-yeon memasak lebih banyak dari biasanya.

Ini bukan kebetulan. Ini cara ibunya mengatakan sesuatu — cara yang sudah Hyun-woo pelajari sejak ia cukup besar untuk menyadari bahwa ada bahasa yang tidak menggunakan kata-kata tapi tidak kurang jelas dari bahasa apapun yang menggunakan.

Cheon-oh makan dengan semangat yang sama seperti setiap malam. Tapi ia tidak bercerita tentang pertempuran-pertempuran lamanya seperti yang biasanya ia lakukan saat makan malam. Ia hanya makan, sesekali menatap Hyun-woo dengan ekspresi yang tidak ada namanya, dan kembali ke makanannya.

Jin-seo makan dengan kecepatan yang sedikit lebih lambat dari biasanya.

Detail kecil. Tidak ada yang akan menyadarinya kecuali seseorang yang sudah mengenal Baek Jin-seo selama dua puluh tahun.

Setelah makan, Hyun-woo duduk di beranda dengan secangkir teh yang ibunya siapkan tanpa diminta. Lampu-lampu Seoul berpendar di cakrawala, terlalu jauh untuk terlihat satu per satu tapi cukup dekat untuk membuat langit di atas kota tidak pernah benar-benar gelap.

Kakeknya duduk di sebelahnya.

Tidak langsung. Cheon-oh berdiri di beranda selama beberapa menit, menatap arah yang sama seperti Hyun-woo, lalu dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk ukurannya — duduk.

"Pertama kali kamu masuk tower," kata Cheon-oh akhirnya, "aku tahu."

"Aku tahu Kakek tahu."

"Bukan itu maksudku." Cheon-oh diam sebentar. "Maksudku — pertama kali aku tahu kamu akan masuk tower suatu hari. Bukan malam itu. Sudah lama sebelumnya."

Hyun-woo menatap cangkir tehnya.

"Kapan?"

"Waktu kamu berusia dua belas tahun. Kamu minta aku menunjukkan cara membaca aliran energi dari jarak jauh — bukan untuk pertempuran, untuk navigasi. Kultivator yang belajar navigasi energi di usia dua belas bukan kultivator yang berencana tinggal di dalam tembok."

"Aku hanya ingin tahu caranya."

"Kamu selalu 'hanya ingin tahu caranya' sebelum akhirnya menggunakannya." Cheon-oh tertawa pelan — bukan tawa kerasnya yang biasa, tapi sesuatu yang lebih kecil dan lebih jujur. "Kamu mirip ibumu dalam hal itu. Belajar dulu, tanya izin belakangan."

"Ibu tidak pernah tanya izin."

"Tepat."

Mereka diam beberapa saat. Dari dalam rumah, terdengar suara Soo-yeon mencuci piring dan Jin-seo yang membaca sesuatu — kertas yang dibalik dengan gerakan terlalu teratur untuk buku fiksi.

"Kakek pernah masuk dimensi lain?" tanya Hyun-woo.

Cheon-oh tidak langsung menjawab. Respons tertundanya sendiri sudah merupakan jawaban dari satu jenis.

"Dua kali," katanya akhirnya. "Sebelum kamu lahir. Sebelum ayahmu lahir, bahkan. Situasi yang tidak ada hubungannya dengan tower — beda konteks, beda era."

"Dan?"

"Dan aku kembali." Nada yang terlalu datar untuk jadi satu-satunya isi cerita itu. "Tapi sesuatu yang ada di sana — dari dimensi yang berbeda, dengan logika yang berbeda — selalu merasakan hal yang sama tentang kita."

"Hal apa?"

Cheon-oh menatap langit Seoul yang tidak pernah gelap.

"Bahwa kita berbeda," katanya. "Bukan Awakened yang punya sistem. Bukan manusia biasa. Sesuatu yang mereka kenali tapi tidak bisa mereka kategorikan. Dan sesuatu yang tidak bisa dikategorikan — selalu menarik perhatian yang tidak kamu inginkan."

Hyun-woo menyerap ini.

"Itu yang terjadi di lantai empat belas."

"Kemungkinan besar."

"Berarti masuk lagi akan memancing perhatian yang lebih besar."

"Kemungkinan besar," ulang Cheon-oh. "Yang berarti kamu harus siap untuk dua kemungkinan: ia hanya mengamati, atau ia memutuskan untuk menguji."

"Kalau menguji?"

Cheon-oh akhirnya berpaling dari langit dan menatap Hyun-woo langsung — dengan mata yang sudah melihat berabad-abad dan masih belum kehabisan hal yang perlu dilihat.

"Kalau menguji, jangan sembunyikan matamu," katanya. "Soulform-mu sudah bereaksi sekali. Kalau ada putaran kedua, biarkan ia tahu dengan siapa ia berhadapan."

"Itu berlawanan dengan prinsip penyembunyian yang sudah—"

"Aku tahu apa yang berlawanan dengan prinsip apa," potong Cheon-oh, tapi tanpa tepi. "Tapi ada situasi di mana menyembunyikan kekuatan bukan kebijaksanaan — itu ketakutan. Dan aku tidak membesarkan cucuku untuk takut."

Hyun-woo tidak menjawab.

Bukan karena tidak setuju. Tapi karena ada kebenaran dalam kata-kata itu yang perlu sedikit ruang sebelum bisa sepenuhnya ia terima.

Cheon-oh berdiri. Menepuk bahu Hyun-woo dengan tangan yang bisa meratakan bangunan — tapi dengan tekanan yang terukur, yang terasa seperti jangkar, bukan pukulan.

"Tidur," katanya. "Besok lusa kamu masuk tower. Malam ini sisanya milikmu."

Ia masuk ke dalam.

Hyun-woo tetap di beranda, menatap langit Seoul yang tidak pernah gelap, memegang cangkir teh yang sudah dingin.

Di suatu tempat di distrik Mapo, Tower B-7 berdiri dalam kegelapan.

Dan sesuatu di lantai empat belas sudah tahu ia akan kembali.

Bersambung.....

More Chapters